Bayi Prematur Pun Bisa Mendapat ASI Eksklusif
Wawancara dengan dr. Utami Roesli, Sp.A
Setiap ibu yang sedang mengandung, pasti mengharapkan bayinya akan terlahir normal, sehat dan tanpa masalah. Namun bagaimana jika bayi terlahir prematur? Jangan takut, permata hati Anda tetap bisa mendapatkan ASI. Bahkan ASI eksklusif sekalipun. Tapi memang dibutuhkan pengetahuan dan kesabaran orangtua untuk merawatnya. Bagaimanakah cara menyusui bayi prematur?
Bayi disebut prematur jika usia kehamilan ibu kurang dari 37 minggu. Bisa juga, walaupun usia kehamilan cukup, namun berat janin kurang dari 2500 gram. Bisa juga jika usia kehamilan ibu dan sekaligus berat badan janin kurang dari normal, 2500 gram. Inilah sebabnya bayi prematur harus ditangani dengan baik dan hati-hati. Semua alat tubuhnya belum sempurna. Meski ibunya sudah boleh pulang, si bayi masih harus dirawat di rumah sakit.
“Jika berat badan lahir bayi tersebut kurang dari normal dan keadaannya tidak stabil, tentu untuk beberapa lama mereka tidak bisa menyusu langsung kepada ibunya. Karena mereka harus masuk ke dalam inkubator terlebih dulu, sampai keadaannya stabil,” beber dr. Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, dari RS. Saint Carolus Jakarta.
Komposisi ASI Berbeda
Tidak ada yang memungkiri bahwa ASI adalah makanan terbaik yang dapat diberikan seorang ibu kepada buah hatinya. Begitu juga dengan bayi prematur. Tak ayal, kini banyak orangtua berlomba-lomba memberikan ASI eksklusif. Namun bagaimana dengan wanita yang melahirkan bayi prematur?
Menurut Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia ini, komposisi ASI yang dihasilkan ibu yang melahirkan prematur berbeda dengan komposisi ASI yang dihasilkan ibu melahirkan cukup bulan. Perbedaan ini berlangsung kurang lebih empat minggu. Artinya, apabila bayi lahir sangat prematur, kurang dari 30 minggu, maka pada usia kronologisnya 4 minggu ASI sang ibu perlu ditambah zat gizi lain agar komposisinya menyamai komposisi ASI prematur.
ASI Eksklusif
“Bayi prematur pun bisa memperoleh ASI eksklusif,” tegas Utami. Bagi bayi prematur yang daya hisapnya kurang bagus, biasanya pemberian ASI dilakukan melalui selang. Bahkan menurut Utami, pada waktu pakai selang pun, kadang seorang dokter menganjurkan agar si ibu tetap menggendong bayinya. Lalu, selang tersebut diletakkan di dekat hidung bayi, dan posisi bayi didekatkan dengan puting ibunya. Inilah yang disebut menghisap tidak untuk nutrisi, tapi lebih untuk kenyamanan sang buah hati. Dengan teknik ini diharapkan dapat mempercepat pembesaran badan bayi tersebut. “Walaupun cuma icip-icip tidak masalah. Yang penting dia dekat dengan puting ibunya, toh dia tetap dapat ASI lewat selang tadi. ASI tersebut disimpan di tempat khusus menyimpan perahan ASI. Artinya, si bayi tetap minum ASI milik ibunya,” urai dokter yang gencar mengampanyekan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) ini.
Setelah menggunakan selang, lanjut Utami, biasanya pemberian ASI juga dapat dilakukan dengan menggunakan sendok, pipet atau cangkir. Ini bertujuan supaya bayi tersebut belajar untuk menjilat. Kemudian, jika si bayi sudah mulai bisa menghisap, baru dicoba menyusu langsung ke puting ibunya.
“Saya mengusulkan, bagi anak-anak yang lahir prematur, alangkah baiknya jika mendapat susu ibunya sebanyak mungkin. Karena, itulah yang diperlukan mereka,” imbuhnya. Pemberiannya pun sama seperti memberi ASI kepada anak normal.
Biarkan dia yang memimpin dalam meminum ASI, karena sang anaklah yang tahu berapa kalori yang dia butuhkan setiap harinya. Artinya bayi lah yang tahu, kapan dia membutuhkan minum ASI. Biarkan dia puas meminum ASI ibunya. Jadi jangan heran, jika hari ini dia minum ASI dengan lahapnya, tapi esok hari, dia minum sedikit tidak lahap.
ASI Tidak Keluar
Diimbuhkan Utami, di sinilah pentingnya pengajaran tentang ASI eksklusif, terutama kepada ibu yang bayinya prematur. “Tak dipungkiri, kerap terjadi kegagalan menyusui pada ibu yang melahirkan bayi prematur. Ini karena sang ibu stres, ada perasaan bersalah, tidak percaya diri, atau tidak tahu cara memerah ASI,” akunya.
Pun masalah bisa datang dari si bayi. Maklum, pada bayi prematur, refleks hisap dan menelan masih kurang, energi untuk menghisap juga kurang, atau kerja usus utuk menyerap masih lambat.
Agar ibu yang melahirkan bayi prematur dapat berhasil memberikan ASI perlu dukungan dari keluarga dan petugas, diajarkan cara memerah ASI dan menyimpan ASI perah serta cara memberikan ASI perah kepada bayi prematur dengan sendok, pipet ataupun selang (sonde). Jangan lupa, dukungan suami sangat berperan. Usahakan selalu berada di dekat istri, banyak-banyak mengelus, memijat dan membisikkan kata-kata sayang, serta tak segan-segan merawat istri. Juga tak kalah pentingnya adalah selalu menunjukkan sikap positif.
Posisi Menyusui
Menyusui dalam posisi apapun sebenarnya tidak masalah, asalkan tekniknya benar. “Malah, kalau air susu si ibu itu banyak (mancur), dan si anak belum bisa menguasai, jangan pernah menyusui dalam posisi duduk, tapi posisi tidur,” jelasnya. Kenapa? Karena gravitasi buminya akan menarik air susu itu keluar, dan alhasil anaknya akan ‘gelagapan’ karena ASI sang ibu pancarannya banyak. Nah, kalau posisi tidur, maka gravitasinya akan terbagi rata. Kalau tidak berhasil juga, ibu bisa telentang dan bayinya tengkurap di atas ibunya. Supaya pancaran airnya tertarik.
Pada dasarnya, tambah Utami, tersedak itu karena pancaran ASInya deras. “Tapi kalau tidak, biasanya anak tidak akan tersedak. Dia bisa mengatur sendiri proses menghisapnya. Menurut fisiologis menyusu, dia kumpulkan dulu beberapa hisapan baru ditelan. Ada ritmenya. Dia akan tersedak kalau pancarannya deras, dan akibatnya akan batuk-batuk,” alasnya.
Lebih Cerdas
Yang menarik, ternyata pemberian ASI bagi bayi prematur sangat berhubungan dengan IQ mereka. Menurut Utami, berdasar penelitian di Amerika pada 1993, menunjukkan bahwa 300 bayi prematur yang diberi ASI penuh oleh ibunya dampak kepandaian lebih jelas dibandingkan dengan bayi matur. Ini karena ASI mengandung asam lemak esensial dan asam amino taurin. Dua zat ini adalah sumber gizi yang amat vital – dan tidak tergantikan - untuk pertumbuhan otak bayi.
“Bayi prematur yang diberi ASI, kemampuan verbalnya 8,3 persen lebih besar ketimbang yang tak diberi ASI. Ini lagi-lagi menekankan bahwa semakin prematur dia, semakin membutuhkan ASI ibunya,” tutup dr. Utami.
Wednesday, 1 August 2012
Jika Bayi Menolak Disusui
Bayi Menolak Disusui Karena Puting Susu Tidak Muncul
Tanya: Saya bunda dari Azka (3 bulan) dan berniat memberikan ASI eksklusif. Tetapi beberapa hari ini Azka menolak disusui langsung. Awalnya, ia pernah saya tinggal di rumah sehari. Jadi, saya peras ASI saya dan ia minum dari botol dot. Saat saya ingin menyusuinya kembali, ia agak menolak. Waktu itu ia masih mau karena sedikit saya paksa. Tapi, keesokan harinya hingga sekarang ia selalu menolak. Bahkan, jika digendong dalam posisi menyusu, ia menangis dan marah. Sepertinya ia trauma saya susui. Kini, Azka minum ASI dari botol dot dengan posisi tidur. Padahal saya ingin sekali menyusuinya langsung walau ASI saya tidak banyak dan puting payudara saya tidak muncul. Apa yang harus saya lakukan? Tyas
Jawab: Bayi akan belajar menyusui secara naluriah. Dengan sendirinya ia akan mencari puting susu ibunya. Jika puting susu ibu tidak muncul, bayi berusaha keras menyedot tetapi ASI susah keluar. Ini bisa membuat bayi akhirnya capai dan putus asa.
Nah, ibu yang baru pertama kali melahirkan biasanya emosional saat melihat bayinya kesulitan menyedot. Ibu malah panik, cemas atau sedih. Reaksi-reaksi tersebut malah membuat bayi menjadi tambah tidak nyaman berada dalam pelukan ibu.
Jika bayi kemudian dikenalkan dengan dot dan malah lebih menyukainya, itu karena bentuk dot dirancang khusus sesuai dengan bentuk puting susu yang baik. Puting susu yang baik untuk menyusui adalah jika areola (lingkaran hitam) pada payudara bisa masuk semua ke mulut bayi. Nah, jika puting tidak muncul, maka anak akan kesulitan untuk menyedot sampai areola yang membuat bayi merasa tidak nyaman untuk menyusu. Jadi, saat bayi dikenalkan dengan dot, bayi akan menikmati bentuk dot itu
Jangan Dipaksa
Saya dukung niat ibu untuk kembali menyusuinya secara langsung karena melalui proses tersebut kedekatan emosional anak dan ibu terjalin lebih erat.
Ibu harus mengubah perilaku ibu: bukan memaksa, tapi membujuk. Sebelum menyusui, ibu harus menenangkan diri dahulu. Temukan posisi duduk yang baik agar bisa menggendong bayi dengan nyaman.
Begitu bayi diposisikan dalam posisi menyusu ke payudara ibunya, mungkin anak ibu bergerak-gerak atau berontak. Jangan langsung menyodorkan payudara ibu pada mulut bayi. Tunggu beberapa saat hingga bayi merasa nyaman.
Usaplah lembut kepala atau badannya dengan gerakan satu arah ke bawah. Jangan naik turun karena hal itu malah akan merangsang emosi bayi.
Bujuklah ia dengan lembut, tataplah wajahnya dan lakukan kontak mata. Bujuklah ia dengan mengatakan ‘Mama ingin menyayangi kamu. Mama ingin menyusui kamu. Sini dong sama Mama’. Hal ini bertujuan untuk menjalin kembali hubungan emosional antara ibu dengan anak yang sempat terganggu di awalnya.
Nah, jika otot-otot badan bayi sudah tampak rileks, tidak kaku atau keras, berarti ia telah menemukan posisi yang nyaman di pelukan ibunya. Saat itulah ibu bisa mencoba untuk menyusuinya.
Olesi ASI
Jika anak ibu masih menolak, jangan dipaksakan. Ibu sebaiknya bersabar karena mungkin memerlukan proses lebih lama. Cobalah cara itu berkali-kali sambil diselingi dengan pemberian ASI melalui botol dot. Tapi sebelumnya olesi dulu karet dot dengan ASI sehingga ia bisa mencium bau ASI. Dengan begitu, anak merasa dekat dengan ibunya. Pasalnya, indera penciuman, pengecapan dan indera perasa pada bayi bekerja cukup kuat.
Sebagai langkah alternatif, sekarang ini banyak tersedia karet dot yang ditempelkan pada puting susu ibu. Hal ini membantu bayi agar lebih mudah menyedot ASI dari payudara. Jadi, anak tetap bisa menikmati ASI dari ibunya seolah-olah menyedot secara langsung. Lakukan terus pendekatan menyusui kepada anak ibu secara perlahan dan sabar hingga akhirnya ia tak menolak lagi untuk disusui secara langsung. Semoga berhasil, Bu!
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist, Marriage & Family Therapist.
Untuk konsultasi, hubungi di 087881705466 atau pin 2849C490. :)
Tanya: Saya bunda dari Azka (3 bulan) dan berniat memberikan ASI eksklusif. Tetapi beberapa hari ini Azka menolak disusui langsung. Awalnya, ia pernah saya tinggal di rumah sehari. Jadi, saya peras ASI saya dan ia minum dari botol dot. Saat saya ingin menyusuinya kembali, ia agak menolak. Waktu itu ia masih mau karena sedikit saya paksa. Tapi, keesokan harinya hingga sekarang ia selalu menolak. Bahkan, jika digendong dalam posisi menyusu, ia menangis dan marah. Sepertinya ia trauma saya susui. Kini, Azka minum ASI dari botol dot dengan posisi tidur. Padahal saya ingin sekali menyusuinya langsung walau ASI saya tidak banyak dan puting payudara saya tidak muncul. Apa yang harus saya lakukan? Tyas
Jawab: Bayi akan belajar menyusui secara naluriah. Dengan sendirinya ia akan mencari puting susu ibunya. Jika puting susu ibu tidak muncul, bayi berusaha keras menyedot tetapi ASI susah keluar. Ini bisa membuat bayi akhirnya capai dan putus asa.
Nah, ibu yang baru pertama kali melahirkan biasanya emosional saat melihat bayinya kesulitan menyedot. Ibu malah panik, cemas atau sedih. Reaksi-reaksi tersebut malah membuat bayi menjadi tambah tidak nyaman berada dalam pelukan ibu.
Jika bayi kemudian dikenalkan dengan dot dan malah lebih menyukainya, itu karena bentuk dot dirancang khusus sesuai dengan bentuk puting susu yang baik. Puting susu yang baik untuk menyusui adalah jika areola (lingkaran hitam) pada payudara bisa masuk semua ke mulut bayi. Nah, jika puting tidak muncul, maka anak akan kesulitan untuk menyedot sampai areola yang membuat bayi merasa tidak nyaman untuk menyusu. Jadi, saat bayi dikenalkan dengan dot, bayi akan menikmati bentuk dot itu
Jangan Dipaksa
Saya dukung niat ibu untuk kembali menyusuinya secara langsung karena melalui proses tersebut kedekatan emosional anak dan ibu terjalin lebih erat.
Ibu harus mengubah perilaku ibu: bukan memaksa, tapi membujuk. Sebelum menyusui, ibu harus menenangkan diri dahulu. Temukan posisi duduk yang baik agar bisa menggendong bayi dengan nyaman.
Begitu bayi diposisikan dalam posisi menyusu ke payudara ibunya, mungkin anak ibu bergerak-gerak atau berontak. Jangan langsung menyodorkan payudara ibu pada mulut bayi. Tunggu beberapa saat hingga bayi merasa nyaman.
Usaplah lembut kepala atau badannya dengan gerakan satu arah ke bawah. Jangan naik turun karena hal itu malah akan merangsang emosi bayi.
Bujuklah ia dengan lembut, tataplah wajahnya dan lakukan kontak mata. Bujuklah ia dengan mengatakan ‘Mama ingin menyayangi kamu. Mama ingin menyusui kamu. Sini dong sama Mama’. Hal ini bertujuan untuk menjalin kembali hubungan emosional antara ibu dengan anak yang sempat terganggu di awalnya.
Nah, jika otot-otot badan bayi sudah tampak rileks, tidak kaku atau keras, berarti ia telah menemukan posisi yang nyaman di pelukan ibunya. Saat itulah ibu bisa mencoba untuk menyusuinya.
Olesi ASI
Jika anak ibu masih menolak, jangan dipaksakan. Ibu sebaiknya bersabar karena mungkin memerlukan proses lebih lama. Cobalah cara itu berkali-kali sambil diselingi dengan pemberian ASI melalui botol dot. Tapi sebelumnya olesi dulu karet dot dengan ASI sehingga ia bisa mencium bau ASI. Dengan begitu, anak merasa dekat dengan ibunya. Pasalnya, indera penciuman, pengecapan dan indera perasa pada bayi bekerja cukup kuat.
Sebagai langkah alternatif, sekarang ini banyak tersedia karet dot yang ditempelkan pada puting susu ibu. Hal ini membantu bayi agar lebih mudah menyedot ASI dari payudara. Jadi, anak tetap bisa menikmati ASI dari ibunya seolah-olah menyedot secara langsung. Lakukan terus pendekatan menyusui kepada anak ibu secara perlahan dan sabar hingga akhirnya ia tak menolak lagi untuk disusui secara langsung. Semoga berhasil, Bu!
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist, Marriage & Family Therapist.
Untuk konsultasi, hubungi di 087881705466 atau pin 2849C490. :)
Tuesday, 31 July 2012
Mendongeng Agar Perjalanan Mudik Tak Membosankan
Siapkan Dongeng Sebelum Mudik
Senangnya, libur lebaran telah tiba! Waktunya berkumpul dengan keluarga. Namun tak jarang, saat mudik si kecil merasa bosan. Salah satu aktivitas yang dapat Bunda lakukan untuk menghibur si kecil adalah mendongeng. Tapi Bunda harus tahu bahwa aktivitas mendengarkan cerita membutuhkan konsentrasi dan perhatian yang cukup tinggi bagi anak. Sedangkan rentang perhatian si preschooler masih cukup pendek, biasanya untuk kegiatan yang monoton, mereka hanya mampu bertahan kurang dari 15 menit. Yuk coba ikuti ide-ide segar berikut agar mendongeng tak lagi monoton, utamanya saat Lebaran!
Agar Mendongeng Tak Membosankan
Cerita sesuai daerah asal
Memilih cerita rakyat untuk didongengkan memiliki kelebihan tersendiri. Cerita rakyat mengandung nilai budaya yang tinggi dan asli Indonesia. Anak akan senang jika apa yang diceritakan dapat dilihat secara visual. Maka Bunda dapat memilih cerita yang sesuai daerah asal. Misalnya Bunda berasal dari Aceh, maka dongengkan cerita 'Raja Ganje', 'Manusia Bersarung Kodok' atau 'Si Tulot'. Anda pun bisa sekaligus memperkenalkan beberapa kata atau ungkapan dalam bahasa daerah tempat Anda berasal pada si kecil.
Pilih cerita rakyat yang jarang terekspose
Agar pengetahuan anak akan budaya Indonesia kian bertambah, pilih cerita rakyat yang jarang terekspose. Jika selama ini cerita rakyat dari Sumatera Barat yang dikenal luas adalah 'Malin Kundang' maka carilah alternatif lain untuk diceritakan pada anak, misalnya cerita 'Pak Lebai Malang'.
Sebelum mudik lebaran sisihkan sedikit waktu untuk mencari cerita-cerita rakyat tersebut melalui internet atau dapat juga mencarinya bersama si kecil di toko buku.
Mendongeng sambil berwisata
Misalnya, Bunda akan menceritakan asal-usul terbentuknya 'Gunung Tangkuban Perahu' atau 'Danau Toba', pasti lebih seru jika dilakukan sambil mengunjungi tempat tersebut. Selain dapat melihat secara langsung apa yang Bunda dongengkan, si preschooler juga akan lebih mengenal daerah tempat Bunda dan Ayahnya berasal.
Mendongeng sambil bermain peran dan kuis
Mendongeng satu arah, dimana anak hanya mendengarkan Bunda bercerita, tergolong kuno. Anda sebagai story teller dapat menciptakan cara mendongeng yang lebih segar dan menyenagkan. Biarkan Anda dan orang-orang dewasa lainnya yang tengah berkumpul saat Lebaran terlibat lebih banyak dengan memerankan tokoh dalam dongeng. Putar musik sesuai tema cerita, karena musik merupakan faktor pendukung sebuah cerita dapat menjadi pelengkap momen kebersamaan anda sekeluarga. Pada akhir sesi cerita, Anda dapat mengajak si kecil berinteraksi dengan memberi pertanyaan seputar jalan cerita dongeng tersebut. Jika anak bisa menjawab, berikan hadiah, misalnya berupa angpao atau bingkisan Lebaran.
Mendongeng sambil menggambar
Sediakan beberapa kertas gambar polos, krayon atau spidol. Letakkan kertas tersebut di samping Anda menghadap ke arah si kecil. Lalu sambil bercerita gambarkan tokoh dan kejadian seputarnya. Untuk mengurangi kebosanan, berikan pula kertas dan alat menggambar pada si kecil, agar ia bisa ikut menggambar atau sekedar mencoret-coret sambil mendengarkan cerita yang Anda sampaikan.
Mendongeng sambil bermain alat musik
Saat ini mendongeng tak melulu soal melafalkan kalimat demi kalimat saja. Divariasikan dengan lantunan nada pun namanya tetap mendongeng! Bercerita lebih seru jika sambil bermain alat musik, misalnya gitar, gendang, suling dan lain-lain. Ajak pula si kecil dan sepupunya untuk bernyanyi bersama. n
Tip Mendongeng yang Baik
Pilih cerita yang baik
Isi cerita menjadi faktor penting yang menentukan menarik atau tidaknya suatu dongeng. Selain itu tema yang baik juga sangat berguna bagi pekembangan kepribadiaan anak kelak. Pilihlah cerita yang bertemakan kelembutan, kedamaian, semangat tinggi, serta nilai-nilai lain yang dapat menguandang inspirasi dan imajinasi anak. Hindari cerita-cerita yang mengandung kekerasan, iri hati dan dengki.
Pendongeng harus berpikiran cerdas dan kreatif
Kecerdasan diperlukan karena pendongeng harus dapat menafsirkan isi (naskah) dongeng secara tepat. Ia tidak boleh menafsirkan isi (naskah) dongeng sesuai dengan kehendaknya tanpa memperhatikan ide dasar (naskah) dongeng. Di sinilah ia dituntut secara cerdas mampu menangkapnya.
Kuasai materi cerita
Jangan pernah mencoba menghapal sebuah cerita karena hanya akan membuat Bunda terperangkap didalamnya dan akan menemukan kesulitan untuk berimprovisasi jika lupa pada cerita yang akan diberikan.
Pelajari tokoh-tokoh dengan baik
Ada baiknya Bunda juga menguasai mengenai tokoh-tokoh didalamnya. Karakter dan sifat dari masing-masing tokoh dalam sebuah cerita. Jadi, jika cerita harus mengalami improvisasi, tokoh-tokohnya tidak mengalami perubahan karakter.
Mengubah isi cerita
Jika alur cerita dan detil suatu cerita terlupakan, Anda bisa untuk merubah isi dongeng yang penting inti cerita yang akan diceritakan tidak mengalami perubahan.
Ciptakan suasana yang tepat
Ciptakan suasana dimana anak berada dalam kondisi sadar dan senang saat Bunda membacakan cerita. Namun hindari suasana formal karena suasana formal malah membuat kondisi kaku dan tidak menyenangkan. Hindari juga suasana bising selama bercerita, sebaliknya buatlah suasana tenang dan hening.
Gunakan vokal dan intonasi yang baik
Pastikan Bunda memilih teknik vokal dan intonasi yang tepat dan sesuai dengan isi cerita saat mendongeng. Jangan memaksakan membuat suara-suara aneh hanya untuk menekankan tokoh tertentu jika Bunda memang tidak bisa. Hal tersebut hanya akan mempersulit Anda dalam mendongeng. Cara yang lebih mudah adalah dapat memperkecil atau memperbesar suara dengan disertai gerak tubuh sesuai dengan tokoh dalam cerita dongeng yang Anda bawakan.
Lakukan kontak mata
Pastikan melakukan kontak mata dengan anak saat Bunda bercerita, jangan hanya fokus pada buku bacaan.
Visualisasikan cerita
Usai mendongeng, mintalah anak untuk memvisualisasikan cerita baik dengan lukisan maupun gambar-gambar sederhana, dengan demikian Bunda jadi tahu apakah si kecil menangkap makna yang benar dari cerita tersebut.
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist, Marriage & Family Therapist.
Untuk konsultasi, hubungi di 087881705466 atau pin 2849C490. :)
Senangnya, libur lebaran telah tiba! Waktunya berkumpul dengan keluarga. Namun tak jarang, saat mudik si kecil merasa bosan. Salah satu aktivitas yang dapat Bunda lakukan untuk menghibur si kecil adalah mendongeng. Tapi Bunda harus tahu bahwa aktivitas mendengarkan cerita membutuhkan konsentrasi dan perhatian yang cukup tinggi bagi anak. Sedangkan rentang perhatian si preschooler masih cukup pendek, biasanya untuk kegiatan yang monoton, mereka hanya mampu bertahan kurang dari 15 menit. Yuk coba ikuti ide-ide segar berikut agar mendongeng tak lagi monoton, utamanya saat Lebaran!
Agar Mendongeng Tak Membosankan
Cerita sesuai daerah asal
Memilih cerita rakyat untuk didongengkan memiliki kelebihan tersendiri. Cerita rakyat mengandung nilai budaya yang tinggi dan asli Indonesia. Anak akan senang jika apa yang diceritakan dapat dilihat secara visual. Maka Bunda dapat memilih cerita yang sesuai daerah asal. Misalnya Bunda berasal dari Aceh, maka dongengkan cerita 'Raja Ganje', 'Manusia Bersarung Kodok' atau 'Si Tulot'. Anda pun bisa sekaligus memperkenalkan beberapa kata atau ungkapan dalam bahasa daerah tempat Anda berasal pada si kecil.
Pilih cerita rakyat yang jarang terekspose
Agar pengetahuan anak akan budaya Indonesia kian bertambah, pilih cerita rakyat yang jarang terekspose. Jika selama ini cerita rakyat dari Sumatera Barat yang dikenal luas adalah 'Malin Kundang' maka carilah alternatif lain untuk diceritakan pada anak, misalnya cerita 'Pak Lebai Malang'.
Sebelum mudik lebaran sisihkan sedikit waktu untuk mencari cerita-cerita rakyat tersebut melalui internet atau dapat juga mencarinya bersama si kecil di toko buku.
Mendongeng sambil berwisata
Misalnya, Bunda akan menceritakan asal-usul terbentuknya 'Gunung Tangkuban Perahu' atau 'Danau Toba', pasti lebih seru jika dilakukan sambil mengunjungi tempat tersebut. Selain dapat melihat secara langsung apa yang Bunda dongengkan, si preschooler juga akan lebih mengenal daerah tempat Bunda dan Ayahnya berasal.
Mendongeng sambil bermain peran dan kuis
Mendongeng satu arah, dimana anak hanya mendengarkan Bunda bercerita, tergolong kuno. Anda sebagai story teller dapat menciptakan cara mendongeng yang lebih segar dan menyenagkan. Biarkan Anda dan orang-orang dewasa lainnya yang tengah berkumpul saat Lebaran terlibat lebih banyak dengan memerankan tokoh dalam dongeng. Putar musik sesuai tema cerita, karena musik merupakan faktor pendukung sebuah cerita dapat menjadi pelengkap momen kebersamaan anda sekeluarga. Pada akhir sesi cerita, Anda dapat mengajak si kecil berinteraksi dengan memberi pertanyaan seputar jalan cerita dongeng tersebut. Jika anak bisa menjawab, berikan hadiah, misalnya berupa angpao atau bingkisan Lebaran.
Mendongeng sambil menggambar
Sediakan beberapa kertas gambar polos, krayon atau spidol. Letakkan kertas tersebut di samping Anda menghadap ke arah si kecil. Lalu sambil bercerita gambarkan tokoh dan kejadian seputarnya. Untuk mengurangi kebosanan, berikan pula kertas dan alat menggambar pada si kecil, agar ia bisa ikut menggambar atau sekedar mencoret-coret sambil mendengarkan cerita yang Anda sampaikan.
Mendongeng sambil bermain alat musik
Saat ini mendongeng tak melulu soal melafalkan kalimat demi kalimat saja. Divariasikan dengan lantunan nada pun namanya tetap mendongeng! Bercerita lebih seru jika sambil bermain alat musik, misalnya gitar, gendang, suling dan lain-lain. Ajak pula si kecil dan sepupunya untuk bernyanyi bersama. n
Tip Mendongeng yang Baik
Pilih cerita yang baik
Isi cerita menjadi faktor penting yang menentukan menarik atau tidaknya suatu dongeng. Selain itu tema yang baik juga sangat berguna bagi pekembangan kepribadiaan anak kelak. Pilihlah cerita yang bertemakan kelembutan, kedamaian, semangat tinggi, serta nilai-nilai lain yang dapat menguandang inspirasi dan imajinasi anak. Hindari cerita-cerita yang mengandung kekerasan, iri hati dan dengki.
Pendongeng harus berpikiran cerdas dan kreatif
Kecerdasan diperlukan karena pendongeng harus dapat menafsirkan isi (naskah) dongeng secara tepat. Ia tidak boleh menafsirkan isi (naskah) dongeng sesuai dengan kehendaknya tanpa memperhatikan ide dasar (naskah) dongeng. Di sinilah ia dituntut secara cerdas mampu menangkapnya.
Kuasai materi cerita
Jangan pernah mencoba menghapal sebuah cerita karena hanya akan membuat Bunda terperangkap didalamnya dan akan menemukan kesulitan untuk berimprovisasi jika lupa pada cerita yang akan diberikan.
Pelajari tokoh-tokoh dengan baik
Ada baiknya Bunda juga menguasai mengenai tokoh-tokoh didalamnya. Karakter dan sifat dari masing-masing tokoh dalam sebuah cerita. Jadi, jika cerita harus mengalami improvisasi, tokoh-tokohnya tidak mengalami perubahan karakter.
Mengubah isi cerita
Jika alur cerita dan detil suatu cerita terlupakan, Anda bisa untuk merubah isi dongeng yang penting inti cerita yang akan diceritakan tidak mengalami perubahan.
Ciptakan suasana yang tepat
Ciptakan suasana dimana anak berada dalam kondisi sadar dan senang saat Bunda membacakan cerita. Namun hindari suasana formal karena suasana formal malah membuat kondisi kaku dan tidak menyenangkan. Hindari juga suasana bising selama bercerita, sebaliknya buatlah suasana tenang dan hening.
Gunakan vokal dan intonasi yang baik
Pastikan Bunda memilih teknik vokal dan intonasi yang tepat dan sesuai dengan isi cerita saat mendongeng. Jangan memaksakan membuat suara-suara aneh hanya untuk menekankan tokoh tertentu jika Bunda memang tidak bisa. Hal tersebut hanya akan mempersulit Anda dalam mendongeng. Cara yang lebih mudah adalah dapat memperkecil atau memperbesar suara dengan disertai gerak tubuh sesuai dengan tokoh dalam cerita dongeng yang Anda bawakan.
Lakukan kontak mata
Pastikan melakukan kontak mata dengan anak saat Bunda bercerita, jangan hanya fokus pada buku bacaan.
Visualisasikan cerita
Usai mendongeng, mintalah anak untuk memvisualisasikan cerita baik dengan lukisan maupun gambar-gambar sederhana, dengan demikian Bunda jadi tahu apakah si kecil menangkap makna yang benar dari cerita tersebut.
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist, Marriage & Family Therapist.
Untuk konsultasi, hubungi di 087881705466 atau pin 2849C490. :)
Thursday, 26 July 2012
Awas! Anak Anda Korban Bullying di Sekolah
Awas! Anak Anda Korban Pemalakan dan Ejekan di Sekolah
Tanya: Saya merasa kesulitan dan sedih menghadapi masalah anak saya, Dedi, kelas IV SD. Ia mogok pergi ke sekolah selama hampir 2 minggu. Saya tanya mengapa dia malas pergi ke sekolah, dia bungkam. Bahkan, ketika gurunya datang ke rumah menanyakan hal tersebut, dia tetap tidak menjawabnya.
Kemudian saya dan gurunya mencoba menanyakan kepada beberapa teman dekat Dedi. Mulai ada sedikit kejelasan, mungkin dia takut pergi ke sekolah karena sering diolok-olok temannya sebagai anak manja, cengeng, dan selalu ingin diperhatikan gurunya. Ia juga pernah dimintai uang oleh teman-temannya.
Selain itu, anak saya lambat dalam mengikuti pelajaran dan kurang percaya diri dalam memulai suatu kegiatan. Mungkinkah anak saya malas pergi ke sekolah karena sering diganggu temannya? Kenapa hal tersebut bisa terjadi pada anak saya, dan anak-anak seperti apa yang bisa mengalaminya? Apa yang harus kami lakukan untuk mencegah ia malas ke sekolah? Terima kasih.
Jawab: Kasus di atas menunjukkan adanya kekerasan di sekolah, seperti cerita ibunda Dedi yang prihatin melihat anaknya menjadi korban olok-olok dan pemalakan. Kasus pemalakan tidak hanya terjadi di tingkat SMP dan SMA saja, kini masalah pemalakan juga dialami anak-anak sekolah dasar. Pemalakan merupakan salah satu bentuk kekerasan yang akhir-akhir ini sering terjadi di lingkungan sekolah.
Pemalakan biasanya didefinisikan dengan meminta uang secara paksa kepada orang lain. Padahal target pemalakan tidak hanya terbatas pada uang saja, bisa jam tangan, tas, cincin, gelang, kalung, dan sebagainya. Pemalakan merupakan salah satu contoh dari bullying.
Bullying Luas Cakupannya
Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan bullying? Bullying mengarah kepada tindakan yang mengganggu orang lain, dilakukan secara sengaja dan sifatnya berupa agresi fisik ataupun psikologis.
Bullying terbagi menjadi tiga. Yang pertama, bullying fisik seperti memukul, menampar, mencubit, atau memalak. Kedua, bullying verbal seperti memaki, menggosip atau mengejek. Dan, bullying psikologis seperti mengintimidasi, mengabaikan dan tindakan diskriminatif.
Kasus-kasus bullying yang terjadi di sekolah belum mendapat perhatian khusus dari pihak guru. Mereka masih menganggap bullying sebagai hal biasa. Malahan, penggencetan atau olok-olok antar teman maupun antara senior dan yunior merupakan semacam tradisi yang harus dilewati oleh setiap anak baru di sekolah.
Penggencetan yang dilakukan oleh kakak kelas terhadap adik kelasnya disebut dengan hazing, yaitu kegiatan yang biasanya dilakukan oleh anggota kelompok yang sudah senior, yang berupa keharusan bagi yunior untuk melakukan tugas-tugas yang memalukan, melecehkan bahkan juga menyiksa atau setidaknya menimbulkan ketidaknyamanan fisik maupun psikis sebagai syarat penerimaan anggota baru sebuah kelompok.
Sebagai contoh konkrit, sebuah sekolah menengah atas khusus murid laki-laki di daerah Jakarta Selatan, para murid kelas dua dan tiga hampir tiap siang suka membikin lingkaran di sebuah taman perumahan yang kebetulan berada di samping sekolah. Di tengah lingkaran yang sengaja dibikin rapat agar orang tidak bisa melihat itu (dan alasan utama lainnya), mereka memaksa dua murid kelas satu untuk berkelahi dengan tangan telanjang. Tanpa aturan, tanpa batas waktu, dan sama sekali tidak boleh menerobos lingkaran (inilah alasan mengapa lingkaran dirapatkan). Baru selesai kalau salah satu berteriak menyerah kalah atau memang terluka cukup parah. Tentu saja, jika berteriak menyerah kalah, bisa-bisa sepanjang tiga tahun, ia akan diejek sebagai banci. Dan “tradisi” ini berjalan dengan mulus – sekali lagi, hampir tiap hari – selama bertahun-tahun; persis di samping pagar tembok tinggi sekolah yang memiliki aturan tertulis sangat ketat itu; termasuk melarang muridnya membawa mobil dan senjata tajam ke sekolah. Sementara para tukang warung dan pelanggan warung yang ada di sekitar tempat kejadian bukannya tidak pernah membubarkan gerombolan itu. Namun, setiap kali dibubarkan, keesokan harinya mereka akan “melanjutkan” ronde-ronde yang tertunda itu.
Penonton Ikut Bertanggungjawab
Malah, sebagian guru pun menganggap biasa kalau kakak kelas mengintimidasi adik kelas. Alasannya, si adik kelas juga akan melakukan hal sama kalau dia sudah duduk di kelas yang lebih tinggi. Suasana seperti itu sangat kondusif memunculkan bullying.
Terjadinya bullying di sekolah merupakan proses dinamika kelompok, di mana ada pembagian peran. Peran-peran tersebut adalah: Bully, Asisten Bully, Reinforcer, Victim, Defender dan Outsider. Bully, yaitu siswa yang dikategorikan sebagai pemimpin, yang berinisiatif dan aktif terlibat dalam perilaku bullying. Asisten juga terlibat aktif dalam perilaku bullying, namun ia cenderung tergantung atau mengikuti perintah Bully. Reinforcer adalah mereka yang ada ketika kejadian bullying terjadi, ikut menyaksikan, menertawakan korban, memprovokasi Bully, mengajak siswa lain untuk menonton dan sebagainya. Outsider adalah orang-orang tahu bahwa hal itu terjadi, namun tidak melakukan apapun, seolah-¬olah tidak peduli.
Perlu disadari bahwa bullying terjadi dan menjadi tradisi bukan hanya karena adanya Bully, Asisten Bully dan Victim (korban) saja, melainkan karena peran serta pihak-pihak yang pasif seperti misalnya Reinforcer dan juga Outsider. Ketika Bully melakukan kekerasan, ia merasa mendapat dukungan, baik dari asistennya maupun dari para penonton yang bersorak atau ikut tertawa (Reinforcer).
Selain itu, karena Bully juga tidak mendapatkan konsekuensi negatif dari pihak guru atau sekolah, maka dari sudut teori belajar, Bully mendapatkan reward atau penguatan atas perilakunya. Si Bully akan mempersepsikan bahwa perilakunya justru mendapatkan pembenaran bahkan memberinya identitas sosial yang membanggakan.
Banyak kasus pemalakan yang belum ditangani secara serius oleh pihak-pihak yang berwenang. Berbeda halnya dengan di luar negeri, masalah pemalakan mendapat perhatian yang cukup besar untuk ditangani.
Siapa Pembuli? Ciri-ciri Korban?
Anak-anak yang menjadi korban pemalakan biasanya anak-anak yang termasuk slow learner atau yang lemah dalam hal menangkap pelajaran, lemah secara fisik, sakit-sakitan, ‘anak mami’ yang selalu diantar, jemput dan ditunggui ibunya.
Lalu, untuk si pelaku pemalakan sendiri, tidak selalu didasari kebutuhan akan uang.
Pemalak melakukan tindakan pemalakan untuk mencari kekuasaan yang lebih atas orang lain, menjadi raja di kelas, menjadi pemimpin di antara gengnya. Dengan kata lain, ada kepuasan tersendiri bagi si pemalak ketika berhasil memaksa orang lain menyerahkan miliknya.
Dampak Bullying bagi Anak-anak.
Ada beberapa dampak yang terjadi pada anak korban pemalakan, di antaranya school phobia atau anak menjadi takut untuk sekolah, motivasi berprestasi menurun, takut untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, merasa cemas saat akan pergi ke sekolah dan lambat laun akan berpengaruh pada prestasi belajar anak itu sendiri.
Bagi anak-anak yang pernah menjadi korban pemalakan, pihak orangtua dan sekolah harus menanganinya dengan baik. Hal utama yang ditekankan kepada si anak adalah harga diri (self esteem) anak harus dibangkitkan terlebih dahulu. Anak tidak boleh memiliki konsep diri yang rendah tentang dirinya. Jangan sampai anak memiliki konsep bahwa dirinya anak yang lemah, anak yang bodoh, anak yang memang pantas menjadi sasaran untuk “dikerjai” oleh teman-temannya. Jika anak mengalami pemalakan ajarkan anak untuk berani melapor kepada gurunya, melatih anak lebih mandiri dan berani berkata “tidak” apabila dipaksa oleh temannya untuk menyerahkan uang.
Cara Menangani Bullying
Guru dapat mengajarkan cara berkomunikasi yang asertif kepada siswa. Jika pelaku bullying direspon dengan cukup asertif oleh korbannya, maka ia akan berfikir dua kali untuk meneruskan perbuatannya. Contoh, bila seorang anak dibentak dan dipaksa menyerahkan miliknya, ia dapat dengan tegas menolaknya, “Aku tidak mau, untuk apa kamu memintanya…”
Bersikap asertif artinya kita mampu untuk berkata "tidak," mampu meminta pertolongan, mampu mengekspresikan perasaan positif dan negatif secara wajar, dan mampu berkomunikasi tentang hal-hal yang bersifat umum. Jadi, orang yang memiliki sikap asertif adalah orang yang memiliki keberanian untuk mengekspresikan hak, pikiran, perasaan, dan kepercayaan secara langsung, jujur, terhormat dan tanpa menyakiti orang lain.
Komunikasi asertif ini intinya adalah melakukan penyadaran bagi pelaku bullying bahwa yang menjadi korbannya benar-benar tidak senang dengan perilaku tersebut, dan ia diarahkan untuk menyampaikan secara terbuka terhadap si pelaku.
Salah satu kunci untuk menangani kasus kekerasan di sekolah adalah dengan menciptakan suasana sekolah yang nyaman. Memang terkesan sangat teoritis sekali, menciptakan suasana sekolah yang nyaman tidak semudah yang dibayangkan, perlu ada kerjasama yang baik antara pihak sekolah, murid, orangtua dan tentunya lingkungan sekitar. Selain itu, pihak pengajar diharapkan memiliki hubungan yang dekat dengan murid, sehingga jika ada sesuatu yang tidak beres, guru dapat langsung menyadari dan ditangani lebih cepat.
Sebaiknya guru tidak hanya mengajar di kelas saja. Akan lebih baik jika guru mau berkeliling di area sekolah pada jam istirahat, seperti di kantin, toilet, lapangan olah raga, lorong-lorong sekolah, tempat-tempat lain yang cukup tersembunyi, untuk memantau kegiatan sehari-hari di sekolah.
Orangtua pun harus rajin mengamati dan bertanya, apa yang terjadi di sekolah. Laporkan ke pihak sekolah jika ada bukti intimidasi fisik dan psikis yang mengancam anak. Jika tidak ada tindakan dari pihak sekolah, bisa dipertimbangkan untuk memindahkan anak ke sekolah lain.
Tips untuk anak-anak saat menghadapi pembuli
• Jika ada teman atau kakak kelas yang meminta uang, jangan langsung diberikan, tanyakan lebih dahulu alasannya.
• Jangan takut untuk melapor kepada orangtua dan guru.
• Hati-hati jika diajak ke tempat sepi oleh orang yang tidak dikenal.
• Jangan ragu untuk berteriak meminta tolong, agar menarik perhatian orang-orang di sekeliling.
Tips untuk Orangtua Mencegah Anak Jadi Korban Bully
• Ajarkan kepada anak untuk lebih mandiri dan percaya diri.
• Latih anak untuk berani berkata ‘tidak’ kepada orang lain.
• Menjalin komunikasi yang baik dengan guru kelas atau pihak sekolah.
• Ajarkan kepada anak untuk membangun sosialisasi yang baik dengan teman-temannya.
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist, Marriage & Family Therapist.
Untuk konsultasi, hubungi di 087881705466 atau pin 2849C490. :)
Tanya: Saya merasa kesulitan dan sedih menghadapi masalah anak saya, Dedi, kelas IV SD. Ia mogok pergi ke sekolah selama hampir 2 minggu. Saya tanya mengapa dia malas pergi ke sekolah, dia bungkam. Bahkan, ketika gurunya datang ke rumah menanyakan hal tersebut, dia tetap tidak menjawabnya.
Kemudian saya dan gurunya mencoba menanyakan kepada beberapa teman dekat Dedi. Mulai ada sedikit kejelasan, mungkin dia takut pergi ke sekolah karena sering diolok-olok temannya sebagai anak manja, cengeng, dan selalu ingin diperhatikan gurunya. Ia juga pernah dimintai uang oleh teman-temannya.
Selain itu, anak saya lambat dalam mengikuti pelajaran dan kurang percaya diri dalam memulai suatu kegiatan. Mungkinkah anak saya malas pergi ke sekolah karena sering diganggu temannya? Kenapa hal tersebut bisa terjadi pada anak saya, dan anak-anak seperti apa yang bisa mengalaminya? Apa yang harus kami lakukan untuk mencegah ia malas ke sekolah? Terima kasih.
Jawab: Kasus di atas menunjukkan adanya kekerasan di sekolah, seperti cerita ibunda Dedi yang prihatin melihat anaknya menjadi korban olok-olok dan pemalakan. Kasus pemalakan tidak hanya terjadi di tingkat SMP dan SMA saja, kini masalah pemalakan juga dialami anak-anak sekolah dasar. Pemalakan merupakan salah satu bentuk kekerasan yang akhir-akhir ini sering terjadi di lingkungan sekolah.
Pemalakan biasanya didefinisikan dengan meminta uang secara paksa kepada orang lain. Padahal target pemalakan tidak hanya terbatas pada uang saja, bisa jam tangan, tas, cincin, gelang, kalung, dan sebagainya. Pemalakan merupakan salah satu contoh dari bullying.
Bullying Luas Cakupannya
Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan bullying? Bullying mengarah kepada tindakan yang mengganggu orang lain, dilakukan secara sengaja dan sifatnya berupa agresi fisik ataupun psikologis.
Bullying terbagi menjadi tiga. Yang pertama, bullying fisik seperti memukul, menampar, mencubit, atau memalak. Kedua, bullying verbal seperti memaki, menggosip atau mengejek. Dan, bullying psikologis seperti mengintimidasi, mengabaikan dan tindakan diskriminatif.
Kasus-kasus bullying yang terjadi di sekolah belum mendapat perhatian khusus dari pihak guru. Mereka masih menganggap bullying sebagai hal biasa. Malahan, penggencetan atau olok-olok antar teman maupun antara senior dan yunior merupakan semacam tradisi yang harus dilewati oleh setiap anak baru di sekolah.
Penggencetan yang dilakukan oleh kakak kelas terhadap adik kelasnya disebut dengan hazing, yaitu kegiatan yang biasanya dilakukan oleh anggota kelompok yang sudah senior, yang berupa keharusan bagi yunior untuk melakukan tugas-tugas yang memalukan, melecehkan bahkan juga menyiksa atau setidaknya menimbulkan ketidaknyamanan fisik maupun psikis sebagai syarat penerimaan anggota baru sebuah kelompok.
Sebagai contoh konkrit, sebuah sekolah menengah atas khusus murid laki-laki di daerah Jakarta Selatan, para murid kelas dua dan tiga hampir tiap siang suka membikin lingkaran di sebuah taman perumahan yang kebetulan berada di samping sekolah. Di tengah lingkaran yang sengaja dibikin rapat agar orang tidak bisa melihat itu (dan alasan utama lainnya), mereka memaksa dua murid kelas satu untuk berkelahi dengan tangan telanjang. Tanpa aturan, tanpa batas waktu, dan sama sekali tidak boleh menerobos lingkaran (inilah alasan mengapa lingkaran dirapatkan). Baru selesai kalau salah satu berteriak menyerah kalah atau memang terluka cukup parah. Tentu saja, jika berteriak menyerah kalah, bisa-bisa sepanjang tiga tahun, ia akan diejek sebagai banci. Dan “tradisi” ini berjalan dengan mulus – sekali lagi, hampir tiap hari – selama bertahun-tahun; persis di samping pagar tembok tinggi sekolah yang memiliki aturan tertulis sangat ketat itu; termasuk melarang muridnya membawa mobil dan senjata tajam ke sekolah. Sementara para tukang warung dan pelanggan warung yang ada di sekitar tempat kejadian bukannya tidak pernah membubarkan gerombolan itu. Namun, setiap kali dibubarkan, keesokan harinya mereka akan “melanjutkan” ronde-ronde yang tertunda itu.
Penonton Ikut Bertanggungjawab
Malah, sebagian guru pun menganggap biasa kalau kakak kelas mengintimidasi adik kelas. Alasannya, si adik kelas juga akan melakukan hal sama kalau dia sudah duduk di kelas yang lebih tinggi. Suasana seperti itu sangat kondusif memunculkan bullying.
Terjadinya bullying di sekolah merupakan proses dinamika kelompok, di mana ada pembagian peran. Peran-peran tersebut adalah: Bully, Asisten Bully, Reinforcer, Victim, Defender dan Outsider. Bully, yaitu siswa yang dikategorikan sebagai pemimpin, yang berinisiatif dan aktif terlibat dalam perilaku bullying. Asisten juga terlibat aktif dalam perilaku bullying, namun ia cenderung tergantung atau mengikuti perintah Bully. Reinforcer adalah mereka yang ada ketika kejadian bullying terjadi, ikut menyaksikan, menertawakan korban, memprovokasi Bully, mengajak siswa lain untuk menonton dan sebagainya. Outsider adalah orang-orang tahu bahwa hal itu terjadi, namun tidak melakukan apapun, seolah-¬olah tidak peduli.
Perlu disadari bahwa bullying terjadi dan menjadi tradisi bukan hanya karena adanya Bully, Asisten Bully dan Victim (korban) saja, melainkan karena peran serta pihak-pihak yang pasif seperti misalnya Reinforcer dan juga Outsider. Ketika Bully melakukan kekerasan, ia merasa mendapat dukungan, baik dari asistennya maupun dari para penonton yang bersorak atau ikut tertawa (Reinforcer).
Selain itu, karena Bully juga tidak mendapatkan konsekuensi negatif dari pihak guru atau sekolah, maka dari sudut teori belajar, Bully mendapatkan reward atau penguatan atas perilakunya. Si Bully akan mempersepsikan bahwa perilakunya justru mendapatkan pembenaran bahkan memberinya identitas sosial yang membanggakan.
Banyak kasus pemalakan yang belum ditangani secara serius oleh pihak-pihak yang berwenang. Berbeda halnya dengan di luar negeri, masalah pemalakan mendapat perhatian yang cukup besar untuk ditangani.
Siapa Pembuli? Ciri-ciri Korban?
Anak-anak yang menjadi korban pemalakan biasanya anak-anak yang termasuk slow learner atau yang lemah dalam hal menangkap pelajaran, lemah secara fisik, sakit-sakitan, ‘anak mami’ yang selalu diantar, jemput dan ditunggui ibunya.
Lalu, untuk si pelaku pemalakan sendiri, tidak selalu didasari kebutuhan akan uang.
Pemalak melakukan tindakan pemalakan untuk mencari kekuasaan yang lebih atas orang lain, menjadi raja di kelas, menjadi pemimpin di antara gengnya. Dengan kata lain, ada kepuasan tersendiri bagi si pemalak ketika berhasil memaksa orang lain menyerahkan miliknya.
Dampak Bullying bagi Anak-anak.
Ada beberapa dampak yang terjadi pada anak korban pemalakan, di antaranya school phobia atau anak menjadi takut untuk sekolah, motivasi berprestasi menurun, takut untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, merasa cemas saat akan pergi ke sekolah dan lambat laun akan berpengaruh pada prestasi belajar anak itu sendiri.
Bagi anak-anak yang pernah menjadi korban pemalakan, pihak orangtua dan sekolah harus menanganinya dengan baik. Hal utama yang ditekankan kepada si anak adalah harga diri (self esteem) anak harus dibangkitkan terlebih dahulu. Anak tidak boleh memiliki konsep diri yang rendah tentang dirinya. Jangan sampai anak memiliki konsep bahwa dirinya anak yang lemah, anak yang bodoh, anak yang memang pantas menjadi sasaran untuk “dikerjai” oleh teman-temannya. Jika anak mengalami pemalakan ajarkan anak untuk berani melapor kepada gurunya, melatih anak lebih mandiri dan berani berkata “tidak” apabila dipaksa oleh temannya untuk menyerahkan uang.
Cara Menangani Bullying
Guru dapat mengajarkan cara berkomunikasi yang asertif kepada siswa. Jika pelaku bullying direspon dengan cukup asertif oleh korbannya, maka ia akan berfikir dua kali untuk meneruskan perbuatannya. Contoh, bila seorang anak dibentak dan dipaksa menyerahkan miliknya, ia dapat dengan tegas menolaknya, “Aku tidak mau, untuk apa kamu memintanya…”
Bersikap asertif artinya kita mampu untuk berkata "tidak," mampu meminta pertolongan, mampu mengekspresikan perasaan positif dan negatif secara wajar, dan mampu berkomunikasi tentang hal-hal yang bersifat umum. Jadi, orang yang memiliki sikap asertif adalah orang yang memiliki keberanian untuk mengekspresikan hak, pikiran, perasaan, dan kepercayaan secara langsung, jujur, terhormat dan tanpa menyakiti orang lain.
Komunikasi asertif ini intinya adalah melakukan penyadaran bagi pelaku bullying bahwa yang menjadi korbannya benar-benar tidak senang dengan perilaku tersebut, dan ia diarahkan untuk menyampaikan secara terbuka terhadap si pelaku.
Salah satu kunci untuk menangani kasus kekerasan di sekolah adalah dengan menciptakan suasana sekolah yang nyaman. Memang terkesan sangat teoritis sekali, menciptakan suasana sekolah yang nyaman tidak semudah yang dibayangkan, perlu ada kerjasama yang baik antara pihak sekolah, murid, orangtua dan tentunya lingkungan sekitar. Selain itu, pihak pengajar diharapkan memiliki hubungan yang dekat dengan murid, sehingga jika ada sesuatu yang tidak beres, guru dapat langsung menyadari dan ditangani lebih cepat.
Sebaiknya guru tidak hanya mengajar di kelas saja. Akan lebih baik jika guru mau berkeliling di area sekolah pada jam istirahat, seperti di kantin, toilet, lapangan olah raga, lorong-lorong sekolah, tempat-tempat lain yang cukup tersembunyi, untuk memantau kegiatan sehari-hari di sekolah.
Orangtua pun harus rajin mengamati dan bertanya, apa yang terjadi di sekolah. Laporkan ke pihak sekolah jika ada bukti intimidasi fisik dan psikis yang mengancam anak. Jika tidak ada tindakan dari pihak sekolah, bisa dipertimbangkan untuk memindahkan anak ke sekolah lain.
Tips untuk anak-anak saat menghadapi pembuli
• Jika ada teman atau kakak kelas yang meminta uang, jangan langsung diberikan, tanyakan lebih dahulu alasannya.
• Jangan takut untuk melapor kepada orangtua dan guru.
• Hati-hati jika diajak ke tempat sepi oleh orang yang tidak dikenal.
• Jangan ragu untuk berteriak meminta tolong, agar menarik perhatian orang-orang di sekeliling.
Tips untuk Orangtua Mencegah Anak Jadi Korban Bully
• Ajarkan kepada anak untuk lebih mandiri dan percaya diri.
• Latih anak untuk berani berkata ‘tidak’ kepada orang lain.
• Menjalin komunikasi yang baik dengan guru kelas atau pihak sekolah.
• Ajarkan kepada anak untuk membangun sosialisasi yang baik dengan teman-temannya.
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist, Marriage & Family Therapist.
Untuk konsultasi, hubungi di 087881705466 atau pin 2849C490. :)
Bentengi Anak dari Si Penggertak
Bentengi si Kecil dari Si Penggertak
"Hei gendut... habis makan bakso lima piring ya? Gede banget perutnya!” seru Bobi, sang kakak kelas kepada Manda, yang memang menderita obesitas. Ketika ejekan Bobi membuat Manda merasa direndahkan dan kehilangan rasa percaya diri, itu berarti Manda telah menjadi korban bullying secara verbal dan psikologis.
Belakangan ini memang marak terjadi kasus bullying, utamanya di lingkungan sekolah. Mungkin buah hati Bunda menjadi salah satu korbannya. Bagaimana menghindari si kecil dari si penggertak atau pembuli?
Berani Katakan 'Tidak!' Pada Pembuli
Berani berkata tidak dan mengacuhkannya merupakan salah satu cara untuk mengatasi jika si kecil menjadi korban bullying. Selain itu, ada baiknya Bunda juga mengajari sang buah hati untuk menahan amarah atau emosi negatif, seperti menangis. Pasalnya, reaksi itulah yang diharapkan dari para pembuli.
Perlu Bunda ketahui, pembuli jarang bisa berhenti begitu saja dengan tiba-tiba. Sehingga, anak yang dibuli (korban bullying) harus segera memberitahu dan meminta bantuan kepada orang yang lebih dewasa seperti orangtua atau guru. Hindari tempat di mana mereka biasa dibuli atau lebih baik menghindar dari pembuli. Sebaiknya, anak yang dibuli berkumpul dengan kelompok anak-anak yang baik, agar bisa saling membantu saat salah satu dari mereka dibuli.
Tiga Macam Bullying
Pada dasarnya Bullying merupakan tindakan yang bertujuan dengan sengaja untuk menyakiti orang lain.
Ada tiga bentuk bullying. Pertama, bersifat fisik seperti memukul, menjegal, mendorong dengan sengaja, menampar, memalak, menjatuhkan, hingga menggunakan alat-alat bantu. Kedua, bersifat verbal seperti memaki, menggosip, mengejek atau memanggil dengan sebutan yang memalukan, mengeluarkan kata-kata yang kotor atau tidak sepatutnya. Ketiga, bersifat psikologis secara tidak langsung (indirect), seperti menyebarkan rumor atau gosip, mengancam, mengintimidasi, ‘mengecilkan’, mengabaikan, mendiskriminasi, memanipulasi teman dan sebagainya.
Pada usia prasekolah (early chilhood) pun sebenarnya tindakan ini sudah banyak muncul. Namun terkadang kasus ini belum dimengerti atau tidak sengaja dilakukan oleh sang anak. Sebut saja seperti merebut mainan hingga mendorong temannya sampai terjatuh.
Pengaruh orangtua dan Lingkungan
Perilaku bullying bisa didapatkan langsung melalui perlakukan orangtuanya. Pun saat dia menonton televisi. Pasalnya, banyak acara tv yang tidak layak dilihat bagi si kecil. Lingkungan juga turut memengaruhi anak untuk melakukan bullying. Artinya, ketika si kecil dibesarkan dengan cara seperti itu, mereka belajar bahwa perilaku itu biasa dan wajar dilakukan. Dan biasanya si kecil kurang mendapat penghargaan dan kepercayaan dari lingkungannya. Jadi bisa dikatakan pelaku bullying sebenarnya juga merupakan korban. Sementara, yang menjadi korban bullying biasanya adalah anak-anak yang mempunyai konsep diri yang kurang baik, social skill yang kurang, tidak tahu bagaimana menolak atau mempertahankan diri mereka. Karakter ini bisa terbentuk dari pengasuhan dalam keluarga atau saat mereka berada di lingkungan. DB
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist, Marriage & Family Therapist.
Untuk konsultasi, hubungi di 087881705466 atau pin 2849C490. :)
"Hei gendut... habis makan bakso lima piring ya? Gede banget perutnya!” seru Bobi, sang kakak kelas kepada Manda, yang memang menderita obesitas. Ketika ejekan Bobi membuat Manda merasa direndahkan dan kehilangan rasa percaya diri, itu berarti Manda telah menjadi korban bullying secara verbal dan psikologis.
Belakangan ini memang marak terjadi kasus bullying, utamanya di lingkungan sekolah. Mungkin buah hati Bunda menjadi salah satu korbannya. Bagaimana menghindari si kecil dari si penggertak atau pembuli?
Berani Katakan 'Tidak!' Pada Pembuli
Berani berkata tidak dan mengacuhkannya merupakan salah satu cara untuk mengatasi jika si kecil menjadi korban bullying. Selain itu, ada baiknya Bunda juga mengajari sang buah hati untuk menahan amarah atau emosi negatif, seperti menangis. Pasalnya, reaksi itulah yang diharapkan dari para pembuli.
Perlu Bunda ketahui, pembuli jarang bisa berhenti begitu saja dengan tiba-tiba. Sehingga, anak yang dibuli (korban bullying) harus segera memberitahu dan meminta bantuan kepada orang yang lebih dewasa seperti orangtua atau guru. Hindari tempat di mana mereka biasa dibuli atau lebih baik menghindar dari pembuli. Sebaiknya, anak yang dibuli berkumpul dengan kelompok anak-anak yang baik, agar bisa saling membantu saat salah satu dari mereka dibuli.
Tiga Macam Bullying
Pada dasarnya Bullying merupakan tindakan yang bertujuan dengan sengaja untuk menyakiti orang lain.
Ada tiga bentuk bullying. Pertama, bersifat fisik seperti memukul, menjegal, mendorong dengan sengaja, menampar, memalak, menjatuhkan, hingga menggunakan alat-alat bantu. Kedua, bersifat verbal seperti memaki, menggosip, mengejek atau memanggil dengan sebutan yang memalukan, mengeluarkan kata-kata yang kotor atau tidak sepatutnya. Ketiga, bersifat psikologis secara tidak langsung (indirect), seperti menyebarkan rumor atau gosip, mengancam, mengintimidasi, ‘mengecilkan’, mengabaikan, mendiskriminasi, memanipulasi teman dan sebagainya.
Pada usia prasekolah (early chilhood) pun sebenarnya tindakan ini sudah banyak muncul. Namun terkadang kasus ini belum dimengerti atau tidak sengaja dilakukan oleh sang anak. Sebut saja seperti merebut mainan hingga mendorong temannya sampai terjatuh.
Pengaruh orangtua dan Lingkungan
Perilaku bullying bisa didapatkan langsung melalui perlakukan orangtuanya. Pun saat dia menonton televisi. Pasalnya, banyak acara tv yang tidak layak dilihat bagi si kecil. Lingkungan juga turut memengaruhi anak untuk melakukan bullying. Artinya, ketika si kecil dibesarkan dengan cara seperti itu, mereka belajar bahwa perilaku itu biasa dan wajar dilakukan. Dan biasanya si kecil kurang mendapat penghargaan dan kepercayaan dari lingkungannya. Jadi bisa dikatakan pelaku bullying sebenarnya juga merupakan korban. Sementara, yang menjadi korban bullying biasanya adalah anak-anak yang mempunyai konsep diri yang kurang baik, social skill yang kurang, tidak tahu bagaimana menolak atau mempertahankan diri mereka. Karakter ini bisa terbentuk dari pengasuhan dalam keluarga atau saat mereka berada di lingkungan. DB
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist, Marriage & Family Therapist.
Untuk konsultasi, hubungi di 087881705466 atau pin 2849C490. :)
Utamakan Kedekatan Fisik dan Emosional? Pilihlah Bonding Parenting!
Bonding Parenting: Metoda Parenting yang Mengutamakan Kedekatan Fisik dan Emosional
Belakangan ini banyak dibicarakan soal Parenting Kelekatan. Banyak orang yang mungkin sudah akrab dengan istilah ini sesungguhnya belum memahami betul apa itu Parenting Kelekatan. Istilah “Parenting Kelekatan” dilahirkan oleh dokter anak William Sears dan istrinya Martha untuk menjelaskan gaya pengasuhan anak yang sangat responsif dan sangat perhatian.
Parenting Kelekatan meningkatkan kedekatan fisik dan emosional antara orangtua dan anak melalui apa yang disebut pasangan Sears sebagai “Baby Bs.” Baby B ini adalah bonding (ikatan emosional), breastfeeding (menyusui dengan ASI), babywearing (menggendong), bedsharing (tidur dalam satu ranjang) dan boundary building (menetapkan batasan-batasan bagi bayi).
Parenting Kelekatan mendorong orangtua untuk kerap memeluk, menggendong dan memegang bayinya pada minggu-minggu awal kehidupannya agar ikatan emosional berkembang pesat. Memberi ASI dianjurkan karena meningkatkan instink alamiah ibu dalam menanggapi bayinya melalui kedekatan fisik, pengaruh hormonal dan besarnya perhatian ibu.
Baik menggendong maupun tidur seranjang memberi banyak peluang berdekatan. Sedangkan menetapkan batas-batas adalah metoda pendisiplinan yang mengedepankan respon pada kebutuhan anak sesuai dengan usianya dan penerapan bimbingan anak secara lembut.
Semua aspek Baby B ini bertujuan meningkatkan hubungan intuitif dan saling percaya antara orangtua dan bayinya melalui kedekatan fisik dan emosional. Kedekatan ini memungkinkan orangtua untuk mengetahui dan merespon kebutuhan bayinya dengan tepat.
Berbeda dengan metoda parenting yang lebih keras, Baby B bukanlah sekumpulan aturan yang harus diikuti, melainkan sekadar rekomendasi yang bisa dan musti disesuaikan dengan keadaan keluarga masing-masing.
Bagaimana dengan soal makan dan tidur bayi misalnya? Gaya parenting kelekatan ini tidak berpatokan kaku pada urutan atau kalender perkembangan bayi, melainkan lebih berdasarkan pengamatan akan kesiapan bayi. Waktu tidur bayi misalnya, tidak harus kaku pada jam sekian. Kalau bayi menunjukkan tanda-tanda mengantuk, walau belum waktunya tidur, ya tidurkan saja. Begitu pula dengan soal makan, ditinggal bersama baby sitter, tidur sendiri atau perilaku baru lainnya.
Tentu saja, untuk memahami tanda-tanda kesiapan bayi, Anda harus mengenal bayi Anda dengan intim. Orangtua yang memutuskan untuk menerapkan metoda parenting ini musti meluangkan cukup waktu bersama bayinya. Kerap berdekatan dan memperhatikannya.
Salah satu keuntungan lain gaya parenting kelekatan ini, orangtua bisa segera tahu kalau mereka berbuat kesalahan sehingga cepat pula memperbaikinya. Maklum saja, pengenalan mendalam orangtua pada anaknya ini termasuk mengevaluasi reaksi-reaksi anaknya terhadap cara orangtua mengasuhnya.
Merespon Tiap Kali Bayi Menangis
Dengan demikian, pasangan yang menjalankan parenting kelekatan tentu tidak mungkin membiarkan bayinya 'menangis berkepanjangan.' Mereka musti merespon tangis bayinya, walau ada mitos bahwa bayi akan manja jika selalu diperhatikan tiap kali menangis. Sebaliknya, orangtua tipe ini tahu bahwa menangis adalah alat bertahan hidup bayi yang sangat ampuh; tangisan memang alat yang dimaksudkan untuk menimbulkan respon orangtua. Mereka yakin bahwa merespon tangisan bayi malah akan membangun rasa percaya yang kokoh, sekaligus mengajari orangtua untuk 'mendengarkan' anaknya dan langkah awal mengembangkan komunikasi orangtua-anak yang baik.
Filosofi parenting kelekatan ini tidak asal-asalan. Bahkan didukung oleh kenyataan biologi manusia. Setiap kali mendengar bayinya menangis, tubuh seorang ibu (juga ayah) akan mengeluarkan hormon yang akan membuatnya merasa tidak nyaman jika membiarkan anaknya. Jadi, kalau ada orang tua sampai tak peduli pada anaknya, itu berarti melawan 'hukum biologis'nya.
Menyusui dengan ASI
Pemakai gaya parenting kelekatan juga faham akan pentingnya memberi ASI. Menyusui berarti memberi nutrisi optimal dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, karena ASI lebih cepat dicerna, menyusui menjamin bayi sering dipeluk saat menyusu dan terus menerus dekat ibunya. Orangtua yakin bahwa memberi ASI eksklusif menunjukkan kebutuhan biologis bayi untuk terus menerus berlekatan dengan ibunya sebagai transisi alamiah dari kehidupan di dalam rahim. Sebaliknya, jika bayi tidak diberi ASI, ia seakan-akan dipaksa atau direnggut untuk berjauhan dengan ibunya.
Menggendong dan Tidur Seranjang
Menggendong dan tidur seranjang merupakan perluasan alamiah pemenuhan kebutuhan bayi untuk terus berdekatan dengan orang tuanya. Ada banyak teknik menggendong yang bisa dipakai (Baca kembali tulisan saya tentang menggendong di FILES akun Group FB Dono Baswardono Parenting).
Sebagian orangtua lebih suka mengendong bayinya tanpa alat bantu sama sekali. Ada yang senang memakai selendang tradisional agar bayinya merasa lebih ‘adem’ di iklim Indonesia yang panas ini. Namun ada pula yang ‘tahu’ kalau bayinya lebih suka duduk di dalam stroller saat berjalan-jalan di taman misalnya.
Begitu pula soal tidur bersama. Ada orangtua yang tak mau menidurkan bayinya di dalam boks atau crib. Sebaliknya, mereka lebih suka menaruh kasur kecil di lantai kamar tidur mereka agar sewaktu-waktu bisa tidur bersama. Sebagian lagi lebih memilih bayinya ditidurkan di ranjang mereka, walau dengan konsekuensi tidur dan kegiatan mesra orangtua terpaksa menyesuaikan. Yang lain lagi, tetap menaruh bayi di dalam boks saat berangkat tidur sore, tetapi langsung memindahkannya di ranjang mereka setelah bayi menangis pada malam hari. Bahkan ada pula orangtua yang sengaja membeli boks bayi yang bisa dilekatkan di samping ranjang orangtua.
Tiap keluarga memutuskan apa yang paling cocok dengan kebutuhan mereka dan yang terbaik dalam memenuhi kebutuhan bayinya. Apa pun teknik yang diterapkan, yang penting bisa meningkatkan kedekatan antara orangtua dan bayinya.
Pendisiplinan dengan Lembut
Teknik pendisiplinan yang lembut jamak dilakukan oleh orangtua yang menerapkan Parenting Kelekatan. Metoda disiplin ini disesuaikan dengan umur bayi. Misalnya, orangtua memutuskan untuk meletakkan barang-barang yang gampang pecah di luar jangkauan bayinya daripada memberitahu balitanya untuk tidak menyentuh atau memegang barang-barang itu karena orang tua ini sadar betapa tidak realistis mengharapkan bayinya bisa menahan diri untuk tidak memegangi barang-barang yang menarik baginya.
Toh orangtua ini tentu tidak kesulitan untuk melarang anaknya yang telah berusia sekolah untuk tidak melempar-lemparkan bola di dalam ruang keluarga agar barang-barang di sana tidak pecah. Karena anak seumuran ini tentu sudah bisa diberitahu dan sudah bisa menahan diri.
Yang penting digarisbawahi, metoda parenting kelekatan ini tidak menerapkan hukuman badan melainkan memberikan bimbingan, suri tauladan, pujian dan hadiah untuk perilaku yang baik. Kalau pun terpaksa menerapkan hukuman, dipilih teknik yang lembut, seperti diminta untuk merenungi perbuatannya, diambil (sementara) hak-hak istimewanya. Intinya, musti sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Akan tetapi, orangtua jangan sampai keliru atau kebablasan dalam menjalankan metoda parenting kelekatan ini. Misalnya, dengan selalu atau terus menerus menggendong bayinya, atau selalu tidur seranjang. Memberi ASI musti diusahakan dengan sangat kuat, namun kalau kesehatan tidak memungkinkan, bisa saja memberikan susu formula.
Begitu pula, penerapan parenting kelekatan ini memang akan lebih berhasil jika ibu tidak bekerja di luar rumah. Namun bisa saja disesuaikan, dengan cara ibu memperpanjang masa ‘cuti’nya sampai anaknya mencapai usia balita, dan baru bekerja kembali ketika bayinya sudah masuk sekolah dasar.
Dengan demikian, parenting kelekatan adalah soal bagaimana mengenal bayi Anda dan merespon pada apa yang menurut naluri dan pengetahuan Anda sebagai hal yang benar. Metoda Baby B yang disarankan Dr. Sears hanyalah cara untuk mengenal bayi Anda dengan lebih baik. Ada banyak variasi metoda untuk menerapkan Parenting Kelekatan ini, sesuai dengan keunikan tiap orangtua dan bayinya. Parenting Kelekatan adalah sarana untuk mengenal bayi Anda dan mengembangkan gaya parenting Anda sendiri yang unik dan peka. DB
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist, Marriage & Family Therapist.
Untuk konsultasi, hubungi di 087881705466 atau pin 2849C490. :)
Belakangan ini banyak dibicarakan soal Parenting Kelekatan. Banyak orang yang mungkin sudah akrab dengan istilah ini sesungguhnya belum memahami betul apa itu Parenting Kelekatan. Istilah “Parenting Kelekatan” dilahirkan oleh dokter anak William Sears dan istrinya Martha untuk menjelaskan gaya pengasuhan anak yang sangat responsif dan sangat perhatian.
Parenting Kelekatan meningkatkan kedekatan fisik dan emosional antara orangtua dan anak melalui apa yang disebut pasangan Sears sebagai “Baby Bs.” Baby B ini adalah bonding (ikatan emosional), breastfeeding (menyusui dengan ASI), babywearing (menggendong), bedsharing (tidur dalam satu ranjang) dan boundary building (menetapkan batasan-batasan bagi bayi).
Parenting Kelekatan mendorong orangtua untuk kerap memeluk, menggendong dan memegang bayinya pada minggu-minggu awal kehidupannya agar ikatan emosional berkembang pesat. Memberi ASI dianjurkan karena meningkatkan instink alamiah ibu dalam menanggapi bayinya melalui kedekatan fisik, pengaruh hormonal dan besarnya perhatian ibu.
Baik menggendong maupun tidur seranjang memberi banyak peluang berdekatan. Sedangkan menetapkan batas-batas adalah metoda pendisiplinan yang mengedepankan respon pada kebutuhan anak sesuai dengan usianya dan penerapan bimbingan anak secara lembut.
Semua aspek Baby B ini bertujuan meningkatkan hubungan intuitif dan saling percaya antara orangtua dan bayinya melalui kedekatan fisik dan emosional. Kedekatan ini memungkinkan orangtua untuk mengetahui dan merespon kebutuhan bayinya dengan tepat.
Berbeda dengan metoda parenting yang lebih keras, Baby B bukanlah sekumpulan aturan yang harus diikuti, melainkan sekadar rekomendasi yang bisa dan musti disesuaikan dengan keadaan keluarga masing-masing.
Bagaimana dengan soal makan dan tidur bayi misalnya? Gaya parenting kelekatan ini tidak berpatokan kaku pada urutan atau kalender perkembangan bayi, melainkan lebih berdasarkan pengamatan akan kesiapan bayi. Waktu tidur bayi misalnya, tidak harus kaku pada jam sekian. Kalau bayi menunjukkan tanda-tanda mengantuk, walau belum waktunya tidur, ya tidurkan saja. Begitu pula dengan soal makan, ditinggal bersama baby sitter, tidur sendiri atau perilaku baru lainnya.
Tentu saja, untuk memahami tanda-tanda kesiapan bayi, Anda harus mengenal bayi Anda dengan intim. Orangtua yang memutuskan untuk menerapkan metoda parenting ini musti meluangkan cukup waktu bersama bayinya. Kerap berdekatan dan memperhatikannya.
Salah satu keuntungan lain gaya parenting kelekatan ini, orangtua bisa segera tahu kalau mereka berbuat kesalahan sehingga cepat pula memperbaikinya. Maklum saja, pengenalan mendalam orangtua pada anaknya ini termasuk mengevaluasi reaksi-reaksi anaknya terhadap cara orangtua mengasuhnya.
Merespon Tiap Kali Bayi Menangis
Dengan demikian, pasangan yang menjalankan parenting kelekatan tentu tidak mungkin membiarkan bayinya 'menangis berkepanjangan.' Mereka musti merespon tangis bayinya, walau ada mitos bahwa bayi akan manja jika selalu diperhatikan tiap kali menangis. Sebaliknya, orangtua tipe ini tahu bahwa menangis adalah alat bertahan hidup bayi yang sangat ampuh; tangisan memang alat yang dimaksudkan untuk menimbulkan respon orangtua. Mereka yakin bahwa merespon tangisan bayi malah akan membangun rasa percaya yang kokoh, sekaligus mengajari orangtua untuk 'mendengarkan' anaknya dan langkah awal mengembangkan komunikasi orangtua-anak yang baik.
Filosofi parenting kelekatan ini tidak asal-asalan. Bahkan didukung oleh kenyataan biologi manusia. Setiap kali mendengar bayinya menangis, tubuh seorang ibu (juga ayah) akan mengeluarkan hormon yang akan membuatnya merasa tidak nyaman jika membiarkan anaknya. Jadi, kalau ada orang tua sampai tak peduli pada anaknya, itu berarti melawan 'hukum biologis'nya.
Menyusui dengan ASI
Pemakai gaya parenting kelekatan juga faham akan pentingnya memberi ASI. Menyusui berarti memberi nutrisi optimal dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, karena ASI lebih cepat dicerna, menyusui menjamin bayi sering dipeluk saat menyusu dan terus menerus dekat ibunya. Orangtua yakin bahwa memberi ASI eksklusif menunjukkan kebutuhan biologis bayi untuk terus menerus berlekatan dengan ibunya sebagai transisi alamiah dari kehidupan di dalam rahim. Sebaliknya, jika bayi tidak diberi ASI, ia seakan-akan dipaksa atau direnggut untuk berjauhan dengan ibunya.
Menggendong dan Tidur Seranjang
Menggendong dan tidur seranjang merupakan perluasan alamiah pemenuhan kebutuhan bayi untuk terus berdekatan dengan orang tuanya. Ada banyak teknik menggendong yang bisa dipakai (Baca kembali tulisan saya tentang menggendong di FILES akun Group FB Dono Baswardono Parenting).
Sebagian orangtua lebih suka mengendong bayinya tanpa alat bantu sama sekali. Ada yang senang memakai selendang tradisional agar bayinya merasa lebih ‘adem’ di iklim Indonesia yang panas ini. Namun ada pula yang ‘tahu’ kalau bayinya lebih suka duduk di dalam stroller saat berjalan-jalan di taman misalnya.
Begitu pula soal tidur bersama. Ada orangtua yang tak mau menidurkan bayinya di dalam boks atau crib. Sebaliknya, mereka lebih suka menaruh kasur kecil di lantai kamar tidur mereka agar sewaktu-waktu bisa tidur bersama. Sebagian lagi lebih memilih bayinya ditidurkan di ranjang mereka, walau dengan konsekuensi tidur dan kegiatan mesra orangtua terpaksa menyesuaikan. Yang lain lagi, tetap menaruh bayi di dalam boks saat berangkat tidur sore, tetapi langsung memindahkannya di ranjang mereka setelah bayi menangis pada malam hari. Bahkan ada pula orangtua yang sengaja membeli boks bayi yang bisa dilekatkan di samping ranjang orangtua.
Tiap keluarga memutuskan apa yang paling cocok dengan kebutuhan mereka dan yang terbaik dalam memenuhi kebutuhan bayinya. Apa pun teknik yang diterapkan, yang penting bisa meningkatkan kedekatan antara orangtua dan bayinya.
Pendisiplinan dengan Lembut
Teknik pendisiplinan yang lembut jamak dilakukan oleh orangtua yang menerapkan Parenting Kelekatan. Metoda disiplin ini disesuaikan dengan umur bayi. Misalnya, orangtua memutuskan untuk meletakkan barang-barang yang gampang pecah di luar jangkauan bayinya daripada memberitahu balitanya untuk tidak menyentuh atau memegang barang-barang itu karena orang tua ini sadar betapa tidak realistis mengharapkan bayinya bisa menahan diri untuk tidak memegangi barang-barang yang menarik baginya.
Toh orangtua ini tentu tidak kesulitan untuk melarang anaknya yang telah berusia sekolah untuk tidak melempar-lemparkan bola di dalam ruang keluarga agar barang-barang di sana tidak pecah. Karena anak seumuran ini tentu sudah bisa diberitahu dan sudah bisa menahan diri.
Yang penting digarisbawahi, metoda parenting kelekatan ini tidak menerapkan hukuman badan melainkan memberikan bimbingan, suri tauladan, pujian dan hadiah untuk perilaku yang baik. Kalau pun terpaksa menerapkan hukuman, dipilih teknik yang lembut, seperti diminta untuk merenungi perbuatannya, diambil (sementara) hak-hak istimewanya. Intinya, musti sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Akan tetapi, orangtua jangan sampai keliru atau kebablasan dalam menjalankan metoda parenting kelekatan ini. Misalnya, dengan selalu atau terus menerus menggendong bayinya, atau selalu tidur seranjang. Memberi ASI musti diusahakan dengan sangat kuat, namun kalau kesehatan tidak memungkinkan, bisa saja memberikan susu formula.
Begitu pula, penerapan parenting kelekatan ini memang akan lebih berhasil jika ibu tidak bekerja di luar rumah. Namun bisa saja disesuaikan, dengan cara ibu memperpanjang masa ‘cuti’nya sampai anaknya mencapai usia balita, dan baru bekerja kembali ketika bayinya sudah masuk sekolah dasar.
Dengan demikian, parenting kelekatan adalah soal bagaimana mengenal bayi Anda dan merespon pada apa yang menurut naluri dan pengetahuan Anda sebagai hal yang benar. Metoda Baby B yang disarankan Dr. Sears hanyalah cara untuk mengenal bayi Anda dengan lebih baik. Ada banyak variasi metoda untuk menerapkan Parenting Kelekatan ini, sesuai dengan keunikan tiap orangtua dan bayinya. Parenting Kelekatan adalah sarana untuk mengenal bayi Anda dan mengembangkan gaya parenting Anda sendiri yang unik dan peka. DB
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist, Marriage & Family Therapist.
Untuk konsultasi, hubungi di 087881705466 atau pin 2849C490. :)
Rencanakan Metoda Parenting Anda
Rencanakan Metoda Parenting Anda
Selamat atas kelahiran bayi Anda. Kini Anda telah “menjadi orangtua” walau usia Anda masih muda. Kalau menjadi ‘tua’ adalah hal yang musti dijalani semua orang sesuai dengan makin menuanya tubuh kita, maka menjadi ‘orangtua’ adalah sebuah pilihan! Apalagi, ternyata memang ada beberapa gaya atau metoda parenting yang bisa dipilih. Kini saatnya para orangtua muda serius mempertimbangkan soal parenting yang bakal diterapkannya untuk bayinya kini dan anak-anaknya kelak.
Tidak seperti dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan kebanyakan bahasa daerah tidak mengenal istilah khusus untuk ‘parents’ (yang berakar dari kata ‘pasangan’). Sebaliknya, dalam kultur kita, Anda dan pasangan sudah dianggap ‘tua’ atau ‘bijaksana’ begitu memiliki anak. Jadi, tak peduli Anda masih berumur 23 tahun atau 32 tahun, begitu mempunyai seorang bayi, Anda sudah menjadi ‘orangtua’ atau ‘parents’ berbeda dengan ‘orang tua’ – kata yang hanya menunjukkan umur orang itu memang sudah lanjut.
Konsep ‘parents’ menekankan pada kebersamaan istri dan suami, mom dan dad, papa dan mama. Menjadi orangtua atau parenting merupakan upaya bersama, bukan sendiri-sendiri.
Jadi, sudah saatnya Anda berdua duduk dan serius membicarakan akan memakai gaya parenting seperti apa. Banyak pilihan, karenanya Anda berdua musti memilih. Ada yang disebut ‘positive parenting,’ ‘happy parenting,’ ‘eclectic parenting’ maupun yang almarhum Benyamin Suaeb – seorang tokoh Betawi yang sesungguhnya peduli pendidikan – menyebutnya ‘asal nggelinding aje.’
Pentingnya Memilih Metoda Parenting
Pilihan ini sangat penting. Mengapa? Jawabannya bisa dengan mengajukan pertanyaan balik: Bisakah Anda mencegah anak terlahir dengan cacat bawaan? Bisa! Lalu, bisakah Anda mencegah anak dan remaja Anda terjerembab dalam perilaku menyimpang seperti kecanduan obat terlarang atau terlibat kriminalitas? Juga bisa! Caranya? Antara lain dengan memilih dan menerapkan gaya dan metoda parenting yang sesuai dengan dinamika keluarga Anda.
Bukankah parenting itu sebuah proses, yang bisa saja sekarang cenderung bebas, lalu setelah beberapa tahun berubah sedikit keras, dan sekian tahun lagi agak radikal, dan tahun-tahun berikutnya berjarak? Begitu kira-kira elakan sebagian orangtua. Sekarang coba pikirkan, “Bisakah Anda membuat anak sehat dengan hari ini diberi makanan bergizi seimbang, besok makan nasi dan lauk saja, lusa vegetarian, dan esok lusa junk food?”
Tentu, metoda parenting tidak harus diterapkan kaku, sejak dipilih sampai tua nanti. Tiap peristiwa dan situasi membutuhkan penyesuaian gaya parenting, namun prinsip-prinsip dasarnya tentu tidak berubah. Bagaimana jadinya anak kita, kalau hari ini kita pukul tangannya karena menghisap jempolnya dan kita paksa menghabiskan bubur susunya walau ia menangis kencang, tetapi esok kita biarkan ia bermain-main dengan buburnya?
Sayang, kebanyakan pasutri muda belum sampai pada tahap ‘merencanakan’ dengan matang dan penuh pertimbangan untuk ‘berketurunan,’ yaitu sejak hendak berhubungan seks, hamil, melahirkan sampai mengasuh bayinya. Mayoritas masih menganut prinsip, “Ya, jalani saja. Que sera sera. Yang terjadi, ya terjadilah.
Para dokter anak, dokter kandungan maupun ahli gizi misalnya, kerap menyesalkan betapa kebanyakan orangtua belum merencanakan kelahiran anaknya, sehingga kasus bayi lahir dengan cacat bawaan atau bahkan meninggal, masih sangat tinggi di Indonesia. Sebenarnya, hal serupa juga terjadi dalam bidang edukasi dan parenting. Masih sangat banyak orangtua yang sesungguhnya tidak tahu, apalagi memahami, apa filosofi parenting yang dijalankannya selama ini.
Kualitas vs Kuantitas Pertemuan
Tidak percaya? Coba, semua orangtua pasti mengaku peduli kepada anaknya. Semua mengatakan sayang dan cinta kepada anak-anaknya. Ingat-ingat saja bagaimana percakapan Anda dan teman-teman sekantor soal mendidik anak. Apakah obrolan Anda itu seperti artikel majalah atau tayangan di televisi tentang selebritas, entah artis, politisi, pejabat, atau pengusaha yang tengah membicarakan anak-anaknya? Bukankah mereka selalu mengatakan bahwa “Yang penting adalah kualitas waktu pertemuan dengan anak-anak, bukan kuantitasnya.” Nah, Anda juga bilang begitu kan?
Tetapi bagaimana mungkin menciptakan kualitas pertemuan jika nyaris tak punya waktu bertemu? Realistiskah, jika Anda orang yang supersibuk – dengan banyak peran dan tanggung jawab yang menyita waktu, pikiran dan perasaan – begitu sampai di rumah, dalam detik-detik atau menit-menit awal langsung bisa menciptakan pertemuan berkualitas dengan anak-anak Anda, sementara Anda hanya punya waktu ‘total’ sekitar satu jam bersama anak-anak? Tentu bisa, jika Anda jawara dalam ‘manajemen stres’ dan ‘manajemen perasaan.’ Tetapi, apakah Anda termasuk di dalamnya?
Ataukah Anda serumpun dengan orangtua di bawah ini? Waktu resmi pulang kantor sama, pukul lima sore. Sebagian menunda pulang – bahkan sampai 1-2 jam – karena ‘menunggu berkurangnya kemacetan.’ Sebagian lagi, memang baru bisa pulang lewat dari pukul tujuh malam karena lembur. Lalu, sebagian ‘kecil’ lainnya memilih untuk “play hard” dengan sekadar jalan-jalan di mal atau ngopi di cafe sampai menjelang mal tutup, bahkan clubbing sampai larut malam. Setiba di rumah, tentu saja, bayi atau anak-anak telah tidur. Sebagian, ditidurkan oleh baby sitter-nya – yang oleh sebagian orangtua, menyewa baby sitter dianggap sebagai bukti kasih sayang dan kepeduliannya kepada bayi dan anak-anaknya. Dalam kasus ini, saya cenderung mengatakan terus terang, itu HANYA bukti bahwa mereka tidak menelantarkan anak-anaknya.
Pagi hari, bayi atau balita Anda telah bangun, sementara orangtuanya masih tidur karena kelelahan. Atau sebaliknya, Anda termasuk yang harus bangun subuh karena sudah harus tiba di kantor sebelum pukul delapan atau sembilan karena bisa kena penalti kalau terlambat. Semuanya dilakukan serba tergesa-gesa. Mulai dari mandi sampai sarapan. Termasuk memandikan atau memberi sarapan balita Anda. (Lagi-lagi, tak sedikit orangtua yang menyerahkan dua hal ini, apalagi mengganti popok bayinya, kepada baby sitter).
Jadi, kapan Anda melakukan kontak fisik dan membangun ikatan emosional dengan balita Anda? Sebagian orangtua biasnya menjawab, “Waktu berkualitas saya dengan anak-anak sewaktu mengantar mereka ke sekolah/playgroup. Saya tanyakan bagaimana hari mereka kemarin. Saya tanyakan apa yang dipelajarinya di sekolah.”
Apakah itu disebut sebagai waktu berkualitas? Bukankah Anda bertanya jawab itu sambil menyetir mobil atau sibuk menyiapkan pekerjaan kantor? Ke mana arah tatapan Anda? Ke anak atau ke jalan? Tentu ke jalan, kalau tidak, bisa kecelakaan. Bisakah disebut berkualitas jika percakapan dilakukan tanpa saling berpandangan? Selain itu, apakah itu dialog atau interogasi? Bukankah Anda bertanya dan anak menjawab? Kapan Anda mendengarkan cerita-ceritanya, keluh kesahnya? Lebih-lebih lagi, kapan Anda mendengarkannya dengan penuh perhatian alias menyimak dengan fokus seratus persen?
Cinta Butuh Waktu!
Ya saya percaya, tidak satu pun orangtua yang tidak mencintai anaknya. Cinta. Tetapi, menurut anak-anak, kata ‘cinta’ itu harus dieja dengan lima huruf. C-I-N-T-A? Bukan! Anak-anak mengeja cinta sebagai W-A-K-T-U!!!”
Jadi, jika Anda ingin membuktikan bahwa Anda memang orangtua yang peduli pada masa depan anak-anak Anda, jika Anda memang mengasihi anak-anak Anda, jangan lagi berdalih di balik jargon usang, konsep yang sama sekali keliru: “Bahwa kualitas pertemuan lebih penting daripada kuantitasnya.”
Total waktu atau kuantitas pertemuan Anda dengan anak-anak juga sama pentingnya. Siapa bilang bahwa sepuluh menit pertemuan berkualitas lebih berharga dan bermanfaat bagi perkembangan anak-anak dibandingkan setengah jam perjumpaan tidak berkualitas?
Lagi pula, apakah Anda punya ukuran atau parameter dari ‘kualitas’ pertemuan itu? Para psikolog, pedagog dan mereka yang merasa mengerti soal parenting ini lalu mengagung-agungkan mitos pentingnya kualitas pertemuan, sudahkah mereka mengembangkan parameter kualitas itu yang bisa menjadi pedoman para orangtua? Apakah mereka sudah memberikan contoh-contoh konkrit berupa kejadian-kejadian yang biasa dialami oleh para orangtua sehari-hari yang menunjukkan seperti apa kualitas pertemuan itu?
Nah, semua ini menegaskan sekali lagi betapa sangat pentingnya menentukan gaya dan metoda parenting sejak dini, bahkan kalau bisa, sebelum Anda sengaja hendak punya anak. Salah satu metoda parenting yang bisa Anda pilih, Bonding Parenting, saya paparkan di tulisan berikutnya.
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist, Marriage & Family Therapist.
Untuk konsultasi, hubungi di 087881705466 atau pin 2849C490. :)
Selamat atas kelahiran bayi Anda. Kini Anda telah “menjadi orangtua” walau usia Anda masih muda. Kalau menjadi ‘tua’ adalah hal yang musti dijalani semua orang sesuai dengan makin menuanya tubuh kita, maka menjadi ‘orangtua’ adalah sebuah pilihan! Apalagi, ternyata memang ada beberapa gaya atau metoda parenting yang bisa dipilih. Kini saatnya para orangtua muda serius mempertimbangkan soal parenting yang bakal diterapkannya untuk bayinya kini dan anak-anaknya kelak.
Tidak seperti dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan kebanyakan bahasa daerah tidak mengenal istilah khusus untuk ‘parents’ (yang berakar dari kata ‘pasangan’). Sebaliknya, dalam kultur kita, Anda dan pasangan sudah dianggap ‘tua’ atau ‘bijaksana’ begitu memiliki anak. Jadi, tak peduli Anda masih berumur 23 tahun atau 32 tahun, begitu mempunyai seorang bayi, Anda sudah menjadi ‘orangtua’ atau ‘parents’ berbeda dengan ‘orang tua’ – kata yang hanya menunjukkan umur orang itu memang sudah lanjut.
Konsep ‘parents’ menekankan pada kebersamaan istri dan suami, mom dan dad, papa dan mama. Menjadi orangtua atau parenting merupakan upaya bersama, bukan sendiri-sendiri.
Jadi, sudah saatnya Anda berdua duduk dan serius membicarakan akan memakai gaya parenting seperti apa. Banyak pilihan, karenanya Anda berdua musti memilih. Ada yang disebut ‘positive parenting,’ ‘happy parenting,’ ‘eclectic parenting’ maupun yang almarhum Benyamin Suaeb – seorang tokoh Betawi yang sesungguhnya peduli pendidikan – menyebutnya ‘asal nggelinding aje.’
Pentingnya Memilih Metoda Parenting
Pilihan ini sangat penting. Mengapa? Jawabannya bisa dengan mengajukan pertanyaan balik: Bisakah Anda mencegah anak terlahir dengan cacat bawaan? Bisa! Lalu, bisakah Anda mencegah anak dan remaja Anda terjerembab dalam perilaku menyimpang seperti kecanduan obat terlarang atau terlibat kriminalitas? Juga bisa! Caranya? Antara lain dengan memilih dan menerapkan gaya dan metoda parenting yang sesuai dengan dinamika keluarga Anda.
Bukankah parenting itu sebuah proses, yang bisa saja sekarang cenderung bebas, lalu setelah beberapa tahun berubah sedikit keras, dan sekian tahun lagi agak radikal, dan tahun-tahun berikutnya berjarak? Begitu kira-kira elakan sebagian orangtua. Sekarang coba pikirkan, “Bisakah Anda membuat anak sehat dengan hari ini diberi makanan bergizi seimbang, besok makan nasi dan lauk saja, lusa vegetarian, dan esok lusa junk food?”
Tentu, metoda parenting tidak harus diterapkan kaku, sejak dipilih sampai tua nanti. Tiap peristiwa dan situasi membutuhkan penyesuaian gaya parenting, namun prinsip-prinsip dasarnya tentu tidak berubah. Bagaimana jadinya anak kita, kalau hari ini kita pukul tangannya karena menghisap jempolnya dan kita paksa menghabiskan bubur susunya walau ia menangis kencang, tetapi esok kita biarkan ia bermain-main dengan buburnya?
Sayang, kebanyakan pasutri muda belum sampai pada tahap ‘merencanakan’ dengan matang dan penuh pertimbangan untuk ‘berketurunan,’ yaitu sejak hendak berhubungan seks, hamil, melahirkan sampai mengasuh bayinya. Mayoritas masih menganut prinsip, “Ya, jalani saja. Que sera sera. Yang terjadi, ya terjadilah.
Para dokter anak, dokter kandungan maupun ahli gizi misalnya, kerap menyesalkan betapa kebanyakan orangtua belum merencanakan kelahiran anaknya, sehingga kasus bayi lahir dengan cacat bawaan atau bahkan meninggal, masih sangat tinggi di Indonesia. Sebenarnya, hal serupa juga terjadi dalam bidang edukasi dan parenting. Masih sangat banyak orangtua yang sesungguhnya tidak tahu, apalagi memahami, apa filosofi parenting yang dijalankannya selama ini.
Kualitas vs Kuantitas Pertemuan
Tidak percaya? Coba, semua orangtua pasti mengaku peduli kepada anaknya. Semua mengatakan sayang dan cinta kepada anak-anaknya. Ingat-ingat saja bagaimana percakapan Anda dan teman-teman sekantor soal mendidik anak. Apakah obrolan Anda itu seperti artikel majalah atau tayangan di televisi tentang selebritas, entah artis, politisi, pejabat, atau pengusaha yang tengah membicarakan anak-anaknya? Bukankah mereka selalu mengatakan bahwa “Yang penting adalah kualitas waktu pertemuan dengan anak-anak, bukan kuantitasnya.” Nah, Anda juga bilang begitu kan?
Tetapi bagaimana mungkin menciptakan kualitas pertemuan jika nyaris tak punya waktu bertemu? Realistiskah, jika Anda orang yang supersibuk – dengan banyak peran dan tanggung jawab yang menyita waktu, pikiran dan perasaan – begitu sampai di rumah, dalam detik-detik atau menit-menit awal langsung bisa menciptakan pertemuan berkualitas dengan anak-anak Anda, sementara Anda hanya punya waktu ‘total’ sekitar satu jam bersama anak-anak? Tentu bisa, jika Anda jawara dalam ‘manajemen stres’ dan ‘manajemen perasaan.’ Tetapi, apakah Anda termasuk di dalamnya?
Ataukah Anda serumpun dengan orangtua di bawah ini? Waktu resmi pulang kantor sama, pukul lima sore. Sebagian menunda pulang – bahkan sampai 1-2 jam – karena ‘menunggu berkurangnya kemacetan.’ Sebagian lagi, memang baru bisa pulang lewat dari pukul tujuh malam karena lembur. Lalu, sebagian ‘kecil’ lainnya memilih untuk “play hard” dengan sekadar jalan-jalan di mal atau ngopi di cafe sampai menjelang mal tutup, bahkan clubbing sampai larut malam. Setiba di rumah, tentu saja, bayi atau anak-anak telah tidur. Sebagian, ditidurkan oleh baby sitter-nya – yang oleh sebagian orangtua, menyewa baby sitter dianggap sebagai bukti kasih sayang dan kepeduliannya kepada bayi dan anak-anaknya. Dalam kasus ini, saya cenderung mengatakan terus terang, itu HANYA bukti bahwa mereka tidak menelantarkan anak-anaknya.
Pagi hari, bayi atau balita Anda telah bangun, sementara orangtuanya masih tidur karena kelelahan. Atau sebaliknya, Anda termasuk yang harus bangun subuh karena sudah harus tiba di kantor sebelum pukul delapan atau sembilan karena bisa kena penalti kalau terlambat. Semuanya dilakukan serba tergesa-gesa. Mulai dari mandi sampai sarapan. Termasuk memandikan atau memberi sarapan balita Anda. (Lagi-lagi, tak sedikit orangtua yang menyerahkan dua hal ini, apalagi mengganti popok bayinya, kepada baby sitter).
Jadi, kapan Anda melakukan kontak fisik dan membangun ikatan emosional dengan balita Anda? Sebagian orangtua biasnya menjawab, “Waktu berkualitas saya dengan anak-anak sewaktu mengantar mereka ke sekolah/playgroup. Saya tanyakan bagaimana hari mereka kemarin. Saya tanyakan apa yang dipelajarinya di sekolah.”
Apakah itu disebut sebagai waktu berkualitas? Bukankah Anda bertanya jawab itu sambil menyetir mobil atau sibuk menyiapkan pekerjaan kantor? Ke mana arah tatapan Anda? Ke anak atau ke jalan? Tentu ke jalan, kalau tidak, bisa kecelakaan. Bisakah disebut berkualitas jika percakapan dilakukan tanpa saling berpandangan? Selain itu, apakah itu dialog atau interogasi? Bukankah Anda bertanya dan anak menjawab? Kapan Anda mendengarkan cerita-ceritanya, keluh kesahnya? Lebih-lebih lagi, kapan Anda mendengarkannya dengan penuh perhatian alias menyimak dengan fokus seratus persen?
Cinta Butuh Waktu!
Ya saya percaya, tidak satu pun orangtua yang tidak mencintai anaknya. Cinta. Tetapi, menurut anak-anak, kata ‘cinta’ itu harus dieja dengan lima huruf. C-I-N-T-A? Bukan! Anak-anak mengeja cinta sebagai W-A-K-T-U!!!”
Jadi, jika Anda ingin membuktikan bahwa Anda memang orangtua yang peduli pada masa depan anak-anak Anda, jika Anda memang mengasihi anak-anak Anda, jangan lagi berdalih di balik jargon usang, konsep yang sama sekali keliru: “Bahwa kualitas pertemuan lebih penting daripada kuantitasnya.”
Total waktu atau kuantitas pertemuan Anda dengan anak-anak juga sama pentingnya. Siapa bilang bahwa sepuluh menit pertemuan berkualitas lebih berharga dan bermanfaat bagi perkembangan anak-anak dibandingkan setengah jam perjumpaan tidak berkualitas?
Lagi pula, apakah Anda punya ukuran atau parameter dari ‘kualitas’ pertemuan itu? Para psikolog, pedagog dan mereka yang merasa mengerti soal parenting ini lalu mengagung-agungkan mitos pentingnya kualitas pertemuan, sudahkah mereka mengembangkan parameter kualitas itu yang bisa menjadi pedoman para orangtua? Apakah mereka sudah memberikan contoh-contoh konkrit berupa kejadian-kejadian yang biasa dialami oleh para orangtua sehari-hari yang menunjukkan seperti apa kualitas pertemuan itu?
Nah, semua ini menegaskan sekali lagi betapa sangat pentingnya menentukan gaya dan metoda parenting sejak dini, bahkan kalau bisa, sebelum Anda sengaja hendak punya anak. Salah satu metoda parenting yang bisa Anda pilih, Bonding Parenting, saya paparkan di tulisan berikutnya.
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist, Marriage & Family Therapist.
Untuk konsultasi, hubungi di 087881705466 atau pin 2849C490. :)
Subscribe to:
Posts (Atom)







