Wednesday, 28 August 2013

Bila Anak Terlalu Lengket

Mama, Aku Nggak Mau Ditinggal!

Tanya: Putri saya Keisha selalu menangis setiap pulang sekolah ketika saya tidak berada di rumah. Begitu pula kalau Keisha bangun tidur, saya tidak ada di sebelahnya. Pokoknya Keisha tidak bisa kalau tidak ada saya. Tentu hal ini merepotkan saya, padahal saya musti bekerja. Kadang saya musti keluar kota urusan pekerjaan. Bagaimana mengatasinya? Terima kasih. Tania-Pulomas

Jawab: Faktor Penyebab
1. Kelekatan berlebih anak terhadap orangtuanya. Anak hanya dekat dengan orangtuanya saja, tapi jarang merasakan interaksi dengan orang lain. Sehingga, ketika tidak ada orangtuanya, dia merasa tidak aman dan takut. Karena itu, orangtua musti sadar bahwa sikap orangtua yang terlampau melindungi atau mengarahkan perilau anak membuat buah hati cenderung ragu untuk berinisiatif dan takut jika tindakannya salah.
2. Pengalaman dibohongi orangtuanya. Mungkin sebelumnya orangtua pernah meninggalkan si kecil. Alhasil, anak merasa ditinggalkan orangtuanya diam-diam. Tindakan ini menyebabkan anak dibohongi dan dia pun lebih berjaga-jaga karena merasa takut ditinggalkan orangtuanya.

Kuncinya, Beri Penjelasan!
• Usahakan setiap kali hendak bepergian sampaikan kepada anak, Moms akan pergi ke mana, berapa lama dan mengapa, sehingga dia merasa tidak terabaikan. Misalnya, Mama pergi ke kantor dulu ya Nak. Nanti, Mama pulang pukul lima sore.
• Upayakan Moms melakukan komunikasi, menelepon, umpamanya. Carilah waktu yang tepat, misalnya saat anak pulang dari sekolah agar dia tidak menangis ketika tiba di rumah. Atau bila ada pengasuh yang mendampingi si kecil, Moms bisa memberikan kontak orangtua yang bisa dihubungi, sehingga anak bisa kapan saja menghubungi orangtuanya.
• Bila si kecil bersama pengasuhnya atau orang terdekatnya, Moms musti menyampaikan hal-hal yang harus dilakukan ketika anak menangis. Beritahu pula bagaimana cara mengalihkan perhatian anak saat ia menangis sepulang sekolah, seperti mengajak anak menonton film kesukaannya atau bermain.

Tip Agar Anak Bisa Ditinggal
• Tanamkan sikap berani dan kenyamanan kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Bisa diajarkan lewat sosialisasi bersama teman sebaya, lingkungan baru atau aktivitas baru.
• Biasakan anak memiliki pola tidur yang konsisten, seperti bangun pagi, jam tidur siang dan malam yang teratur. Upaya ini adalah trik menghindarkan tangisan anak karena terbangun dalam kondisi sendirian.
• Jangan lupa memberi penguatan berupa pujian bila anak terbangun atau pulang ke rumah tanpa menangis, sehingga dia tahu jika dirinya berhasil menampilkan perilaku yang diharapkan.
• Jika si kecil masih tidur bersama orangtua, biasakan secara perlahan agar dia belajar tidur sendiri atau ditemani bersama orang lain, pengasuh, misalnya.
• Hindari sikap orangtua yang terlalu melindungi atau memanjakan anak, apalagi bila hal itu adalah kompensasi kurangnya waktu bersama anak karena orangtua bekerja. Sebenarnya, melindungi atau memanjakan itu adalah hal yang baik, sebaliknya jika berlebih tidak bisa menumbuhkan kemandirian anak.
• Perhatikan dengan seksama bagaimana interaksi anak dengan pengasuhnya untuk mendapatkan gambaran mengenai kelebihan atau kekurangan dari hubungan yang terjalin antara anak dengan pengasuh. Usahakan agar anak ditemani oleh orang yang bisa membuatnya merasa nyaman selama orangtua berada di tempat kerja. Dengan demikian, anak dapat merasakan bahwa ada orang lain, selain orangtuanya yang bisa menemaninya untuk bermain dan melakukan aktivitas lainnya di rumah.

Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, LMFT, MA, Ph.D – Marriage & Family Therapist
Untuk penjadwalan konsultasi, hubungi Hita di 0878-8170-5466 atau pin BB: 259DDE69.

Thursday, 21 February 2013

Memahami Autisme - Bagian 8

Memahami Autisme
Berbagai Terapi Bagi Penyandang Autis
Bagian 8
 Bukan Untuk Menyembuhkan, Tapi Untuk Mengontrol Gejala


Terapi Perilaku
Terapi perilaku yang dikenal adalah ABA (Applied Behavioral Analysis) yang diciptakan oleh O. Ivar Lovaas PhD dari University of California Los Angles (UCLA). Sering disebut sebagai terapi Lovaas.
Terapi ini berupaya untuk melakukan perubahan pada anak autistik dalam arti perilaku yang berlebihan dikurangi dan perilaku yang berkekurangan (belum ada) ditambahkan.
Dalam terapi ini, anak biasanya dilatih 5x8 jam dalam seminggu dan diajarkan secara one on one. Anak diajarkan perintah sederhana seperti duduk, melihat mata, berdiri, dst. Diharapkan dengan mengikuti terapi ini anak mampu memahami perintah dan patuh terhadap perintah.
Sekarang ABA telah mengalami modifikasi dari sistem terapi yang kaku dan keras menjadi lebih fleksibel. Tujuannya agar anak menjadi nyaman dan tidak malah menjadi 'robot'.
Fokus penanganan terletak pada pemberian reinforcement (penguatan) positif atau reward setiap kali anak berespons benar sesuai instruksi yang diberikan. Tidak ada hukuman (punishment), tetapi bila anak berespons negatif (salah/tidak tepat) atau tidak berespons sama sekali maka ia tidak mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai tersebut. Dengan begitu, diharapkan anak meningkatkan kemungkinan anak untuk berespons positif dan mengurangi kemungkinan ia berespons negatif (atau tidak berespons) terhadap instruksi yang diberikan.

Terapi Okupasi
Biasanya, motorik halus pada anak-anak autis tidak baik, lemah dan tidak terampil, gerak-geriknya kaku dan kasar. Karena itu perlu distimulasi melalui terapi okupasi untuk melatih keterampilan motorik halusnya dengan benar. Umumnya yang dilatih berhubungan dengan tangan dan jari-jari seperti: menjentik, menggenggam, memegang pensil, menjumput, menempel, menggunting, dll.

Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam berbicara dan berbahasa. Anak-anak tersebut biasanya mengalami keterlambatan bicara atau bahkan sama sekali tidak mau berbicara. Oleh karena itu, terapi wicara diperlukan untuk melatih otot-otot mulut anak agar bisa berbicara dengan baik.
Hal yang perlu diperhatikan orangtua sebelum mengikutkan anak dalam terapi wicara adalah setidaknya anak sudah mulai mau berusaha mengeluarkan suara atau meniru kata-kata yang diucapkan orang lain.

Terapi Sensori Integrasi (SI)
Merangsang pengorganisasian informasi melalui sensori-sensori (sentuhan, gerakan, kesadaran tubuh dan gravitasi keseimbangan/penciuman, pengecapan dan pendengaran). Tujuan terapi ini anak mampu memroses berbagai informasi sensorik yang kompleks dengan lebih baik.
Misalnya anak sangat sensitif terhadap sinar, maka dalam terapi ini anak dibiasakan dengan cahaya, anak diperkenalkan dengan tempat terang dan gelap. Contohnya menggunakan lampu disko dengan maksud melatih anak untuk beradapatasi dengan cahaya.
Umumnya anak autis tidak suka dengan sentuhan lembut, misalnya dipeluk atau dielus kepalanya akan menolak. Untuk itu anak bisa dilatih beradaptasi dengan menyikat tubuh anak dengan sikat halus.
Terapi Diet CFGF (Casein Free – Gluten Free)
Anak-anak autis biasanya memiliki daya tahan tubuh yang kurang baik. Menurut para pakar ditemukan banyak gangguan metabolisme pada tubuh anak autis. Hal ini bisa disebabkan oleh infeksi virus, jamur atau bakteri, terutama dalam usus. Adanya gangguan pencernaan yang menyebabkan berbagai macam alergi makanan, keracunan logam berat, seperti timbal, air raksa, dan arsenik. Akibatnya, terjadi gangguan kekebalan tubuh (imunodefisiensi) sehingga anak sering sakit.
Juga diakibatkan banyaknya exorphin (casomorphin dan gliadorphin) yaitu protein yang berasal dari casein (susu sapi) dan gluten (protein gandum) yang tidak dapat dicerna anak. Sehingga memberikan efek seperti morphin. Fungsi otak yang dipengaruhi morphin adalah bidang perilaku, perhatian, kecerdasan dan emosi.
Karena itu, diberlakukan pola makan atau diet makanan untuk anak autis dan hiperaktif yang dikenal dengan Gluten Free Casein Free (GFCF). Jadi, anak diet susu sapi dan protein gandum, misalnya roti, mi, sereal dan biskuit.
Kalau begitu, tidak semua anak-anak autis perlu diet. Dilihat dari respon anak terhadap makanan tertentu. Umumnya sekitar 70-80% anak-anak autis perlu diet CFGF, sedangkan sisanya 20-30% diet tidak berpengaruh sama sekali.
Cara mudah dan murah untuk melihat apakah anak autis perlu diet atau tidak adalah dengan mencoba melakukan diet CFGF terlebih dahulu. Lakukan diet sekitar 4 bulan dan dilihat apakah ada perubahan pada anak. Hal ini perlu waktu, observasi dan kesabaran.
Jika setelah melakukan diet CFGF anak menjadi lebih mudah tidur, hiperaktifnya berkurang, menjadi lebih mudah patuh, maka ada perubahan perilaku pada anak tersebut. Setelah 4 bulan, anak diberi lagi makanan yang mengandung casein dan gluten, jika gejala autisme muncul kembali maka anak perlu diet.
Selain cara di atas, lebih praktis melakukan tes darah untuk mengetahui adanya food alergy atau tidak. Tetapi proses ini sangat memerlukan biaya yang relatif mahal pasalnya sampel musti dikirim ke Amerika terlebih dahulu. Semua terapi di atas dilakukan secara bertahap diseuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak.

Mengontrol Gejala, Bukan Menyembuhkan
Pemberian obat untuk anak autis ditujukan untuk mengontrol gejala-gejala autis, bukan untuk menyembuhkan. Autis bukanlah penyakit, melainkan gangguan. Sampai sekarang belum ada obat yang bisa menyembuhkan gangguan autisme.
Pemberian obat-obatan autisme diperlukan bagi anak autis yang sangat agresif dengan maksud mengurangi agresivitas anak yang sekiranya membahayakan. Pemberian obat tersebut sudah melalui penelitian yang panjang bagi anak-anak autism dan sudah mendapat persetujuan dari FDA (Food and Drugs Administration), yakni pemberian risperidon. Dengan taraf tertentu, pemberian obat tersebut bisa menyebabkan komunikasi anak autis menjadi lebih baik.
Selain itu, anak autis cenderung hiperaktif yang menyebabkan susah fokus atau memusatkan atensinya. Jika hiperaktifnya sanagt menonjol dan mengganggu, bisa ditambahkan dengan pemberian obat hiperaktif seperti Metilfenidat. Obat untuk mengurangi hiperaktif ini biasanya baru boleh diberikan saat anak berusia 6 tahun ke atas.
Pemberian semua dosis obat untuk anak autis berbeda-beda, disesuaikan dengan usia dan kebutuhannya. Tidak semua anak berespon terhadap obat-obat yang diberikan. Jika tidak betrespon maka anak autis tidak perlu mengonsumsi obat-obatan. Karena itu lah reaksi obat pada anak berbeda-beda dan perlu observasi lebih lanjut. DB
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D – Marriage & Family Therapist, Sexologist, Psychoanalyst, Graphologist. Untuk konsultasi, hubungi Hita di 0878-8170-5466 atau pin 2849C490.

Memahami Autisme - Bagian 7

Memahami Autisme
Diduga Kuat Faktor Genetika Menyebabkan Autisme
Bagian 7


Tidak ada penyebab tunggal autisme yang telah diketahui. Tetapi umumnya disebabkan oleh abnormalitas dalam struktur atau fungsi otak. Scan otak mememperlihatkan perbedaan bentuk dan struktur otak anak-anak penderita autisme dibandingkan anak-anak lain. Para pakar terus mengkaji sejumlah teori, termasuk hubungan antara hereditas, genetika dan gangguan kesehatan.
Di dalam banyak keluarga muncul pola autisme atau gangguan lain yang terkait; artinya, ada faktor genetika autisme. Meskipun tidak ada satu pun gen yang sudah dikenali sebagai penyebab autisme, para peneliti terus mencari ketidakteraturan bagian-bagian kode genetika yang mungkin diwarisi anak penderita autisme.
Juga tampak bahwa sebagian anak terlahir rentan autisme. Sayangnya, peneliti belum berhasil mengidentifikasi ‘pemicu’ tunggal yang menyebabkan berkembangnya autisme.
Ilmuwan lain menyelidiki kemungkinan bahwa di dalam kondisi tertentu, sekelompok gen yang tidak stabil bisa mengganggu perkembangan otak, sehingga menimbulkan autisme. Sementara periset lainnya menelisik gangguan-gangguan selama kehamilan atau persalinan serta faktor-faktor lingkungan, seperti infeksi virus, ketakimbangan metabolik, dan paparan pada bahan-bahan kimia.

Kerentanan Genetika
Autisme cenderung terjadi lebih sering pada individu-individu yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti sindroma Fragile X, tuberous sclerosis, sindroma rubella kongenital, dan phenylketonuria (PKU) yang tak dirawat. Beberapa zat berbahaya yang dikonsumsi selama hamil juga meningkatkan risiko terkena autisme.

Faktor-faktor Lingkungan
Riset mengindikasikan bahwa faktor-faktor selain genetika juga meningkatkan kemungkinan autisme, seperti racun-racun lingkungan (mis, logam berat seperti merkuri). Zat-zat beracun itu belakangan ini lebih banyak tersebar di lingkungan kita dibandingkan pada masa lalu.
Mereka yang menderita autisme (atau yang berisiko) sangat rentan karena kemampuannya memetabolisasi dan mendetoksifikasi paparan ini bisa sangat berkurang. DB


KOMPONEN MEDIS AUTISME
Sistem Pencernaan

Autisme bisa mengubah bakteri-bakteri ‘baik’ yang menghuni saluran pencernaan sehingga menimbulkan penyakit pencernaan seperti diare dan sembelit. Beberapa gejala makin memburuk akibat makanan tertentu, seperti produk susu dan gandum. (Baca “Autism Spectrum Disorders and the Immune System” yang ditulis oleh Paula Goines, B.S., Paul Ashwood, Ph.D., dan Judy Van de Water, Ph.D.).

Sistem Kekebalan Tubuh
Riset membuktikan bahwa masalah sistem kekebalan tubuh bisa menjadi salah satu penyebab atau akibat autisme. Stres psikologis, paparan pada bahan kimia dan infeksi bisa bersama-sama memperberat kelemahan sistem kekebalan. Anak-anak yang berisiko autisme sangat rentan pada bahan kimia yang bisa memicu respon sistem kekebalan yang tidak tepat yang kemudian mempengaruhi sistem syaraf yang tengah berkembang. (baca “Can Exposure to Environmental Toxicants Influence Autism Susceptibility?” karya Isaac N. Pessah, Ph.D.).

Racun Berbahaya
Penemuan ilmiah menunjukkan bahwa banyak anak penderita autisme atau yang berisiko ternyata memiliki kelemahan metabolisme. Kelemahan ini akan mengurangi kemampuan mereka dalam membuang racun dan logam berat lainnya. Menumpuknya racun dalam tubuh ini bisa merusak otak dan sistem syaraf serta melambatkan perkembangan.
Racun-racun ini termasuk methylmercury, arseni, timbal dan kadmium, yang masuk tubuh lewat udara, makanan dan air. Dalam waktu lama, racun itu menimbulkan serangkaian penyakit dan kerusakan organ, termasuk kanker; kerusakan ginjal, saluran cerna dan sistem syaraf; bahkan kematian. Toksin ini sangat berbahaya bagi janin, bayi, dan anak-anak. (baca “We’re Loaded with Toxins: Analyzing the Toxic Body Burden of Americans” oleh Judy Chinitz Gorman). DB



Gangguan Autistik (299.00 DSM-IV)
Ciri-ciri pokok Gangguan Autistik adalah adanya kelemahan atau abnormalitas dalam perkembangan komunikasi dan interaksi sosial, serta sekumpulan minat dan aktivitas yang sangat terbatas. Manifestasi gangguan ini sangat bervariasi, bergantung pada tingkat perkembangan dan umur kronologis seseorang. Gangguan Autistik kadang-kadang disebut sebagai Autisme Masa Bayi Awal, Autisme Masa Kanak-kanak atau Autisme Kanner.

A. Total enam (atau lebih) jejar dari (1), (2), dan (3), dengan paling tidak dua dari (1), dan masing-masing satu dari (2) dan (3):
(1) Kelemahan kualitatif dalam interaksi sosial, terwujud dalam paling tidak dua dari berikut ini:
• kelemahan nyata dalam pemakaian perilaku nonverbal darab seperti tatapan mata ke mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan bahasa tubuh untuk mengatur interaksi sosial.
• Gagal mengembangkan hubungan teman sebaya yang layak sesuai dengan tahap perkembangannya.
• Kurang spontan dalam berbagi kesenangan, minat, atau keberhasilan dengan orang lain (misalnya, kurang memperlihatkan, membawa, atau menunjuk barang-barang yang disukai).
• Kurang berbalasan sosial atau emosional.
(2) Kelemahan kualitatif dalam komunikasi seperti tercermin dari paling tidak salah satu dari berikut ini:
• Keterlambatan dalam, atau sama sekali kurang, perkembangan bahasa ujaran (tidak disertai dengan usaha untuk mengkompensasi melalui cara-cara lain berkomunikasi seperti mimik muka atau isyarat).
• Pada individu-individu dengan ujaran yang cukup, kelemahan nyata dalam kemampuan mengawali atau memelihara percakapan dengan orang lain.
• Penggunaan bahasa yang diulang-ulang atau stereotip atau bahasa idiosinkratik.
• Kurang bermain pura-pura yang spontan dan bervariasi atau bermain meniru sosial yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.
(3) Pola perilaku, minat dan aktivitas stereotip yang diulang-ulang, seperti tercermin dari paling tidak salah satu dari berikut ini:
- Preokupasi luas dengan salah satu atau lebih pola minat stereotip yang abnormal baik intensitasnya maupun fokusnya.
- Kesetiaan yang jelas tidak fleksibel pada rutinitas atau ritual khusus yang tidak fungsional.
- Lagak motorik stereotip dan berulang-ulang (misalnya, tangan atau jari-jari mengepak-ngepak atau berputar-putar, atau gerakan seluruh tubuh yang kompleks).
- Preokupasi kukuh pada bagian-bagian barang tertentu.
B. Keterlambatan atau fungsi abnormal dalam paling tidak salah satu dari bidang-bidang berikut ini, dengan kemunculan pertama sebelum umur 3 tahun:
• interaksi sosial
• bahasa yang dipakai dalam komunikasi sosial
• permainan imajinatif atau simbolik.
C. Gangguan ini tidak lebih baik dikelompokkan sebagai Gangguan Rett atau Gangguan Disintegrasi Masa Kanak-kanak.

Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D – Marriage & Family Therapist, Sexologist, Psychoanalyst, Graphologist. Untuk konsultasi, hubungi Hita di 0878-8170-5466 atau pin 2849C490.

Memahami Autisme - Bagian 6

Memahami Autisme
Kuesioner Penting Bagi Orangtua
Bagian 6


M-Chat (Modified Checklist for Autism in Toddlers) adalah daftar pertanyaan yang dapat digunakan sebagai pegangan orangtua atau terapis untuk menentukan derajat spektrum autisma anak. Berikut adalah pertanyaan penting bagi orangtua:
1. Apakah anak anda senang diayun?
2. Apakah anak anda tertarik bermain dengan anak lain?
3. Apakah anak anda suka memanjat barang-barang, naik tangga?
4. Apakah anak anda senang "ci-lu-ba"?
5. Apakah anak anda pernah bermain pura-pura melakukan sesuatu misalnya bicara di telpon atau memelihara anak dengan boneka, main dokter-doteran?
6. Apakah anak anda menggunakan telunjuk untuk menunjuk saat minta sesuatu?
7. Apakah anak anda menunjuk untuk memerlihatkan perhatiannya pada sesuatu?
8. Apakah anak anda bermain sewajarnya dengan mainan kecil seperti mobil-mobilan, balok kayu, dsb. lebih dari sekedar gigit-gigit dan banting-banting?
9. Apakah anak anda pernah memperlihatkan/membaca benda untuk diperlihatkan ke orang tuanya?
10. Apakah anak anda bisa melihat anda ke mata lebih dari satu dua detik?
11. Apakah anak anda nampak terlalu sensitif terhadap kebisingan (sering menutup telinga)?
12. Apakah anak anda memberi senyum balasan atas senyuman anda?
13. Apakah anak anda bisa menirukan ekspresi wajah anda misalnya senyum atau merengut?
14. Apakah anak anda menjawab panggilan namanya?
15. Apabila anda menunjuk ke suatu benda/mainan, apakah anak anda mengikuti dengan pandangannya?
16. Apakah anak anda bisa ikut melihat ke benda yang anda lihat?
17. Apakah anak anda menggerakkan jari dengan cara yang tidak biasa di dekat mukanya?
18. Apakah anak anda mencoba menarik perhatian anda pada aktivitasnya?
19. Pernahkan anda berpikir bahwa anak anda tuli?
20. Apakah anak anda memahami yang dikatakan orang?
21. Apakah anak anda menunjukkan pandangan kosong atau mondar mandir tanpa tujuan?
22. Apakah anak anda melihat ke wajah anda untuk mengetahui adanya reaksi saat menemui sesuatu yang aneh?
Apabila jawabannya lebih banyak “tidak,” maka sebaiknya berkonsultasi dengan profesional yang ahli dalam perkembangan anak dan mendalami bidang autisme. DB
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D – Marriage & Family Therapist, Sexologist, Psychoanalyst, Graphologist. Untuk konsultasi, hubungi Hita di 0878-8170-5466 atau pin 2849C490.

Memahami Autisme - Bagian 5

Memahami Autisme
10 Langkah Penting Setelah Anak Anda Didiagnosis Menderita Autisme
Bagian 5


Bila seorang anak kecil berkata, “Aku sayang kepada Mama/Papa,” rasanya mustahil menemukan ada yang tidak beres di dunia.

Diagnosis Autisme
Tidak ada tes medis untuk mendiagnosis autisme. Diagnosis akurat harus berdasarkan pengamatan terhadap komunikasi, perilaku dan tingkat perkembangan individu. Namun, karena banyak perilaku yang berkaitan dengan autisme juga muncul pada gangguan-gangguan lainnya, maka berbagai tes medis bisa dilakukan untuk mengeluarkan atau mengidentifikasi kemungkinan penyebab dari gejala-gejala yang ditunjukkan.
Selintas, penderita autisme bisa tampak seperti mengalami keterbelakangan mental, gangguan perilaku, masalah pendengaran, atau bahkan perilaku ganjil dan eksentrik. Masalah semakin rumit karena kondisi-kondisi itu bisa terjadi bersamaan dengan autisme. Namun, sangat penting membedakan autisme dari kondisi lainnya. Mengapa? Karena diagnosis yang akurat dan identifikasi dini bisa memberikan dasar untuk mengembangkan program perawatan dan pendidikan yang tepat dan efektif.
Pengamatan singkat dalam satu situasi saja tidak bisa memberikan gambaran sesungguhnya dari perilaku dan kemampuan individu. Masukan orangtua – pengasuh serta guru – dan riwayat perkembangannya sangatlah penting untuk menegakkan diagnosis yang akurat.

Mengapa Identifikasi Dini Sangat Penting
Riset menunjukkan bahwa deteksi dini sangat berhubungan dengan perbaikan-perbaikan dramatis pada anak penderita autisme. Semakin dini seorang anak didiagnosis, semakin cepat pula anak ini bisa merasakan manfaat salah satu dari banyak perawatan dan pendidikan spesial.
Ikatan Dokter Anak Amerika merekomendasikan semua anak dites autisme oleh dokter keluarga dua kali sebelum umur dua tahun; yaitu pada umur 18 bulan dan 24 bulan. Para dokter juga menyarankan agar perawatan sudah dimulai walau diagnosis autisme baru berupa dugaan; tidak perlu menunggu sampai diagnosis formal.
Intervensi dini ini sangat penting. Anak-anak yang menerima terapi intensif bisa menunjukkan perbaikan luar biasa dalam seluruh fungsinya dan memiliki kehidupan yang produktif.

Alat-alat Tes dan Screening
Walaupun tidak ada tes komunikasi atau perilaku yang bisa mendeteksi autisme, namun ada beberapa alat uji yang sudah dikembangkan untuk mendiagnosis autisme:
• Sistem pemeringkatan CARS (Childhood Autism Rating Scale), yang dikembangkan oleh Eric Schopler pada awal 1970an, yang berdasar pada pengamatan perilaku. Dengan menggunakan skala 15 titik, dokter/psikolog bisa menilai hubungan anak dengan orang-orang lain, penggunaan tubuh, adaptasi pada perubahan, respon pendengaran, dan komunikasi verbal.
• Daftar Autisme pada Balita (CHAT) dipakai untuk menyaring autisme pada umur 18 bulan. Dikembangkan oleh Simon Baron-Cohen pada awal 1990an untuk melihat apakah autisme dapat dideteksi pada anak-anak kecil yang masih berumur 18 bulan. Alat uji ini memakai kuesioner pendek yang terdiri atas dua bagian: satu diisi oleh orangtua, yang lain oleh dokter anak.
• Kuesioner Penyaringan Autisme adalah skala dengan 40 pertanyaan yang dipakai untuk anak berumur empat tahun atau lebih tua. Alat ini menilai kecakapan komunikasi dan fungsi sosial.
• Ujian Saringan untuk Autisme pada Anak Umur Dua Tahun dikembangkan oleh Wendy Stone di Vanderbilt. Ia memakai pengamatan langsung untuk mempelajari ciri-ciri perilaku pada anak-anak di bawah umur dua tahun. Ia mengidentifikasi tiga bidang kecakapan yang menunjukkan autisme: bermain, peniruan motorik, dan rendahnya perhatian.

Siapa yang Membuat Diagnosis? Siapa yang Merawat?
Tak peduli siapa yang pertama kali menduga anak Anda menderita autisme – Anda sendiri atau dokter keluarga – anak Anda harus dirujukkan kepada profesional yang memang spesialisasinya mendiagnosis gangguan spektrum autisme. Dia bisa seorang dokter spesialis anak dengan kekhususan perkembangan, seorang psikiater atau psikolog, dan profesional lain yang mampu mengamati dan melakukan tes dalam bidang-bidang khusus pada anak Anda.
Tim penilai dari berbagai bidang itu bisa mencakup semua atau beberapa dari profesional berikut ini (mereka juga mungkin terlibat dalam program perawatannya):
• Dokter spesialis anak, dengan kekhususan perkembangan – merawat masalah kesehatan dari anak-anak yang mengalami masalah atau keterlambatan perkembangan.
• Psikiater anak – seorang dokter spesialis kesehatan jiwa yang terlibat dalam diagnosis awal. Ia juga bisa memberikan resep obat dan membantu penyesuaian emosional, perilaku dan hubungan sosial anak Anda.
• Psikolog klinis – psikolog dengan spesialisasi masalah-masalah klinis. Ia akan membantu Anda memahami sifat dan dampak keterlambatan perkembangan, termasuk gangguan spektrum autisme. Ia melakukan tes psikologis dan penilaian, serta membantu dengan terapi modifikasi perilaku dan pelatihan kecakapan sosial.
• Terapis okupasional – berfokus pada kecakapan-kecakapan praktis agar anak bisa menolong dirinya sendiri yang penting dalam kehidupan sehari-hari, seperti berpakaian dan makan. Ia juga membantu dalam hal integrasi panca indra, koordinasi gerakan, dan kecakapan motorik halus.
• Terapis fisik – membantu memperbaiki penggunaan tulang, otot, persendian, dan syaraf untuk mengembangkan kekuatan otot, kecakapan motorik dan koordinasi.
• Terapis wicara/bahasa – terlibat dalam perbaikan kecakapan komunikasi, termasuk ujaran dan bahasa.
• Pekerja sosial - bisa memberikan jasa konseling atau bertindak sebagai manajer yang membantu mengatur perawatan dan jasa-jasa lainnya.

Pentingnya Kerjasama Orangtua dan Para Profesional
Orangtua dan para profesional sangat perlu bekerjasama demi kesejahteraan anak. Anda tak bisa menyerahkan segalanya kepada dokter. Memang para profesional itu akan menggunakan pengalaman dan pendidikannya untuk merekomendasikan perawatan-perawatan yang terbaik bagi anak Anda. Namun Anda memiliki pengetahuan unik mengenai kebutuhan dan kemampuan anak Anda sendiri yang juga harus dipertimbangkan agar perawatan atau terapi itu lebih individual, lebih sesuai bagi anak Anda.
Nah, kalau program perawatan sudah disusun, komunikasi antara orangtua dan profesional harus terus dijalankan, khususnya dalam memantau kemajuan si anak. berikut ini panduan untuk bekerjasama dengan para profesional:
• Dapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Belajar sebanyak mungkin tentang kekurangan anak Anda sehingga Anda bisa menjadi peserta aktif dalam menentukan perawatannya. Jika Anda tidak memahami istilah-istilah yang dipakai oleh para profesional, segera tanyakan. Minta penjelasan. Jangan berpura-pura sok tahu. Jangan pedulikan kalau sang profesor atau doktor bilang, “begitu saja tidak tahu!” Mereka juga punya kewajiban untuk memberitahukannya kepada Anda.
• Selalu siap siaga. Persiapkan dengan matang setiap pertemuan dengan dokter, terapis dan guru. Tuliskan daftar pertanyaan dan kekhawatiran Anda. Kemudian catatlah jawaban-jawaban mereka.
• Teratur senantiasa. Banyak orangtua yang merasakan manfaat luar biasa dari menuliskan semua rincian tentang diagnosis anak mereka dan semua perawatannya, serta setiap pertemuan dengan profesional.
• Berkomunikasi terbuka. Pastikan untuk selalu membuka komunikasi – tak peduli bagaimana situasinya. Jika Anda tidak sepakat dengan saran dokter atau profesional lainnya, utarakan dan jelaskan secara rinci ketidaksetujuan Anda.

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Mengetahui Anak Menderita Autisme?
Kerap, masa setelah diagnosis merupakan waktu yang sangat sulit bagi seluruh anggota keluarga. Penuh dengan rasa bingung, marah dan kesedihan. Itu semua perasaan yang normal. Tetapi masih ada kehidupan menunggu setelah diagnosis autisme ditegakkan.
Hidup bisa menjadi luar biasa indah bagi seorang anak yang menderita autisme dan semua orang yang punya hak istimewa mengenal anak ini. Meskipun tidak selalu mudah, namun Anda bisa belajar membantu anak Anda menemukan dunia yang menarik dan penuh kasih sayang.
Buku “Understanding Autism for Dummies” (Wiley Publishing, Inc., 2006) yang ditulis oleh Dr. Stephen M. Shore dan Linda G. Rastelli, MA, menyebutkan sepuluh langkah penting yang perlu diambil oleh keluarga setelah mengetahui anaknya menderita autisme.
1. Belajar dan membaca sebanyak mungkin. Walaupun informasi yang tersedia seperti membanjir, namun semakin banyak yang Anda baca dan pertimbangkan, semakin mudah bagi Anda untuk memahami informasi baru. Akan tetapi, selalu pertimbangkan setiap sumber informasi yang Anda dapatkan. Dan jangan fokus hanya pada satu jenis intervensi atau terapi; tidak ada satu jenis perawatan yang cocok untuk semua anak. Anda perlu menemukan sendiri kombinasi yang tepat bagi anak Anda.
2. Berjejaring dengan keluarga lain. Banyak keluarga yang dalam kondisi serupa bisa saling memberikan dukungan. Aktiflah dalam komunitas autisme dengan menghadiri pertemuan-pertemuan penguatan atau seminar untuk bertemu dengan orangtua lain yang juga tengah berjuang. Mereka tentu senang membagi pengalamannya. Kunjungi pula situs-situs komunitas dan pusat penelitian autisme; biasanya di sana juga disediakan daftar kelompok-kelompok pendukung dan berbagai organisasi yang terkait dengan autisme.
3. Tes, tes, dan tes. Periksakan anak Anda sejak dini untuk mendapatkan gambaran dasar kondisinya. Gambaran jelas soal kondisi biologis anak Anda akan memberikan peta arah perawatan dan terapi sesudahnya. Jika Anda tidak sanggup membiayai semua tes yang dibutuhkan, prioritaskan dengan bantuan dokter Anda.
4. Mencari sumber-sumber bantuan keuangan. Autisme bisa dengan cepat menyedot sumber daya keuangan Anda. Namun bersyukurlah ada beberapa lembaga yang bisa membantu Anda. Kalau sulit mendapatkan bantuan dari lembaga lokal atau nasional, coba ajukan permohonan lewat lembaga asing. Sayangnya, kebanyakan asuransi kesehatan di Indonesia tidak memasukkan autisme maupun spektrum PDD dalam polis mereka.
5. Mempertimbangkan perubahan gaya hidup secara mendasar. Karena perawatan autisme bisa sangat mempengaruhi keuangan Anda, sebaiknya Anda melakukan revolusi, seperti berpindah kerja atau pindah ke rumah yang lebih kecil. Pengorbanan jangka pendek juga perlu dilakukan agar ada biaya untuk merawat anak Anda. Juga, kalau Anda punya suami/istri, perlu diatur pembagian kerja dan tanggung jawab merawat anak Anda. Perawatan autisme membutuhkan pengorbanan, namun kerja keras Anda akan berbuah. Banyak orangtua yang senasib dengan Anda dengan senang hati menceritakan bahwa ganjaran emosionalnya melihat perkembangan anak Anda akan bertahan jauh lebih lama daripada sekadar hobi atau rumah Anda.
6. Menyusun program pendidikan/perilaku di rumah. Bila Anda sanggup membiayainya, program terstruktur satu guru-satu anak yang fokus pada perilaku dan pendidikan akan sangat membantu masa depan anak Anda. Program satu guru-satu anak ini umumnya paling berhasil untuk kebanyakan anak. Pastikan bahwa programnya punya reputasi yang sangat bagus serta sesuai dengan tujuan dan harapan Anda. Anda dan konsultan/guru sebaiknya menandatangani kontrak yang menyatakan siapa bertanggung jawab akan hal apa.
7. Memulai terapi. Anda mungkin akan dirujukkan ke dokter spesialis lain atau terapis lain, termasuk terapi fisik, okupasional, dan wicara. Terapi ini akan membantu anak Anda mendapatkan kecakapan fisik, sosial dan komunikasi. Berbagai asuransi biasanya mengganti biaya ini.
8. Menyesuaikan diet dan nutrisi. Karena banyak penderita autisme peka pada diet tertentu, pertimbangkan untuk mencoba diet khusus (seperti bebas gandum/bebas produk susu) untuk anak Anda. Berdasarkan tes kesehatan dan saran dokter, Anda juga harus mulai memberikan suplemen vitamin/mineral sesuai dengan kebutuhannya. Pastikan berkonsultasi dengan ahli gizi dan dokter anak yang keduanya pakar dalam hal autisme.
9. Jangan menyerah. Sikap sangat penting! Cobalah menjadi seorang yang sanggup menaikkan semangat keluarga Anda sendiri maupun tim profesional. Kalau bertemu dengan dokter atau profesional yang belum terbiasa dengan autisme, jangan ragu untuk memberi mereka informasi terbaru yang telah Anda dapatkan. Bersabarlah karena banyak perawatan dan terapi yang membutuhkan waktu untuk memperbaiki kondisi anak Anda. Dan yang terpenting, ingatlah untuk tersenyum dan tertawa bersama seluruh anggota keluarga.
10. Bersenang-senang dan bersantai. Sisihkan waktu untuk diri Anda sendiri. Anda juga tetap harus merawat diri sendiri agar bisa berguna bagi anak Anda. Dorong pasangan Anda untuk juga selalu menyegarkan jiwa, perasaan, pikiran dan tubuh. DB
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D – Marriage & Family Therapist, Sexologist, Psychoanalyst, Graphologist. Untuk konsultasi, hubungi Hita di 0878-8170-5466 atau pin 2849C490.

Memahami Autisme - Bagian 4

Memahami Autisme
Gejala Utama Autisme: Kelemahan Interaksi Sosial
Bagian 4


Gangguan Perkembangan Pervasif (PDD) adalah istilah yang banyak dipakai kalangan profesional untuk merujuk pada anak-anak dengan autisme dan gangguan-gangguan terkait lainnya. Akan tetapi, para pakar memang belum sepakat mengenai label PDD ini.
Diagnosis PDD, termasuk autisme atau gangguan perkembangan lainnya, dilandaskan pada Pedoman dan Diagnostik Gangguan Jiwa Edisi ke empat (PPDGJ-IV). PPDGJ sendiri adalah versi Indonesia dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders - Fourth Edition (DSM-IV) yang diterbitkan oleh the American Psychiatric Association (di Indonesia, setara dengan Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia dan Ikatan Dokter Jiwa Indonesia).
Menurut DSM-IV, istilah PDD bukanlah satu diagnosis khusus, melainkan satu istilah payung. Di bawah golongan inilah akan ditegakkan beberapa diagnosis khusus.
Apa sih perlunya label diagnostik? Penggolongan ini dipakai untuk menunjukkan kesamaan-kesamaan di antara banyak individu. Gejala utama autisme lah yang membedakannya dari sindroma dan/atau kondisi lainnya. Lalu, apa gejala utama autisme? “Kecacatan mendasar dalam interaksi sosial” (Frith, 1989).
Diagnosis autisme menunjukkan adanya kelemahan dalam kecakapan komunikasi dan sosial, serta kurangnya serangkaian minat dan aktivitas. Karena tidak ada tes medis untuk menentukan ada tidaknya autisme atau PDD lainnya, maka diagnosis autisme didasarkan atas ada atau tidak adanya serangkaian perilaku tertentu. Misalnya, seorang anak didiagnosis mengalami PDD-NOS jika ia menunjukkan beberapa perilaku yang tampak dalam autisme, tetapi tidak memenuhi seluruh kriteria autisme. Tapi yang terpenting, apakah seorang anak didiagnosis menderita PDD (seperti autisme) atau PDD-NOS, perawatannya akan serupa.
Autisme adalah suatu spektrum gangguan, dengan gejala-gejala mulai dari ringan sampai berat. Sebagai suatu spektrum gangguan, tingkat keterlambatan perkembangan tiap anak sangatlah individual.
Kalau diagnosisnya PDD-NOS, alih-alih autisme, maka sang dokter atau psikolog yang mendiagnosisnya harus dengan jelas merinci perilaku-perilaku yang tampak. Hasil atau laporan evaluasi ini akan lebih berguna jika disebutkan secara spesifik, sehingga di kemudian hari bisa dipakai kembali oleh orangtua atau dokter lainnya untuk kepentingan evaluasi berikutnya.
Idealnya, bukan hanya dokter atau psikolog saja yang menegakkan diagnosis autisme, melainkan sekumpulan profesional. Tim ini tak hanya terbatas pada psikiater atau psikolog saja, tetapi juga ahli patologi wicara, dokter anak khusus perkembangan, dan dokter ahli syaraf. Bahkan orangtua dan guru juga perlu dilibatkan karena mereka memiliki informasi untuk membantu diagnosis anak tersebut. Peranan orangtua sangat penting untuk membantu diagnosis karena orangtua akan memberi informasi mengenai kronologi perkembangan anak, sehingga orangtua harus dilibatkan dalam melakukan diagnosis.
Jauh lebih penting, orangtua musti lebih peduli untuk menemukan perawatan pendidikan yang tepat bagi anaknya, sesuai kebutuhan anaknya, daripada menghabiskan usaha untuk mendapatkan diagnosis yang sempurna. Program-program yang dirancang khusus untuk anak autis akan jauh lebih bermanfaat. Sebaliknya, label PDD juga bisa membuat anak itu tidak mendapatkan perawatan dan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Berikut ini kode penggolongan PDD menurut DSM-IV, beserta penjelasan singkatnya (lebih lengkapnya, baca halaman 9 dan 10):
• Autistic Disorder (299.00 DSM-IV)
• Asperger’s Disorder (299.80 DSM-IV)
• Rett’s Disorder (299.80 DSM-IV)
• Childhood Disintegrative Disorder (299.10 DSM-IV)
• PDD-NOS (299.80 DSM-IV).

Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D – Marriage & Family Therapist, Sexologist, Psychoanalyst, Graphologist. Untuk konsultasi, hubungi Hita di 0878-8170-5466 atau pin 2849C490.

Memahami Autisme - Bagian 3

Memahami Autisme
Gejala-gejala Ikutan Autisme
Bagian 3


Para penyandang autisme kadang-kadang menunjukkan gejala-gejala tertentu yang muncul sesuai perkembangan usianya. Sangatlah penting untuk tidak mencampuradukkan gejala yang timbul belakangan ini sebagai hal primer atau pokok. Bagaimana pun juga, gejala itu hanya bersifat sekunder dibandingkan sindroma autisme itu sendiri.
Apa saja sih gejala ikutan atau simptomatologi itu? Antara lain, gangguan obsesif-kompulsif (OCD), gangguan bipolar, depresi, gangguan kecemasan, epilepsi, dan gangguan kurang perhatian/hiperaktivitas (ADHD).
Berikut ini daftar gangguan/sindroma yang muncul sebagai perilaku yang serupa dengan gangguan autisme dan/atau menjadi lebih nyata (gampang terlihat) pada individu-individu penyandang autisme:
• sindroma Cornelia deLange
• sindroma Tourette
• sindroma Fragile X
• sindroma Williams
• sindroma Down
• Tuberous Sclerosis
• sindroma Landau-Kleffner (tuli)
• sindroma Rubella Kongenital (seperti yang dialami tokoh Helen Keller yang menderita buta dan tuli)
• Phenylketonuria (PKU) yang tak dirawat
• sindroma Kluver-Bucy
• sindroma Prader-Willi
• sindroma Lesch-Nyhan.

Gangguan Inderawi
Anak autis memiliki ambang batas penerimaan bunyi yang lebih rendah dibandingkan anak normal. Mereka kerap menutup telinga jika mendengar suara keras, seperti petasan, sirine atau gonggongan anjing.
Indera peraba juga lebih sensitif. Sentuhan yang menurut orang normal tidak terasa menyakitkan maka mungkin saja terasa berbeda bagi penyandang autis. Karenanya mereka menolak untuk disentuh, karena sentuhan kerap terasa menyakitkan bagi mereka.

Kejang-Kejang
Kejang atau konvulsi merupakan gerakan otot yang kuat dan tidak terkontrol datang secara tiba-tiba. Gejalanya, tidak sadar, mata terbalik ke atas, kedua kaki dan tangan kaku kemudian timbul gerakan kejutan yang kuat selama beberapa detik hingga menit. Setelah sadar dapat menyebabkan mual muntah pusing dan mengantuk hingga tertidur.
Kelainan genetik pada sel otak dapat mengakibatkan kejang-kejang. Jadi gangguan penyerta yang akan muncul sesuai dengan fungsi otak yang terganggu.

Retardasi Mental
Penyebab kelainan mental ini adalah faktor genetika atau tak jelas sebabnya (simpleks). Keduanya disebut retardasi mental primer. Sedangkan faktor sekunder disebabkan oleh faktor luar yang berpengaruh terhadap otak bayi waktu dalam kandungan atau anak-anak.
Faktor luar ini antara lain infeksi jaringan otak, keracunan kehamilan, ruda paksa sebelum lahir, serta gangguan pertumbuhan akibat kurang gizi berat dan lama. Penyebab lainnya adalah gangguan jiwa pada masa anak-anak dan kurangnya rangsangan sosial dari lingkungan.
Berat-ringannya retardasi mental tergantung tingkat kecerdasan anak, kemampuan dididik, dan kemampuan sosial atau kerja.
Para penyandang biasanya ditangani dengan pemberian pendidikan dan latihan khusus. Pendidikan itu didapat dari sekolah luar biasa, terutama untuk taraf retardasi sedang hingga sangat berat. Obat-obatan hanya diberikan bila anak gelisah dan terlalu aktif. Di samping pendidikan bagi penyandang, pihak keluarganya perlu pula diberikan konseling untuk keberhasilan pengobatan.

Sindroma Fragile X
Sindroma X yang rapuh (sindroma Martin-Bell, Fragile X syndrome) adalah kelainan genetika yang ditandai dengan keterbelakangan mental, yang disebabkan perubahan pada rantai panjang kromosom X.
Gejalanya antara lain kesulitan belajar, menghindari kontak mata, mengucapkan kata berulang atau senantiasa bersikap kasar. Sedangkan secara fisik ciri-ciri yang dimunculkan antara lain dahi dan telinga yang lebar serta rahang yang menonjol.

Tuberous Sclerosis
Penyakit ini juga disebabkan kelainan genetika, yaitu dihasilkannya protein harmatin dan tuberin oleh tubuh. Kedua protein ini tidak dihasilkan oleh tubuh orang normal.
Harmatin dan tuberin mengakibatkan pengapuran daerah-daerah tertentu otak. Semakin banyak protein tersebut dihasilkan, kemungkinan pengapuran serta kemunduran atau gangguan fungsi otak juga lebih besar.
Gabungan dari gejala yang ada dapat menyebabkan hambatan perkembangan, kejang, gangguan perilaku, ketidak-normalan pada kulit, penyakit paru serta ginjal.
Penyandang autis dengan gangguan penyerta tuberous sclerosis ini menampilkan ciri-ciri fisik tertentu, seperti wajah kotak dengan dagu memanjang, jidat memanjang, hidung melebar, langit-langit rongga mulut yang melengkung tinggi, dan telinga yang besar dan menggantung.
Untuk mengurangi produksi protein harmatin dan tuberin dalam tubuh belum dapat dilakukan melalui obat karena memang belum ada obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan produksi kedua protein tersebut. Maka hal yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur asupan makanan melalui diet khusus protein. DB
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D – Marriage & Family Therapist, Sexologist, Psychoanalyst, Graphologist. Untuk konsultasi, hubungi Hita di 0878-8170-5466 atau pin 2849C490.