Tuesday, 15 March 2011
AGAR ANAK GEMAR DAN TERATUR BELAJAR
Mendukung Anak Agar Gemar Belajar di Sekolah Maupun di Rumah
Terjebak dalam pertengkaran soal pekerjaan rumah (PR)? Atau menghabiskan waktu berjam-jam dengan anak Anda menyelesaikan projek sekolah? Tak tahu apa yang harus dilakukan jika anak Anda lupa menyerahkan tugas – beberapa hari berturut-turut? Jengkel dengan para pakar yang mengatakan kit...a harus membantu anak-anak menikmati sekolahnya dan menjadi seorang siswa yang mandiri? “Bagus,” pikir Anda, “tapi bagaimana?”
Anak-anak kita bisa menjadi siswa yang mandiri secara bertahap. Mereka belajar dengan kecepatannya sendiri dan Anda bisa mendukung proses ini di rumah dengan mengembangkan apa yang mereka minati dan memberikan panduan lembut jika mereka membutuhkan bantuan.
Apa yang terjadi di rumah banyak berkaitan dengan mendukung kesuksesan anak Anda sebagai seorang pembelajar – dan ini bukan hanya memastikan ia mengerjakan PR-nya atau belajar untuk ulangan. Anda juga musti membantu anak-anak belajar bagaimana merasa mampu dan bersikap positif terhadap apa yang mereka pelajari.
Salah satu caranya adalah mulai dengan membantu anak-anak mengorganisasi dirinya sendiri (sesuai dengan tahap perkembangannya); membuat jadwal untuk mengerjakan tugasnya dan menemukan cara bagaimana agar mereka bisa mematuhi jadwal itu, sehingga tugas-tugas sekolah menjadi satu bagian menarik dari kehidupan usai sekolahnya, tetapi bukan satu-satunya bagian.
Meski tidak ada resep ajaib, ada banyak cara membantu anak-anak merencanakan waktu mereka, menyelesaikan PR-nya, dan melakukan yang terbaik di sekolah. Strategi ini bisa menolong anak Anda senang belajar.
Motivasi belajar harus menjadi kesenangan intrinsik anak-anak, bukan suatu ganjaran eksternal. Kadang-kadang ini sungguh sulit, karena tidak semua hal yang dipinta kepada anak untuk mereka kerjakan adalah hal yang menarik baginya.
Agar anak Anda punya dorongan dari dalam dan bisa menganalisis sendiri, berikan masukan spesifik, alih-alih pujian atau ganjaran umum yang meragukan. Daripada berkata, “Bagus kamu telah mengerjakan PR,” Anda bisa menjelaskan apa yang Anda maksud dengan ‘bagus’ itu. Daripada mengatakan, “Jawaban kamu belum lengkap,” minta anak Anda untuk memperinci gambaran seorang tokoh dalam cerita yang ditulisnya. Dengan cara ini, anak-anak akan mampu belajar mandiri dan mengerjakan sendiri apa pun yang dibuatnya.
TIPS: Kalau Anak Mengalami Kesulitan Belajar
Tak peduli betapa keras Anda mendorongnya, bisa saja anak Anda mengalami kesulitan akademis, entah dihadap PR yang sulit atau projek sekolah yang cukup berat. Alhasil, ia mengalami frustrasi atau bahkan stres. Bagaimana agar ia bisa mengatasinya? Orangtua musti berbuat apa?
Biarkan Anak Frustrasi
Ketika anak mengalami kesulitan mengerjakan PR atau hal yang berkaitan dengan sekolahnya, mereka acapkali marah dan jengkel, bahkan terkadang sampai meledak-ledak. Orangtua pun terheran-heran sambil bertanya-tanya, “Apa salahku?” Anda tidak berbuat salah sama sekali.
Kadang-kadang jika anak merasa tidak dimengerti di sekolah atau frustrasi karena mata pelajaran tertentu, mereka menjadi marah atau memprovokasi orangtuanya. Ini adalah caranya untuk membuat Anda merasa tidak berdaya atau marah, sama dengan yang dirasakannya. Seakan-akan anak Anda hendak berkata, ‘Maukah Ayah/Ibu mengambil rasa tak berdayaku untuk sementara?’ atau ‘Aku ingin Ayah/ibu merasakan apa yang aku alami’.
Ambil Jeda
Apabila anak Anda berteriak, “Aku tak bisa mengerjakannya!” sambil membuang pensilnya, sebaiknya Anda menjauh sebentar darinya. Mungkin ia perlu melampiaskan sedikit kekesalannya. Kembalilah dalam 5 – 10 menit kemudian dan mulailah lagi. (Waktu 5 menit ini bisa menyelamatkan Anda dari pertengkaran atau perdebatan yang bisa makan waktu sangat lama, apalagi jika menghitung beban emosional kejengkelan.) Ini juga meberi peluang bagi anak untuk “menyelamatkan mukanya” dan mulai lagi, bahkan jika tanpa membicarakan kesluitan sebelumnya atau ledakan kemarahannya.
Jangan Selalu Mencoba Percakapan Rasional
Kalau anak sangat gelisah, boleh jadi kegalauannya timbul karena ia menghadapinya secara rasional. Jadi, sebaiknya tunggu saja, daripada berdebat atau menasehati anak soal kondisi yang dihadapinya. Begitu anak sudah tenang, barulah Anda bisa membicarakannya.
Biarkan Anak Berbuat Salah
Memang sulit untuk tidak mengoreksi kesalahan yang dibuat anak dalam mengerjakan PR atau tugas sekolahnya. Namun kebanyakan guru pasti meminta Anda untuk tidak mengambil alih tugas anak kecuali kalau anak Anda meminta bantuan atau guru yang memintanya. Guru biasanya ingin tahu apa yang difahami anak didiknya, bukan apa yang difahami orangtua tentang materi pelajaran anaknya.
Tetapkan Batas Waktu
Kebanyakan guru tidak berharap anak-anak yang masih kecil mengerjakan tugas sekolah lebih dari setengah jam untuk setiap materi. Pastikan hal ini dengan bertanya kepada guru anak Anda. kalau anak Anda kesulitan (walau sudah aktif mencobanya) dan melebihi batas waktu yang ditentukan, tulislah catatan kepada gurunya yang menjelaskan bahwa itulah semua yang bisa dikerjakan anak.
Hubungi Sekolah
Apabila projek sekolah malah berakhir dalam serangkaian kegalauan, perdebatan dan berbagai kesulitan lainnya, segeralah bicarakan dengan guru dan pihak sekolah. Jangan menunggu sampai pertemuan orangtua murid-guru berikutnya. Guru membutuhkan masukan Anda agar ia dan Anda bersama-sama bisa menemukan pengertian baru dan strategi pembelajaran yang pas untuk anak Anda.
Bantulah Anak Anda Belajar Mengatur Diri Sendiri
Ini merupakan kecakapan sepanjang hidup yang bisa diajarkan, walau memang relatif sulit. Anda bisa membantu anak menemukan trik-trik yang cocok bagi dirinya, dengan cara menceritakan kiat-kiat Anda sendiri mengatur sesuatu.
Anda bisa mendorongnya untuk memberi label pada segala sesuatu. Susun strategi, seperti membuat ‘Daftar Hal yang Harus Dikerjakan’ sebelum anak meninggalkan sekolah (misalnya, meletakkan kembali buku matematika ke dalam tas ransel). Jadwalkan pula untuk membersihkan isi tasnya sepekan sekali dan meja belajarnya sehingga kertas tidak berserakan. Bersabarlah dan cobalah untuk tidak menyalahkan anak.
Sadari Bahwa Sekolah Bukan Berarti Bebas Masalah
Tidak satu pun orangtua yang pernah membesarkan anak tanpa bersitegang soal tugas-tugas sekolah. Ya, tidak ada strategi yang bebas konflik. Jangan khawatir, anak-anak kadang-kadang menganggap sekolah sebagai hal yang sangat menyenangkan dan menggairahkan – termasuk tuas-tugasnya. Tetapi, sesekali ia menganggapnya hanya sekadar sebagai kewajiban belaka. Tidak apa-apa. Yang penting, Anda bisa membantunya untuk menemukan struktur yang membuatnya selalu mengerjakan tugas-tugas sekolah – apa pun bentuknya. DB
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D
Untuk konsultasi mengenai gangguan belajar dan masalah belajar lainnya maupun permintaan seminar-training-workshop, silahkan menghubungi Intan di 0813-1641-0088.
Monday, 14 March 2011
Tuhan Yang Terkasih
Yts Tuhan
Selamat pagi, Tuhan yang Mahabaik. Aku tahu Engkau sudah mengenalku sejak lama, tapi kata Mama, kepada siapa pun aku harus memperkenalkan diri terlebih dahulu; jadi, namaku Talitha. Bulan lalu, aku ulang tahun ke sebelas dan sekarang kelas empat SD. Kau tahu, surat ini kuketik dengan menggunakan laptop pemberian Papa dan Mama dan kucetak dengan printer kado dari Paman, adik ayahku.
Sejak kecil aku memang sulit sekali menulis dengan jari-jariku yang jumlahnya genap itu. Kata dokter yang memeriksaku ketika TK dulu, aku menderita disgrafia dan asperger. Dia bilang kalau IQ-ku 138, tiga angka lagi aku bisa disebut genius. Tapi entah kenapa, aku kadang-kadang malah sulit sekali menangkap pelajaran di sekolah. Dan kalau melihat tulisanku yang miring ke sana ke mari, kebanyakan teman menyebutku bodoh. Bahkan ada beberapa guru yang juga menganggapku begitu. Baru melihat kertas ulanganku saja, mereka sudah memberi nilai jelek, padahal belum sempat membaca seluruh jawabanku.
Mama membawaku ke dokter setelah ia lelah mengajariku memegang pinsil. Ya, aku memang tak pernah bisa memegang krayon, pinsil, kapur, dan bolpen dengan baik. Kalau ia menyodorkan buku mewarnai, coretan krayonku malah mencuat ke mana-mana. Aku sudah berusaha keras, tapi tanganku terasa kaku, akibatnya huruf yang kubuat nyaris tak terbaca. Tanganku selalu kotor terkena spidol dan tinta yang belepotan di seluruh jariku.
Begitu aku naik ke kelas dua SD, tidak satu pun teman sekelasku yang mau memeriksa kertas ulanganku; padahal Ibu Guru selalu meminta kami untuk saling bertukar kertas ulangan untuk memberi nilai sesuai jawaban yang dia diktekan di depan. Aku bisa memaklumi teman-temanku, karena mereka tak bisa membaca tulisanku. Ada satu orang yang bisa, Maria, tapi sayangnya, dia sudah pindah ke Yogya.
Tuhan, kata dokter, otakku tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan tanganku. Dia bilang, syaraf-syaraf di jari dan tanganku sebenarnya sehat saja. Jariku bisa merasakan kalau aku sedang memegang krayon atau pinsil. Tapi entah kenapa, otakku tidak bisa memberi perintah yang benar pada syaraf di tanganku. Jadi, aku musti memegang pinsil itu dengan erat, nyaris mencengkeramnya, agar otakku tahu kalau aku benar-benar sedang memegang pinsil.
Karena itulah aku sebenarnya lebih senang menyampaikan segala sesuatu dengan mulutku. Aku mahir sekali bercerita dan mendongeng, juga mendikte. Sayangnya, tidak semua guru membolehkanku menjawab dengan ucapan. Mereka memaksaku untuk menulis. Kalau diminta membuat karangan tertulis tentang perjalanan liburan, aku merasa seperti mendapat hukuman seumur hidup. Seandainya aku boleh bercerita di depan, aku dengan senang hati akan menceritakan rumah masa kecil Bung Karno di Blitar. Aku juga akan bercerita bahwa pahatan wayang kulit di sana berbeda dari gaya Yogya, Solo maupun Madura.
Tuhan, aku sangat sedih karena dalam bidang seni, nilai-nilaiku sangat buruk. Banyak sekali pemandangan indah di dalam kepalaku, tetapi tak satu pun yang bisa kutorehkan di atas kertas.
Meski sedih, aku tidak mengeluh koq, Tuhan. Karena aku tahu, Engkau memberiku pikiran-pikiran yang tajam dan sedikit selera humor. Setiap kali pelajaran berdebat, aku menyambutnya dengan bersemangat. Wajahku berbinar-binar, dan teman-teman memujiku kalau sangat hebat dalam berpidato. Setiap kali ada diskusi di kelas, aku selalu menonjol. Dengan cara itulah aku berusaha mendapatkan nilai-nilaiku.
Bila ada orang bertanya apa cita-citaku, dengan cepat kujawab, “Pengacara!” Aku yakin kalau aku akan berhasil di bidang itu. Aku ingin memeriksa kasus-kasus, seperti yang kulihat di televisi. Aku akan memaparkan semua kasus itu dengan jujur. Kata Papa, semuanya akan sia-sia kalau aku tidak jujur. Aku setuju.
Tuhan, aku menulis surat ini sebagai ungkapan terimakasihku karena Engkau telah membuatku sebagai anak yang istimewa. Kau menegaskan bahwa aku adalah ciptaanMu yang luar biasa. Kau juga meyakinkanku kalau Engkau akan setia menjagaku. Engkau tidak akan pernah meninggalkanku. Kau punya rencana sempurna untukku. Kau pasti memberiku masa depan dan harapan.
Mama dan Papa juga selalu mendorongku. Karena itulah, mereka menghadiahiku laptop untuk kubawa ke sekolah. Dan, syukurlah, Kepala Sekolah dan guru-guruku membolehkannya. DB
Selamat pagi, Tuhan yang Mahabaik. Aku tahu Engkau sudah mengenalku sejak lama, tapi kata Mama, kepada siapa pun aku harus memperkenalkan diri terlebih dahulu; jadi, namaku Talitha. Bulan lalu, aku ulang tahun ke sebelas dan sekarang kelas empat SD. Kau tahu, surat ini kuketik dengan menggunakan laptop pemberian Papa dan Mama dan kucetak dengan printer kado dari Paman, adik ayahku.
Sejak kecil aku memang sulit sekali menulis dengan jari-jariku yang jumlahnya genap itu. Kata dokter yang memeriksaku ketika TK dulu, aku menderita disgrafia dan asperger. Dia bilang kalau IQ-ku 138, tiga angka lagi aku bisa disebut genius. Tapi entah kenapa, aku kadang-kadang malah sulit sekali menangkap pelajaran di sekolah. Dan kalau melihat tulisanku yang miring ke sana ke mari, kebanyakan teman menyebutku bodoh. Bahkan ada beberapa guru yang juga menganggapku begitu. Baru melihat kertas ulanganku saja, mereka sudah memberi nilai jelek, padahal belum sempat membaca seluruh jawabanku.
Mama membawaku ke dokter setelah ia lelah mengajariku memegang pinsil. Ya, aku memang tak pernah bisa memegang krayon, pinsil, kapur, dan bolpen dengan baik. Kalau ia menyodorkan buku mewarnai, coretan krayonku malah mencuat ke mana-mana. Aku sudah berusaha keras, tapi tanganku terasa kaku, akibatnya huruf yang kubuat nyaris tak terbaca. Tanganku selalu kotor terkena spidol dan tinta yang belepotan di seluruh jariku.
Begitu aku naik ke kelas dua SD, tidak satu pun teman sekelasku yang mau memeriksa kertas ulanganku; padahal Ibu Guru selalu meminta kami untuk saling bertukar kertas ulangan untuk memberi nilai sesuai jawaban yang dia diktekan di depan. Aku bisa memaklumi teman-temanku, karena mereka tak bisa membaca tulisanku. Ada satu orang yang bisa, Maria, tapi sayangnya, dia sudah pindah ke Yogya.
Tuhan, kata dokter, otakku tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan tanganku. Dia bilang, syaraf-syaraf di jari dan tanganku sebenarnya sehat saja. Jariku bisa merasakan kalau aku sedang memegang krayon atau pinsil. Tapi entah kenapa, otakku tidak bisa memberi perintah yang benar pada syaraf di tanganku. Jadi, aku musti memegang pinsil itu dengan erat, nyaris mencengkeramnya, agar otakku tahu kalau aku benar-benar sedang memegang pinsil.
Karena itulah aku sebenarnya lebih senang menyampaikan segala sesuatu dengan mulutku. Aku mahir sekali bercerita dan mendongeng, juga mendikte. Sayangnya, tidak semua guru membolehkanku menjawab dengan ucapan. Mereka memaksaku untuk menulis. Kalau diminta membuat karangan tertulis tentang perjalanan liburan, aku merasa seperti mendapat hukuman seumur hidup. Seandainya aku boleh bercerita di depan, aku dengan senang hati akan menceritakan rumah masa kecil Bung Karno di Blitar. Aku juga akan bercerita bahwa pahatan wayang kulit di sana berbeda dari gaya Yogya, Solo maupun Madura.
Tuhan, aku sangat sedih karena dalam bidang seni, nilai-nilaiku sangat buruk. Banyak sekali pemandangan indah di dalam kepalaku, tetapi tak satu pun yang bisa kutorehkan di atas kertas.
Meski sedih, aku tidak mengeluh koq, Tuhan. Karena aku tahu, Engkau memberiku pikiran-pikiran yang tajam dan sedikit selera humor. Setiap kali pelajaran berdebat, aku menyambutnya dengan bersemangat. Wajahku berbinar-binar, dan teman-teman memujiku kalau sangat hebat dalam berpidato. Setiap kali ada diskusi di kelas, aku selalu menonjol. Dengan cara itulah aku berusaha mendapatkan nilai-nilaiku.
Bila ada orang bertanya apa cita-citaku, dengan cepat kujawab, “Pengacara!” Aku yakin kalau aku akan berhasil di bidang itu. Aku ingin memeriksa kasus-kasus, seperti yang kulihat di televisi. Aku akan memaparkan semua kasus itu dengan jujur. Kata Papa, semuanya akan sia-sia kalau aku tidak jujur. Aku setuju.
Tuhan, aku menulis surat ini sebagai ungkapan terimakasihku karena Engkau telah membuatku sebagai anak yang istimewa. Kau menegaskan bahwa aku adalah ciptaanMu yang luar biasa. Kau juga meyakinkanku kalau Engkau akan setia menjagaku. Engkau tidak akan pernah meninggalkanku. Kau punya rencana sempurna untukku. Kau pasti memberiku masa depan dan harapan.
Mama dan Papa juga selalu mendorongku. Karena itulah, mereka menghadiahiku laptop untuk kubawa ke sekolah. Dan, syukurlah, Kepala Sekolah dan guru-guruku membolehkannya. DB
Gifted Underachiever: Anak Berbakat yang Tidak Berprestasi
Gifted Underachiever: Anak Berbakat yang Tidak Berprestasi
Anak saya sekarang kelas III SMP, sewaktu di kelas I SMP, Roland mengikuti test inteligensi dan menurut hasil testnya ia memperoleh nilai yang cukup tinggi. Tetapi nilai-nilai akademiknya hanya rata-rata saja, 6 atau 7. Apa mungkin anak berbakat tidak berprestasi?
Berbakat memang belum tentu berprestasi. Ada banyak faktor yang menentukan apakah seorang anak berbakat mampu meraih segudang prestasi atau bahkan tidak berprestasi sama sekali. Lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat serta dirinya sendiri tentunya sangat mempengaruhi seorang anak berbakat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi dirinya.
Definisi anak berbakat yang sangat populer dinyatakan oleh Lewis Madison Terman dan Joseph S. Renzulli. Menurut Terman seorang anak dapat dikatakan berbakat apabila memiliki nilai Intelligence Quotient (IQ) sama atau di atas 130 superior. Adapun kategori IQ adalah: 90-110 merupakan nilai rata-rata; 90-100 low average (rata-rata bawah), 100-110 high average (rata-rata atas).
Dalam pandangan Renzuli, anak berbakat memiliki gabungan tiga faktor yaitu inteligensi, kreativitas dan komitmen pada tugas. Artinya, anak berintelijensi tinggi belum tentu bisa digolongkan sebagai anak berbakat.
Seperti layaknya anak normal lainnya, tidak semua anak yang dilahirkan berbakat memiliki prestasi luar biasa. Dikatakan tidak berprestasi apabila potensi anak tidak sesuai dengan hasil yang dicapainya. Ada dua faktor penentu yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik antara lain keadaan anak itu sendiri, termasuk gaya belajarnya; sementara faktor eksternalnya bisa berupa dukungan lingkungan dan jenis sekolah yang diikuti.
Gangguan Emosional.
Anak berbakat tidak berbeda dengan anak normal, mereka tetap memiliki masalah emosional. Apabila keadaan emosi mereka tidak sesuai dengan pertumbuhan potensi yang mereka miliki, maka anak berbakat juga memiliki kecenderungan untuk tidak berprestasi. Ini yang perlu ditemukenali, diidentifikasi agar dia dapat mewujudkan potensinya secara utuh.
Begitu pula jika anak memiliki kebiasaan belajar yang buruk tentu akan dapat mempengaruhi prestasi anak berbakat. Kerana itu, anak perlu memiliki berbagai kecakapan belajar (study skills).
Kecakapan Akademik Dasar.
Kecakapan akademik dasar diyakini sebagai salah satu faktor penentu berprestasinya anak berbakat. Tetapi jangan lupakan faktor lainnya seperti imajinasi dan kreativitas. Albert Einstein, fisikawan genius menyatakan ‘imagination is more important than knowledge’. Dengan kata lain memiliki daya imajinasi jauh lebih penting daripada sekadar mempunyai pengetahuan semata. Kelemahan pendidikan formal di Indonesia yaitu pengetahuan-pengetahuan yang diberikan wajib dihafal dan direproduksi. Apabila seorang anak dapat mengungkap, menghafal atau mereproduksi pengetahuan yang diberikan kepadanya dengan tepat maka ia akan memperoleh nilai tinggi. Di sini faktor imajinasi tidak dikembangkan. Tidak cukup membekali anak hanya dengan pengetahuan saja, daya kreativitas anak juga penting untuk dikembangkan.
Gaya belajar yang dimiliki anak berbakat memang tidak selalu sama dengan anak normal lainnya. Mereka memang cenderung mempunyai gaya belajar yang unik. Di sinilah peran penting guru, bahwa guru harus dapat mengamati dan memahami gaya belajar yang unik dari anak berbakat. Guru sebaiknya memberikan kesempatan atau peluang bagi anak untuk dapat mewujudkannya.
Dalam hal inilah pendidikan secara individul sangat penting karena fokusnya terletak pada perbedaan perorangan tiap anak berbakat. Sejak dini anak harus memupuk kebiasaan belajar yang baik sehingga dirinya termotivasi untuk mencari pengetahuan-pengetahuan yang dia inginkan. Jangan hanya mengikuti pola yang selalu diberikan oleh guru. Sedapat mungkin belajar dilakukan kontinu dan berusaha meningkatkan task commitment. Hal ini merupakan faktor intrinsik dalam diri anak.
Lingkungan Tidak Mendukung.
Anak berbakat bisa tidak berprestasi jika lingkungan kurang memberi kesempatan kepada anak untuk mewujudkan keunggulan potensinya. Lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat tidak mampu menggugah kreativitas, imajinasi dan inteligensi anak.
Misalnya saja dengan tidak menyediakan prasarana dan sarana yang diperlukan untuk dapat berprestasi unggul. Orangtua terkadang tidak memberikan buku yang baik bagi anaknya. Komik misalnya, bukanlah bacaan yang tepat bagi mereka. Seharusnya orangtua menyediakan buku yang mampu merangsang dan menggugah pemikiran anak serta mendorong minat baca mereka.
Begitu pula jika tidak tersedia permainan edukatif. Selama ini banyak orangtua yang memberikan permainan yang langsung dapat dimainkan saat itu. Seperti mobil atau boneka yang sudah jadi. Sebaiknya anak dilatih untuk bersibuk diri yang mampu merangsang kreativitas mereka. Contoh permainannya, bisa berupa lego dan puzzle. Mengisi teka-teki silang juga sangat baik bagi mereka. Pilihlah permainan yang berdasarkan daya imajinasi anak-anak.
Kelas Akselerasi.
Jenis sekolah yang diikuti anak berbakat pun sangat menentukan prestasi. Jika sekolah memberikan peluang dan kesempatan untuk mengembangkan seluruh potensinya maka anak berbakat dapat berprestasi. Agar bisa mengoptimalisasi bakat anak didik, sekolah bisa melakukan hal-hal seperti ini:
- Mengadakan program-program khusus bagi anak berbakat.
- Mengadakan kelas khusus atau akselerasi. Hanya saja, yang patut dicatat, akselerasi ini bukan melulu mempercepat proses pembelajaran. Yang lebih penting adalah memperkaya materi-materi khusus.
- Meningkatkan kreativitas anak. Pola belajar mengajar di Indonesia kebanyakan berupa materi yang diajarkan guru harus diikuti oleh semua murid. Murid tidak diberikan kebebasan untuk menumbuhkan kreativitasnya. Sebaiknya Guru memberikan kesempatan pada anak untuk kreatif.
- Orangtua membantu menyusun program dan berperan aktif dalam memikirkan kebutuhan anak.
Pondasi pertama pembentukan anak berbakat ada pada keluarga. Lima tahun pertama adalah dasar pembentukan kepribadian seseorang. Terkadang orangtua kurang menyadari hal itu. Mereka mengira dengan memasukkan anak ke SD pada usia 6 tahun, merupakan jalan yang tepat padahal anak-anak sudah mulai belajar sejak dini.
Agar anak berprestasi dibutuhkan 4P yaitu Pribadi (keunikan pribadi tiap orang), Pendorong (motivasi), Proses (bersibuk diri secara kreatif), Produk (kreasi atau inovasi unggul yang dihasilkan si anak).
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D
Untuk konsultasi mengenai gangguan belajar dan masalah belajar lainnya maupun permintaan seminar-training-workshop, silahkan menghubungi Intan di 0813-1641-0088.
Anak saya sekarang kelas III SMP, sewaktu di kelas I SMP, Roland mengikuti test inteligensi dan menurut hasil testnya ia memperoleh nilai yang cukup tinggi. Tetapi nilai-nilai akademiknya hanya rata-rata saja, 6 atau 7. Apa mungkin anak berbakat tidak berprestasi?
Berbakat memang belum tentu berprestasi. Ada banyak faktor yang menentukan apakah seorang anak berbakat mampu meraih segudang prestasi atau bahkan tidak berprestasi sama sekali. Lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat serta dirinya sendiri tentunya sangat mempengaruhi seorang anak berbakat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi dirinya.
Definisi anak berbakat yang sangat populer dinyatakan oleh Lewis Madison Terman dan Joseph S. Renzulli. Menurut Terman seorang anak dapat dikatakan berbakat apabila memiliki nilai Intelligence Quotient (IQ) sama atau di atas 130 superior. Adapun kategori IQ adalah: 90-110 merupakan nilai rata-rata; 90-100 low average (rata-rata bawah), 100-110 high average (rata-rata atas).
Dalam pandangan Renzuli, anak berbakat memiliki gabungan tiga faktor yaitu inteligensi, kreativitas dan komitmen pada tugas. Artinya, anak berintelijensi tinggi belum tentu bisa digolongkan sebagai anak berbakat.
Seperti layaknya anak normal lainnya, tidak semua anak yang dilahirkan berbakat memiliki prestasi luar biasa. Dikatakan tidak berprestasi apabila potensi anak tidak sesuai dengan hasil yang dicapainya. Ada dua faktor penentu yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik antara lain keadaan anak itu sendiri, termasuk gaya belajarnya; sementara faktor eksternalnya bisa berupa dukungan lingkungan dan jenis sekolah yang diikuti.
Gangguan Emosional.
Anak berbakat tidak berbeda dengan anak normal, mereka tetap memiliki masalah emosional. Apabila keadaan emosi mereka tidak sesuai dengan pertumbuhan potensi yang mereka miliki, maka anak berbakat juga memiliki kecenderungan untuk tidak berprestasi. Ini yang perlu ditemukenali, diidentifikasi agar dia dapat mewujudkan potensinya secara utuh.
Begitu pula jika anak memiliki kebiasaan belajar yang buruk tentu akan dapat mempengaruhi prestasi anak berbakat. Kerana itu, anak perlu memiliki berbagai kecakapan belajar (study skills).
Kecakapan Akademik Dasar.
Kecakapan akademik dasar diyakini sebagai salah satu faktor penentu berprestasinya anak berbakat. Tetapi jangan lupakan faktor lainnya seperti imajinasi dan kreativitas. Albert Einstein, fisikawan genius menyatakan ‘imagination is more important than knowledge’. Dengan kata lain memiliki daya imajinasi jauh lebih penting daripada sekadar mempunyai pengetahuan semata. Kelemahan pendidikan formal di Indonesia yaitu pengetahuan-pengetahuan yang diberikan wajib dihafal dan direproduksi. Apabila seorang anak dapat mengungkap, menghafal atau mereproduksi pengetahuan yang diberikan kepadanya dengan tepat maka ia akan memperoleh nilai tinggi. Di sini faktor imajinasi tidak dikembangkan. Tidak cukup membekali anak hanya dengan pengetahuan saja, daya kreativitas anak juga penting untuk dikembangkan.
Gaya belajar yang dimiliki anak berbakat memang tidak selalu sama dengan anak normal lainnya. Mereka memang cenderung mempunyai gaya belajar yang unik. Di sinilah peran penting guru, bahwa guru harus dapat mengamati dan memahami gaya belajar yang unik dari anak berbakat. Guru sebaiknya memberikan kesempatan atau peluang bagi anak untuk dapat mewujudkannya.
Dalam hal inilah pendidikan secara individul sangat penting karena fokusnya terletak pada perbedaan perorangan tiap anak berbakat. Sejak dini anak harus memupuk kebiasaan belajar yang baik sehingga dirinya termotivasi untuk mencari pengetahuan-pengetahuan yang dia inginkan. Jangan hanya mengikuti pola yang selalu diberikan oleh guru. Sedapat mungkin belajar dilakukan kontinu dan berusaha meningkatkan task commitment. Hal ini merupakan faktor intrinsik dalam diri anak.
Lingkungan Tidak Mendukung.
Anak berbakat bisa tidak berprestasi jika lingkungan kurang memberi kesempatan kepada anak untuk mewujudkan keunggulan potensinya. Lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat tidak mampu menggugah kreativitas, imajinasi dan inteligensi anak.
Misalnya saja dengan tidak menyediakan prasarana dan sarana yang diperlukan untuk dapat berprestasi unggul. Orangtua terkadang tidak memberikan buku yang baik bagi anaknya. Komik misalnya, bukanlah bacaan yang tepat bagi mereka. Seharusnya orangtua menyediakan buku yang mampu merangsang dan menggugah pemikiran anak serta mendorong minat baca mereka.
Begitu pula jika tidak tersedia permainan edukatif. Selama ini banyak orangtua yang memberikan permainan yang langsung dapat dimainkan saat itu. Seperti mobil atau boneka yang sudah jadi. Sebaiknya anak dilatih untuk bersibuk diri yang mampu merangsang kreativitas mereka. Contoh permainannya, bisa berupa lego dan puzzle. Mengisi teka-teki silang juga sangat baik bagi mereka. Pilihlah permainan yang berdasarkan daya imajinasi anak-anak.
Kelas Akselerasi.
Jenis sekolah yang diikuti anak berbakat pun sangat menentukan prestasi. Jika sekolah memberikan peluang dan kesempatan untuk mengembangkan seluruh potensinya maka anak berbakat dapat berprestasi. Agar bisa mengoptimalisasi bakat anak didik, sekolah bisa melakukan hal-hal seperti ini:
- Mengadakan program-program khusus bagi anak berbakat.
- Mengadakan kelas khusus atau akselerasi. Hanya saja, yang patut dicatat, akselerasi ini bukan melulu mempercepat proses pembelajaran. Yang lebih penting adalah memperkaya materi-materi khusus.
- Meningkatkan kreativitas anak. Pola belajar mengajar di Indonesia kebanyakan berupa materi yang diajarkan guru harus diikuti oleh semua murid. Murid tidak diberikan kebebasan untuk menumbuhkan kreativitasnya. Sebaiknya Guru memberikan kesempatan pada anak untuk kreatif.
- Orangtua membantu menyusun program dan berperan aktif dalam memikirkan kebutuhan anak.
Pondasi pertama pembentukan anak berbakat ada pada keluarga. Lima tahun pertama adalah dasar pembentukan kepribadian seseorang. Terkadang orangtua kurang menyadari hal itu. Mereka mengira dengan memasukkan anak ke SD pada usia 6 tahun, merupakan jalan yang tepat padahal anak-anak sudah mulai belajar sejak dini.
Agar anak berprestasi dibutuhkan 4P yaitu Pribadi (keunikan pribadi tiap orang), Pendorong (motivasi), Proses (bersibuk diri secara kreatif), Produk (kreasi atau inovasi unggul yang dihasilkan si anak).
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D
Untuk konsultasi mengenai gangguan belajar dan masalah belajar lainnya maupun permintaan seminar-training-workshop, silahkan menghubungi Intan di 0813-1641-0088.
Jadilah Sahabat Bagi Penderita Learning Disabilities
Jadilah Sahabat Bagi Penderita Learning Disabilities
Orangtua sering bingung jika anaknya kehilangan dorongan belajar. Mereka juga tidak menyadari kalau sebenarnya terdapat gangguan pada sistem saraf otak si anak, sehingga mereka sering mengalami kesulitan dalam belajar (learning disabilities). Sebenarnya apa saja yang menyebabkan buah hati mereka sulit atau lemah dalam belajar?
Orangtua kadang marah atau menyalahkan anak jika mereka mengalami kesulitan belajar. Orangtua menjatuhkan vonis bahwa kesulitan belajar itu karena anak tidak fokus dalam menerima pelajaran di sekolah. Sebaiknya, orangtua hendaknya memahami terlebih dahulu apa yang menjadi masalah anak dalam menerima pelajaran. Karena dengan sikap dan cara yang tepat bukan mustahil potensi besar yang terpendam pada diri anak akan menjadi prestasi luar biasa.
Learning Disabilities. Sindrom sulit belajar pada anak sebenarnya bisa diatasi. Orangtua harus benar-benar memahami atas kemampuan dasar yang dimiliki anak-anak mereka. Kita harus menyadari bahwa setiap orang itu sangat berbeda dalam hal kemampuan dasar. Misalnya ada satu keluarga yang memiliki tiga orang anak, sudah pasti kemampuan anak-anak mereka berbeda. Kalaupun ada beberapa hal yang sama, itu lebih karena bakat. Ini didapat melalui keturunan yang diperoleh dari orangtua.
Lalu apa sebenarnya learning disabilities itu sendiri? Ini adalah kesulitan belajar yang disebabkan oleh adanya kelainan fungsi syaraf otak. Hal ini ditunjukkan oleh ketidaksempurnaan membaca, menulis, berbicara atau yang berhubungan dengan bahasa dan berhitung.
Salah Ucap, Salah Tulis, Salah Hitung.
Ada tiga macam kesulitan belajar yang sering dialami anak. Yang pertama adalah kesulitan membaca (disleksia), yaitu kesulitan belajar yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis. Ini disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menghubungkan antara lisan dan tulisan. Beberapa ciri anak yang menderita gangguan ini adalah sulit mengeja secara benar, sulit mengeja kata atau suku kata yang bentuknya serupa, kesulitan mengurutkan huruf-huruf dalam kata, dan kesalahan mengeja terus-menerus.
Jenis kedua adalah disgrafia, yaitu kesulitan belajar mengharmonisasi ingatan dan penguasaan gerak tangan ketika menuliskan angka dan huruf. Bagi anak-anak yang menderita gangguan ini, mereka akan kesulitan dalam menulis setiap kata-kata yang diucapkan gurunya saat pelajaran mendikte. Beberapa cirinya adalah bentuk huruf sering berubah, sulit memegang alat tulis (pulpen atau pensil sering terlepas dari tangan karena gugup atau tegang), sering salah menulis kata-kata (kelapa menjadi kepala), terlalu fokus pada tangannya ketika menulis, sering salah tulis walaupun sudah menyalin tulisan orang lain.
Yang terakhir adalah diskalkulia, yaitu kesulitan pada kemampuan kalkulasi secara sistematis, baik berhitung ataupun kalkulasi. Gejala anak penderita gangguan ini adalah sulit menghitung hitungan sistematis seperti misalnya menghitung jumlah uang kembalian, sulit menggunakan konsep waktu misalnya bingung mengurutkan masa lampau dan masa sekarang, dan sulit menghitung skor pertandingan.
Belum Tentu Underachiever.
Lantas, benarkah anak yang mengalami kesulitan atau lemah dalam belajar bisa dikatakan kalau dia juga underachiever? Underachiever atau overachiever lebih ke arah suatu ciri pribadi. Sehingga hubungannya dengan kemampuan belajar seorang anak tidak terlalu dekat.
Begitu pula dengan harga diri. Hal ini juga merupakan ciri pribadi seseorang. Karena pada dasarnya kelemahan seorang anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor psikologik, lingkungan, dan faktor jasmani.
Sedangkan untuk anak yang menyandang autis tidak bisa dikatakan menderita kesulitan belajar (learning disabilities). Tidak semua anak-anak yang menyandang autis itu menderita lemah dalam menerima pelajaran yang diberikan.
Namun, jangan pernah menganggap remeh anak-anak yang menderita ganguan kesulitan belajar ini. Karena walaupun mereka mengalami gangguan tersebut, mereka juga mempunyai beberapa kelebihan. Diantara mereka tidak jarang yang berbakat di bidang musik, seni lukis atau aktivitas kreatif lainnya.
Cara Menumbuhkan Rasa Percaya Diri pada Anak Penderita Learning Disabilities
Mungkin banyak orang yang berpendapat bahwa anak yang menderita gangguan kesulitan belajar ini adalah anak yang idiot, bodoh, ataupun cacat jiwa. Semua anggapan itu salah. Gangguan ini dapat disembuhkan asalkan menggunakan metoda yang tepat. Orangtua bisa mengatasi masalah ini, antara lain dengan cara:
• Cobalah untuk memahami keadaan anak dengan cara jangan membandingkan dia dengan anak-anak lain dan jadilah motivator bagi si anak.
• Jangan terlalu banyak menuntut pada anak-anak
• Biarkan dia menulis dengan media selain buku, misalnya dengan komputer atau mesin ketik. Dengan menggunakan komputer diharapkan si anak akan tahu kesalahannya dalam mengeja dengan fasilitas yang ada di media tersebut.
• Yang tidak kalah penting adalah orangtua harus mampu membangun rasa percaya diri pada anak. Janganlah melecehkan atau menghina bila si anak berbuat kesalahan, karena ini dapat menyebabkan mereka rendah diri dan menjadi frustrasi.
• Selain itu latih mereka untuk terus menulis. Untuk menulis, orangtua tidak hanya memberikan tugas dalam bentuk tulisan, tapi juga bisa dalam bentuk gambar. Berikan tugas dan memang diminati mereka.
Tidak hanya itu, orangtua juga wajib menemukan potensi yang terpendam dalam diri anak-anaknya. Biarkan mereka menemukan potensinya selain menulis, membaca dan berhitung. Bebaskan mereka memilih bidang apa yang mereka minati, misalnya saja melukis, bermusik atau yang lainnya. Biarkan mereka bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, karena ini juga dapat melatih mereka dalam berkomunikasi. DB
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D
Untuk konsultasi mengenai gangguan belajar dan masalah belajar lainnya maupun permintaan seminar-training-workshop, silahkan menghubungi Intan di 0813-1641-0088.
Orangtua sering bingung jika anaknya kehilangan dorongan belajar. Mereka juga tidak menyadari kalau sebenarnya terdapat gangguan pada sistem saraf otak si anak, sehingga mereka sering mengalami kesulitan dalam belajar (learning disabilities). Sebenarnya apa saja yang menyebabkan buah hati mereka sulit atau lemah dalam belajar?
Orangtua kadang marah atau menyalahkan anak jika mereka mengalami kesulitan belajar. Orangtua menjatuhkan vonis bahwa kesulitan belajar itu karena anak tidak fokus dalam menerima pelajaran di sekolah. Sebaiknya, orangtua hendaknya memahami terlebih dahulu apa yang menjadi masalah anak dalam menerima pelajaran. Karena dengan sikap dan cara yang tepat bukan mustahil potensi besar yang terpendam pada diri anak akan menjadi prestasi luar biasa.
Learning Disabilities. Sindrom sulit belajar pada anak sebenarnya bisa diatasi. Orangtua harus benar-benar memahami atas kemampuan dasar yang dimiliki anak-anak mereka. Kita harus menyadari bahwa setiap orang itu sangat berbeda dalam hal kemampuan dasar. Misalnya ada satu keluarga yang memiliki tiga orang anak, sudah pasti kemampuan anak-anak mereka berbeda. Kalaupun ada beberapa hal yang sama, itu lebih karena bakat. Ini didapat melalui keturunan yang diperoleh dari orangtua.
Lalu apa sebenarnya learning disabilities itu sendiri? Ini adalah kesulitan belajar yang disebabkan oleh adanya kelainan fungsi syaraf otak. Hal ini ditunjukkan oleh ketidaksempurnaan membaca, menulis, berbicara atau yang berhubungan dengan bahasa dan berhitung.
Salah Ucap, Salah Tulis, Salah Hitung.
Ada tiga macam kesulitan belajar yang sering dialami anak. Yang pertama adalah kesulitan membaca (disleksia), yaitu kesulitan belajar yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis. Ini disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menghubungkan antara lisan dan tulisan. Beberapa ciri anak yang menderita gangguan ini adalah sulit mengeja secara benar, sulit mengeja kata atau suku kata yang bentuknya serupa, kesulitan mengurutkan huruf-huruf dalam kata, dan kesalahan mengeja terus-menerus.
Jenis kedua adalah disgrafia, yaitu kesulitan belajar mengharmonisasi ingatan dan penguasaan gerak tangan ketika menuliskan angka dan huruf. Bagi anak-anak yang menderita gangguan ini, mereka akan kesulitan dalam menulis setiap kata-kata yang diucapkan gurunya saat pelajaran mendikte. Beberapa cirinya adalah bentuk huruf sering berubah, sulit memegang alat tulis (pulpen atau pensil sering terlepas dari tangan karena gugup atau tegang), sering salah menulis kata-kata (kelapa menjadi kepala), terlalu fokus pada tangannya ketika menulis, sering salah tulis walaupun sudah menyalin tulisan orang lain.
Yang terakhir adalah diskalkulia, yaitu kesulitan pada kemampuan kalkulasi secara sistematis, baik berhitung ataupun kalkulasi. Gejala anak penderita gangguan ini adalah sulit menghitung hitungan sistematis seperti misalnya menghitung jumlah uang kembalian, sulit menggunakan konsep waktu misalnya bingung mengurutkan masa lampau dan masa sekarang, dan sulit menghitung skor pertandingan.
Belum Tentu Underachiever.
Lantas, benarkah anak yang mengalami kesulitan atau lemah dalam belajar bisa dikatakan kalau dia juga underachiever? Underachiever atau overachiever lebih ke arah suatu ciri pribadi. Sehingga hubungannya dengan kemampuan belajar seorang anak tidak terlalu dekat.
Begitu pula dengan harga diri. Hal ini juga merupakan ciri pribadi seseorang. Karena pada dasarnya kelemahan seorang anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor psikologik, lingkungan, dan faktor jasmani.
Sedangkan untuk anak yang menyandang autis tidak bisa dikatakan menderita kesulitan belajar (learning disabilities). Tidak semua anak-anak yang menyandang autis itu menderita lemah dalam menerima pelajaran yang diberikan.
Namun, jangan pernah menganggap remeh anak-anak yang menderita ganguan kesulitan belajar ini. Karena walaupun mereka mengalami gangguan tersebut, mereka juga mempunyai beberapa kelebihan. Diantara mereka tidak jarang yang berbakat di bidang musik, seni lukis atau aktivitas kreatif lainnya.
Cara Menumbuhkan Rasa Percaya Diri pada Anak Penderita Learning Disabilities
Mungkin banyak orang yang berpendapat bahwa anak yang menderita gangguan kesulitan belajar ini adalah anak yang idiot, bodoh, ataupun cacat jiwa. Semua anggapan itu salah. Gangguan ini dapat disembuhkan asalkan menggunakan metoda yang tepat. Orangtua bisa mengatasi masalah ini, antara lain dengan cara:
• Cobalah untuk memahami keadaan anak dengan cara jangan membandingkan dia dengan anak-anak lain dan jadilah motivator bagi si anak.
• Jangan terlalu banyak menuntut pada anak-anak
• Biarkan dia menulis dengan media selain buku, misalnya dengan komputer atau mesin ketik. Dengan menggunakan komputer diharapkan si anak akan tahu kesalahannya dalam mengeja dengan fasilitas yang ada di media tersebut.
• Yang tidak kalah penting adalah orangtua harus mampu membangun rasa percaya diri pada anak. Janganlah melecehkan atau menghina bila si anak berbuat kesalahan, karena ini dapat menyebabkan mereka rendah diri dan menjadi frustrasi.
• Selain itu latih mereka untuk terus menulis. Untuk menulis, orangtua tidak hanya memberikan tugas dalam bentuk tulisan, tapi juga bisa dalam bentuk gambar. Berikan tugas dan memang diminati mereka.
Tidak hanya itu, orangtua juga wajib menemukan potensi yang terpendam dalam diri anak-anaknya. Biarkan mereka menemukan potensinya selain menulis, membaca dan berhitung. Bebaskan mereka memilih bidang apa yang mereka minati, misalnya saja melukis, bermusik atau yang lainnya. Biarkan mereka bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, karena ini juga dapat melatih mereka dalam berkomunikasi. DB
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D
Untuk konsultasi mengenai gangguan belajar dan masalah belajar lainnya maupun permintaan seminar-training-workshop, silahkan menghubungi Intan di 0813-1641-0088.
Sunday, 13 March 2011
Berita Tragis
BERITA TRAGIS
“Ketika saya masih kecil dan melihat hal-hal menakutkan di dalam berita, ibu saya selalu berkata kepada saya, ‘Lihat para penolong itu. Kamu akan selalu menemukan orang yang bersedia menolongmu’.”
Pada saat dunia mengalami krisis, sungguh mudah menganggap anak-anak kecil takkan tahu apa yang tengah terjadi. Yang jelas, anak-anak sangat peka pada perasaan orangtuanya. Mereka menyadari ekspresi muka dan nada suara orangtuanya. Anak-anak tahu kapan orangtuanya benar-benar khawatir, entah saat orangtuanya menonton berita di TV atau saat berbicara dengan orang lain. Tak peduli apa yang diketahui anak-anak soal krisis, namun sungguh menakutkan bagi mereka mengetahui kalau orangtuanya ketakutan.
Siapa yang Akan Merawatku?
Di masa krisis, anak-anak ingin tahu, “Siapa yang akan merawatku?” Mereka bergantung pada orang dewasa untuk keberlangsungan hidup dan keamanannya. Secara alamiah anak-anak masih memikirkan dirinya sendiri. Mereka perlu mendengar dengan jelas bahwa orangtuanya akan melakukan segala hal untuk merawatnya dan menjaga mereka tetap aman. Mereka juga perlu tahu bahwa orang-orang di pemerintahan, di masyarakat dan di dunia, dan bahkan orang-orang yang tidak mereka kenal, juga bekerja keras untuk membuatnya tetap aman.
Agar Anak Merasa Lebih Aman
Bertmain adalah salah satu cara terpenting bagi anak kecil untuk menghadapi kekhawatiran-kekhawatirannya. Tetapi bahkan bermain pura-pura menirukan apa yang ada di dalam berita juga bisa menakutkan, bahkan tidak aman. Karenanya orang dewasa perlu di dekat anak-anak untuk mengarahkan permainan itu menjadi tema-tema yang lebih positif, seperti daripada bermain perang-perangan lebih baik bermain menjadi dokter atau perawat yang menolong orang terluka atau berpura-pura menjadi pekerja sosial yang menyiapkan makanan bagi korban bencana.
Bila anak-anak merasa takut dan cemas, mereka biasanyamenjadi lebih lengket, rewel dan takut tidur pada malam hari. Menangis, perilaku agresif atau ngompol merupakan caranya untuk meminta lebih banyak kenyamanan dari orangtuanya. Sedikit demi sedikit, ketika orang-orang dewasa di sekitarnya lebih yakin, aman dan punya harapan, anak-anak juga akan mengikuti.
Gambar-gambar yang Menakutkan dan Membingungkan
Cara berita disajikan di televisi bisa sangat membingungkan bagi anak kecil. Segmen video yang sama bisa disajikan berulang-ulang sepanjang hari, seakan-akan tiap tayangan itu adalah kejadian yang berbeda-beda. Orang yang sudah mati hidup kembali dan mati lagi dan lagi.
Anak-anak menjadi sangat cemas karena mereka tak mengerti banyak soal siaran ulangan, close-up, dan sudut pengambilan kamera. Setiap bahaya yang disiarkan televisi tampaknya dekat dengan rumahnya karena adegan-adegan tragis itu terjadi di pesawat televisi yang ada di ruang keluarganya. Anak-anak tak tahu perbedaan antara apa yang dekat dan yang jauh... apa yang nyata dan yang pura-pura... atau apa yang baru (langsung) dan yang siaran ulangan.
Semakin kecil anak Anda, semakin besar kemungkinan ia tertarik pada adegan-adegan berita dengan wajah-wajah close-up, utamanya jika orang-orang itu menunjukkan perasaan yang amat kuat. Bila ada berita-berita tragis, citra di TV acapkali terlalu grafis dan mengganggu anak-anak kecil.
Matikan TV
Ketika ada tragedi di berita, banyak orangtua bingung bagaimana menceritakannya kepada anak-anak. Kebanyakan diam saja atau malah diajak menonton bersama. Lebih sulit lagi kalau kita juga berjuang mengatasi perasaan kita sendiri terhadap apa yang kita lihat. Orang dewasa acap terkejut atas reaksinya terhadap berita begitu kuat. Ini karena berita bencana dan krisis di televisi membangunkan kembali rasa takut dan duka kita... bahkan jika sudah kita anggap terlupakan.
Kita jadi mudah membiarkan diri menonton berita krisis itu berlama-lama. (termasuk kisah tragedi dalam bentuk opera sabun, sinetron atau telenovela). Padahal, memaparkan diri kita pada begitu banyak tragedi bisa membuat kita merasa tak berdaya, tidak aman dan bahkan depresi. Nah, kalau ingin membantu anak-anak dan diri kita sendiri, kita harus mampu membatasi diri dalam menonton televisi. Anak-anak membutuhkan banyak waktu berama orangtuanya – jauh dari gambaran menakutkan dan menyedihkan di layar kaca.
Mengobrol
Bahkan kalau kita mau, rasanya tak mungkin memberi penjelasan yang bisa diterima anak-anak tentang begitu banyaknya perang, terorisme, pembunuhan, pemerkosaan, kebakaran, banjir, kemarau panjang, gempa bumi, dan taufan. Kalau mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan, jawaban terbaik kita adalah kembali bertanya kepadanya, “Menurutmu, apa yang terjadi?” Kalau jawaban mereka “Aku tak tahu,” maka balasan paling sederhana adalah seperti, “Mami sedih mendengar berita itu dan Mami khawatir. Tetapi Mami mencintaimu dan Mami maupun Papi selalu ada di sini untuk merawatmu.”
Kalau kita tidak membolehkan anak-anak menunjukkan perasaan sedih dan takut, mereka akan berusaha keras menyembunyikannya atau beranggapan dirinya salah atau tidak benar kapan pun perasaan seperti itu muncul. Mereka memang tidak memerlukan rincian peristiwa yang membuat diri kita sedih atau takut, tetapi kita dapat membantu anak-anak dengan menerima perasaan mereka sebagai hal yang alamiah dan normal. Maka mereka pun akan lebih gampang mengelola segala perasaannya.
Rasa marah juga bagian dari manusia, khususnya bila kita merasa tak berdaya. Salah satu pesan paling penting yang bisa kita berikan kepada anak-anak adalah, “Tidak apa-apa marah, tetapi sama sekali tidak boleh melukai orang lain.” Selain memberi anak-anak hak untuk marah, kita bisa mendorong mereka menemukan cara-cara konstruktif untuk melepaskan perasaannya. Dengan cara ini, kita memberi mereka peralatan bagus yang berguna sepanjang hidupnya dan membantu mereka menjadi “juru damai”, menjadi “para penolong” dunia masa depan.
Panduan Praktis
- Lakukan yang terbaik dengan tetap mematikan televisi, atau paling tidak batasi seberapa banyak anak Anda boleh melihat berita TV.
- Cobalah menenangkan diri Anda sendiri. Kehadiran Anda membuat anak-anak merasa lebih aman. Beri anak Anda tambahan kenyamanan dan rasa sayang jasmaniah, seperti pelukan atau berangkulan samabil membaca buku favorit. Kenyamanan fisik juga bisa menimbulkan rasa aman. Hal ini juga menguatkan ikatan emosional Anda berdua.
- Cobalah sebisa mungkin menjaga rutinitas. Anak-anak dan orang dewasa sangat bergantung pada pola hidup sehari-hari yang sudah diakrabinya.
- Rencanakan sesuatu yang bisa Anda nikmati bersama anak-anak, seperti berjalan-jalan, pergi piknik, meluangkan waktu hening, atau berdoa. Sungguh berguna mengetahui ada hal-hal kecil yang bisa kita lakukan untuk merasa lebih baik, baik pada saat suka maupun duka.
- Bahkan kalau anak-anak tidak menjelaskan apa yang sudah mereka lihat atau dengar dari berita, Anda perlu bertanya apa yang menurut mereka telah terjadi. Jika orangtua tak mengangkat tema itu, anak-anak akan dibiarkan dengan anggapannya sendiri yang keliru. Anda akan terkejut betapa banyak yang didengar anak Anda dari orang lain.
- Fokuskan perhatian pada para penolong, seperti polisi, regu pemadam kebakaran, perawat, dokter, dan sukarelawan. Sungguh menenangkan mengetahui ada banyak orang peduli yang berani menolong orang lain di dunia.
- Tunjukkan kepada anak-anak ketika Anda menyumbang atau ikut rapat organisasi sosial, menulis surat atau e-mail dukungan, atau mengambil langkah-langkah dukungan. Anak-anak akan menumbuhkan sikap positif jika melihat orang-orang dewasa di sekitarnya mengambil peran aktif yang berbeda-beda dan tidak menyerah dalam ketakberdayaan pada masa krisis. DB
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D
Untuk konsultasi dan permintaan seminar – workshop, silahkan menghubungi Intan di 0813-1641-0088.
“Ketika saya masih kecil dan melihat hal-hal menakutkan di dalam berita, ibu saya selalu berkata kepada saya, ‘Lihat para penolong itu. Kamu akan selalu menemukan orang yang bersedia menolongmu’.”
Pada saat dunia mengalami krisis, sungguh mudah menganggap anak-anak kecil takkan tahu apa yang tengah terjadi. Yang jelas, anak-anak sangat peka pada perasaan orangtuanya. Mereka menyadari ekspresi muka dan nada suara orangtuanya. Anak-anak tahu kapan orangtuanya benar-benar khawatir, entah saat orangtuanya menonton berita di TV atau saat berbicara dengan orang lain. Tak peduli apa yang diketahui anak-anak soal krisis, namun sungguh menakutkan bagi mereka mengetahui kalau orangtuanya ketakutan.
Siapa yang Akan Merawatku?
Di masa krisis, anak-anak ingin tahu, “Siapa yang akan merawatku?” Mereka bergantung pada orang dewasa untuk keberlangsungan hidup dan keamanannya. Secara alamiah anak-anak masih memikirkan dirinya sendiri. Mereka perlu mendengar dengan jelas bahwa orangtuanya akan melakukan segala hal untuk merawatnya dan menjaga mereka tetap aman. Mereka juga perlu tahu bahwa orang-orang di pemerintahan, di masyarakat dan di dunia, dan bahkan orang-orang yang tidak mereka kenal, juga bekerja keras untuk membuatnya tetap aman.
Agar Anak Merasa Lebih Aman
Bertmain adalah salah satu cara terpenting bagi anak kecil untuk menghadapi kekhawatiran-kekhawatirannya. Tetapi bahkan bermain pura-pura menirukan apa yang ada di dalam berita juga bisa menakutkan, bahkan tidak aman. Karenanya orang dewasa perlu di dekat anak-anak untuk mengarahkan permainan itu menjadi tema-tema yang lebih positif, seperti daripada bermain perang-perangan lebih baik bermain menjadi dokter atau perawat yang menolong orang terluka atau berpura-pura menjadi pekerja sosial yang menyiapkan makanan bagi korban bencana.
Bila anak-anak merasa takut dan cemas, mereka biasanyamenjadi lebih lengket, rewel dan takut tidur pada malam hari. Menangis, perilaku agresif atau ngompol merupakan caranya untuk meminta lebih banyak kenyamanan dari orangtuanya. Sedikit demi sedikit, ketika orang-orang dewasa di sekitarnya lebih yakin, aman dan punya harapan, anak-anak juga akan mengikuti.
Gambar-gambar yang Menakutkan dan Membingungkan
Cara berita disajikan di televisi bisa sangat membingungkan bagi anak kecil. Segmen video yang sama bisa disajikan berulang-ulang sepanjang hari, seakan-akan tiap tayangan itu adalah kejadian yang berbeda-beda. Orang yang sudah mati hidup kembali dan mati lagi dan lagi.
Anak-anak menjadi sangat cemas karena mereka tak mengerti banyak soal siaran ulangan, close-up, dan sudut pengambilan kamera. Setiap bahaya yang disiarkan televisi tampaknya dekat dengan rumahnya karena adegan-adegan tragis itu terjadi di pesawat televisi yang ada di ruang keluarganya. Anak-anak tak tahu perbedaan antara apa yang dekat dan yang jauh... apa yang nyata dan yang pura-pura... atau apa yang baru (langsung) dan yang siaran ulangan.
Semakin kecil anak Anda, semakin besar kemungkinan ia tertarik pada adegan-adegan berita dengan wajah-wajah close-up, utamanya jika orang-orang itu menunjukkan perasaan yang amat kuat. Bila ada berita-berita tragis, citra di TV acapkali terlalu grafis dan mengganggu anak-anak kecil.
Matikan TV
Ketika ada tragedi di berita, banyak orangtua bingung bagaimana menceritakannya kepada anak-anak. Kebanyakan diam saja atau malah diajak menonton bersama. Lebih sulit lagi kalau kita juga berjuang mengatasi perasaan kita sendiri terhadap apa yang kita lihat. Orang dewasa acap terkejut atas reaksinya terhadap berita begitu kuat. Ini karena berita bencana dan krisis di televisi membangunkan kembali rasa takut dan duka kita... bahkan jika sudah kita anggap terlupakan.
Kita jadi mudah membiarkan diri menonton berita krisis itu berlama-lama. (termasuk kisah tragedi dalam bentuk opera sabun, sinetron atau telenovela). Padahal, memaparkan diri kita pada begitu banyak tragedi bisa membuat kita merasa tak berdaya, tidak aman dan bahkan depresi. Nah, kalau ingin membantu anak-anak dan diri kita sendiri, kita harus mampu membatasi diri dalam menonton televisi. Anak-anak membutuhkan banyak waktu berama orangtuanya – jauh dari gambaran menakutkan dan menyedihkan di layar kaca.
Mengobrol
Bahkan kalau kita mau, rasanya tak mungkin memberi penjelasan yang bisa diterima anak-anak tentang begitu banyaknya perang, terorisme, pembunuhan, pemerkosaan, kebakaran, banjir, kemarau panjang, gempa bumi, dan taufan. Kalau mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan, jawaban terbaik kita adalah kembali bertanya kepadanya, “Menurutmu, apa yang terjadi?” Kalau jawaban mereka “Aku tak tahu,” maka balasan paling sederhana adalah seperti, “Mami sedih mendengar berita itu dan Mami khawatir. Tetapi Mami mencintaimu dan Mami maupun Papi selalu ada di sini untuk merawatmu.”
Kalau kita tidak membolehkan anak-anak menunjukkan perasaan sedih dan takut, mereka akan berusaha keras menyembunyikannya atau beranggapan dirinya salah atau tidak benar kapan pun perasaan seperti itu muncul. Mereka memang tidak memerlukan rincian peristiwa yang membuat diri kita sedih atau takut, tetapi kita dapat membantu anak-anak dengan menerima perasaan mereka sebagai hal yang alamiah dan normal. Maka mereka pun akan lebih gampang mengelola segala perasaannya.
Rasa marah juga bagian dari manusia, khususnya bila kita merasa tak berdaya. Salah satu pesan paling penting yang bisa kita berikan kepada anak-anak adalah, “Tidak apa-apa marah, tetapi sama sekali tidak boleh melukai orang lain.” Selain memberi anak-anak hak untuk marah, kita bisa mendorong mereka menemukan cara-cara konstruktif untuk melepaskan perasaannya. Dengan cara ini, kita memberi mereka peralatan bagus yang berguna sepanjang hidupnya dan membantu mereka menjadi “juru damai”, menjadi “para penolong” dunia masa depan.
Panduan Praktis
- Lakukan yang terbaik dengan tetap mematikan televisi, atau paling tidak batasi seberapa banyak anak Anda boleh melihat berita TV.
- Cobalah menenangkan diri Anda sendiri. Kehadiran Anda membuat anak-anak merasa lebih aman. Beri anak Anda tambahan kenyamanan dan rasa sayang jasmaniah, seperti pelukan atau berangkulan samabil membaca buku favorit. Kenyamanan fisik juga bisa menimbulkan rasa aman. Hal ini juga menguatkan ikatan emosional Anda berdua.
- Cobalah sebisa mungkin menjaga rutinitas. Anak-anak dan orang dewasa sangat bergantung pada pola hidup sehari-hari yang sudah diakrabinya.
- Rencanakan sesuatu yang bisa Anda nikmati bersama anak-anak, seperti berjalan-jalan, pergi piknik, meluangkan waktu hening, atau berdoa. Sungguh berguna mengetahui ada hal-hal kecil yang bisa kita lakukan untuk merasa lebih baik, baik pada saat suka maupun duka.
- Bahkan kalau anak-anak tidak menjelaskan apa yang sudah mereka lihat atau dengar dari berita, Anda perlu bertanya apa yang menurut mereka telah terjadi. Jika orangtua tak mengangkat tema itu, anak-anak akan dibiarkan dengan anggapannya sendiri yang keliru. Anda akan terkejut betapa banyak yang didengar anak Anda dari orang lain.
- Fokuskan perhatian pada para penolong, seperti polisi, regu pemadam kebakaran, perawat, dokter, dan sukarelawan. Sungguh menenangkan mengetahui ada banyak orang peduli yang berani menolong orang lain di dunia.
- Tunjukkan kepada anak-anak ketika Anda menyumbang atau ikut rapat organisasi sosial, menulis surat atau e-mail dukungan, atau mengambil langkah-langkah dukungan. Anak-anak akan menumbuhkan sikap positif jika melihat orang-orang dewasa di sekitarnya mengambil peran aktif yang berbeda-beda dan tidak menyerah dalam ketakberdayaan pada masa krisis. DB
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D
Untuk konsultasi dan permintaan seminar – workshop, silahkan menghubungi Intan di 0813-1641-0088.
Reaksi Anak-anak pada Kematian
Reaksi Anak-anak pada Kematian
Ketika terjadi kematian anggota keluarga, anak-anak sering menanggapinya dalam cara yang tidak terduga, membuat orang-orang dewasa bingung dan ragu-ragu bagaimana mendekati mereka untuk membantu mereka mengatasi rasa dukanya. Karena anak-anak yang masih kecil kurang bisa menangkap konsep-konsep abstrak, kebanyakan psikolog perkembangan menganggap anak-anak yang umurnya kurang dari dua tahun belum bisa memahami konsep kematian.
Orangtua yang khawatir bagaimana mengatasi duka anak-anak musti memahami tahap-tahap perkembangan setiap anaknya. Lebih baik menjawab hanya pertanyaan yang anak-anak ajukan. Kita terlalu sering menganggap anak-anak meminta informasi lebih banyak daripada yang bisa mereka cerna. Seperti orangtua dari anak perempuan berumur enam tahun yang bertanya, “dari mana asalku?” Setelah menjelaskan panjang lebar bagaimana bayi berkembang dari satu benih kecil, anak itu dengan wajah polosnya menukas, “Oh aku pikir kita berasal dari Surabaya!”
Ungkapkan kebenaran kepada anak-anak. Bersikap terbuka. Yakinkan bahwa Anda selalu ada pada saat mereka membutuhkan. Dengarkan pertanyaan mereka dengan awas. Kemudian jawab dengan ringkas dan jujur. Kalau anak puas dengan jawaban itu, tunggulah sampai ia bertanya lebih lanjut sebelum Anda mengelaborasi lebih dalam. Dengan cara ini anak akan memperoleh pengetahuan sesuai kesiapannya dan ia akan mulai mengumpulkan informasi yang bisa membantunya membentuk konsep kematian.
Jangan takut mengungkapan duka Anda di depan anak-anak. Menyembunyikan perasaan duka hanya akan membuat anak-anak merasa bahwa mengekspresikan kesedihan merupakan hal yang tidak pantas atau tidak baik. Kesedihan, kemarahan, rasa bersalah dan kesepian adalah perasaan yang sangat wajar muncul setelah kita kehilangan orang tercinta. Jika anak-anak tumbuh berkembang dengan melihat ekspresi perasaan-perasaan itu, maka mereka nantinya juga akan bisa menunjukkan perasaan itu secara normal dan alamiah.
Kematian di Mata Anak Prasekolah
Ketika anak-anak berangkat besar dan belajar kecakapan-kecakapan baru, persepsi mereka terhadap kematian pun ikut berubah. Misalnya, anak-anak prasekolah yang berumur 3-5 tahun biasanya belum tahu kalau kematian bersifat final. Mereka masih menganggapnya sebagai kehidupan yang berlanjut, bertahap atau sementara. Mereka percaya kalau orang itu sudah pergi tapi hidup berlanjut seakan orang lain. Orang yang mati dianggapnya hidup di tempat lain seperti “surga,” “kuburan” atau “tempat yang jauh.” Anak-anak prasekolah biasanya menganggap kematian bisa dibalikkan – suatu keyakinan yang diperkuat oleh tokoh-rokoh kartun yang “mati” dan “hidup” lagi.
Pada umur ini, kecemasan, kalau ada, adalah karena perpisahan dan bukan karena mengetahui finalitas kematian. Kebanyakan anak prasekolah ini sudah puas dengan penjelasan sederhana di mana orang yang meninggal itu tinggal. Mereka punya kesadaran bahwa kehidupan orang itu sudah habis tapi dibandingkannya dengan orang tidur.
Personifikasi Kematian Menurut Anak Umur 5-9 Tahun
Antara umur 5-9 tahun, anak-anak mulai bisa mempersonifikasi kematian. Anak-anak pada tahap ini cenderung memandang kematian sebagai orang yang terpisah, misalnya sebagai “malaikat”, “tulang belulang,” dsb. Mereka tahu kalau kematian bersifat final, tapi mereka menganggapnya tidak berlaku umum. Dengan kata lain, mereka pikir kalau Anda berlari lebih cepat, atau “mengakali si pencabut nyawa” maka kita bisa menghindari kematian. Mereka juga percaya bahwa kematian itu tidak akan terjadi pada dirinya atau orang-orang yang dikenalnya.
Persepsi Finalitas Kematian pada Anak Berumur 10 tahun
Setelah lebih dari 10 tahun, anak-anak bukan hanya memahami kalau kematian itu final, tapi juga tidak bisa dielakkan. Konotasi kematian pada umur ini, pra-remaja, biasanya adalah kesedihan dan takut akan agresi. Kematian dianggap terutama sebagai perpisahan dan kesendirian atau takut akan tindakan kekerasan seseorang.
Pada tahap ini, fantasi atau magis mewarnai pikiran mereka mengenai kematian. Anak cenderung percaya bahwa berbagai kejadian berlangsung dalam cara tertentu karena pikiran seseorang. Misalnya, kalau dua orang anak bermain-main di pinggir jalan lalu salah seorang di antara mereka terserempet mobil, maka anak yang selamat akan punya perasaan bahwa dirinyalah yang menjadi penyebab kecelakaan itu. Begitu pula, jika salah seorang saudara kandungnya meninggal, anak sering percaya bahwa hal itu terjadi karena pikirannya atau karena ia telah berbuat nakal sehingga kakak/adiknya mati.
Bagaimana Reaksi “Normal” Anak pada Kematian
Anak-anak yang saudara atau orangtuanya meninggal akan sangat terkejut dan bingung. Apalagi, biasanya, pada saat itu tidak ada anggota keluarga yang bisa membantu mereka karena semuanya sama-sama terkejut dan berduka sehingga tak mampu bertanggungjawab merawat anak-anak seperti biasanya.
Orangtua musti menyadari respon normal anak-anak terhadap kematian di dalam keluarganya, serta tanda-tanda bahaya. Menurut para psikolog anak dan remaja, relatif normal kalau sampai beberapa minggu setelah kematian keluarganya, anak-anak menganggap anggota keluarganya itu masih hidup. Namun kalau sampai berbulan-bulan anak ini masih menolak kematian itu atau menghindari rasa duka itu merupakan respon yang tidak sehat dan bisa menjadi gangguan yang lebih berat.
Seorang anak yang takut menghadiri upacara pemakaman jangan dipaksa untuk pergi. Namun sebaiknya ia mengikuti kegiatan kebaktian atau berdoa bersama, salat jenasah atau salat ghoib. Ia bisa ikut menyalakan lilin, berdoa atau mengunjungi tempat pemakaman.
Begitu anak-anak bisa menerima kematian, mereka akan menunjukkan perasaan sedih berulang kali dalam rentang waktu yang sangat panjang, dan acapkali pada saat-saat yang tidak terduga. Kerabat yang masih hidup musti meluangkan banyak waktu bersama dengan anak ini untuk meyakinkan bahwa ia bisa mengungkapkan perasaan-perasaannya secar terbuka dan bebas.
Jika orang yang telah mati memiliki posisi penting dalam stabilitas dunia anak-anak, reaksi alamiah anak-anak adalah marah. Kemarahan ini bisa ditunjukkan dalam permainan yang riuh, mimpi buruk, amok atau banyak perilaku lainnya. Tidak jarang anak ini marah kepada anggota keluarga yang masih hidup.
Setelah salah seorang atau kedua orangtuanya wafat, banyak anak bertingkah lebih muda daripada seharusnya alias kekanak-kanakan atau kebayi-bayian. Untuk sementara ia menjadi “bayi” kembali, minta disuapi, diberi perhatian berlebih, dielus, dan bicara seperti bayi.
Anak-anak yang masih kecil biasanya meyakini kalau merekalah penyebab apa yang terjadi di sekitar mereka. Anak kecil mungkin percaya kalau orangtua, kakek-nenek, atau saudaranya meninggal karena ia pernah “berharap” orang itu mati. Anak ini merasa bersalah karena keinginannya “menjadi kenyataan.”
Tanda-tanda Bahaya
Karena itu, orangtua musti mewaspadai tanda-tanda bahaya seperti di bawah ini”
Masa depresi yang terlalu lama, di mana anak kehilangan minat pada kegiatan dan kejadian sehari-hari.
Sulit tidur, tidak berselera makan, terus menerus takut sendirian untuk waktu yang lama.
Bertingkah kebayi-bayian dalam waktu yang sangat lama.
Berlebihan menirukan orang yang meninggal. Mengulang-ulang pernyataan ingin ikut orang yang wafat.
Tidak mau berkawan dan bergaul lagi.
Prestasi sekolah menurun tajam atau malah tidak mau pergi sekolah.
Ini semua merupakan pertanda diperlukannya bantuan profesional. Psikolog atau psikiater anak bisa membantu anak ini untuk menerima kematian dan membantu keluarga dan kerabat lainnya supaya bisa menolong anak ini melewati proses berduka.
Mengatasi Rasa Bersalah pada Anak-anak
Rasa bersalah merupakan reaksi khas terhadap kematian, pada umur berapa pun, sehingga orangtua musti berhati-hati untuk tidak meremehkannya. Perasaan ini bisa sangat mempengaruhi kemampuan anak mengekspresikan dirinya dan untuk sembuh dari pikiran yang menyakitkan itu.
Orangtua musti menyadari bahwa pikiran anak bahwa ia “bertanggungjawab” atas kematian seseorang jangan sampai diabaikan begitu saja. Ungkapan mereka semacam itu musti didengar baik-baik, lalu menenangkan mereka bahwa kematian itu bukan kesalahan mereka. Orangtua juga musti mendorong anak untuk mengeluarkan seluruh perasaannya dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang memungkinkan dialog berlanjut.
Jawaban orangtua seperti “jangan aneh-aneh” atau “jangan salahkan dirimu” hanya akan membuat anak menyembunyikan rasa sakitnya. Pernyataan seperti itu sama sekali tidak akan meyakinkan anak bahwa ia bebas dari kesalahan.
Kehilangan adalah bagian integral proses kematangan anak. Tanpanya, kita akan gagal membangun fungsi mekanisma untuk mengatasi persoalan yang penting dalam membawa kita melewati berbagai krisis kehidupan.
Ingat, sebagai orang dewasa, kita memiliki kriteria yang berbeda dalam menghadapi kematian dan duka dibandingkan anak-anak atau remaja. Sebagian orangtua mungkin merasa kalau anaknya tidak berduka “secara normal.” Kenormalan ini tak bisa diukur dengan memakai penggaris orang dewasa, tapi harus disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan anak. DB
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D
Untuk konsultasi dan permintaan seminar – workshop, silahkan menghubungi Intan di 0813-1641-0088.
Ketika terjadi kematian anggota keluarga, anak-anak sering menanggapinya dalam cara yang tidak terduga, membuat orang-orang dewasa bingung dan ragu-ragu bagaimana mendekati mereka untuk membantu mereka mengatasi rasa dukanya. Karena anak-anak yang masih kecil kurang bisa menangkap konsep-konsep abstrak, kebanyakan psikolog perkembangan menganggap anak-anak yang umurnya kurang dari dua tahun belum bisa memahami konsep kematian.
Orangtua yang khawatir bagaimana mengatasi duka anak-anak musti memahami tahap-tahap perkembangan setiap anaknya. Lebih baik menjawab hanya pertanyaan yang anak-anak ajukan. Kita terlalu sering menganggap anak-anak meminta informasi lebih banyak daripada yang bisa mereka cerna. Seperti orangtua dari anak perempuan berumur enam tahun yang bertanya, “dari mana asalku?” Setelah menjelaskan panjang lebar bagaimana bayi berkembang dari satu benih kecil, anak itu dengan wajah polosnya menukas, “Oh aku pikir kita berasal dari Surabaya!”
Ungkapkan kebenaran kepada anak-anak. Bersikap terbuka. Yakinkan bahwa Anda selalu ada pada saat mereka membutuhkan. Dengarkan pertanyaan mereka dengan awas. Kemudian jawab dengan ringkas dan jujur. Kalau anak puas dengan jawaban itu, tunggulah sampai ia bertanya lebih lanjut sebelum Anda mengelaborasi lebih dalam. Dengan cara ini anak akan memperoleh pengetahuan sesuai kesiapannya dan ia akan mulai mengumpulkan informasi yang bisa membantunya membentuk konsep kematian.
Jangan takut mengungkapan duka Anda di depan anak-anak. Menyembunyikan perasaan duka hanya akan membuat anak-anak merasa bahwa mengekspresikan kesedihan merupakan hal yang tidak pantas atau tidak baik. Kesedihan, kemarahan, rasa bersalah dan kesepian adalah perasaan yang sangat wajar muncul setelah kita kehilangan orang tercinta. Jika anak-anak tumbuh berkembang dengan melihat ekspresi perasaan-perasaan itu, maka mereka nantinya juga akan bisa menunjukkan perasaan itu secara normal dan alamiah.
Kematian di Mata Anak Prasekolah
Ketika anak-anak berangkat besar dan belajar kecakapan-kecakapan baru, persepsi mereka terhadap kematian pun ikut berubah. Misalnya, anak-anak prasekolah yang berumur 3-5 tahun biasanya belum tahu kalau kematian bersifat final. Mereka masih menganggapnya sebagai kehidupan yang berlanjut, bertahap atau sementara. Mereka percaya kalau orang itu sudah pergi tapi hidup berlanjut seakan orang lain. Orang yang mati dianggapnya hidup di tempat lain seperti “surga,” “kuburan” atau “tempat yang jauh.” Anak-anak prasekolah biasanya menganggap kematian bisa dibalikkan – suatu keyakinan yang diperkuat oleh tokoh-rokoh kartun yang “mati” dan “hidup” lagi.
Pada umur ini, kecemasan, kalau ada, adalah karena perpisahan dan bukan karena mengetahui finalitas kematian. Kebanyakan anak prasekolah ini sudah puas dengan penjelasan sederhana di mana orang yang meninggal itu tinggal. Mereka punya kesadaran bahwa kehidupan orang itu sudah habis tapi dibandingkannya dengan orang tidur.
Personifikasi Kematian Menurut Anak Umur 5-9 Tahun
Antara umur 5-9 tahun, anak-anak mulai bisa mempersonifikasi kematian. Anak-anak pada tahap ini cenderung memandang kematian sebagai orang yang terpisah, misalnya sebagai “malaikat”, “tulang belulang,” dsb. Mereka tahu kalau kematian bersifat final, tapi mereka menganggapnya tidak berlaku umum. Dengan kata lain, mereka pikir kalau Anda berlari lebih cepat, atau “mengakali si pencabut nyawa” maka kita bisa menghindari kematian. Mereka juga percaya bahwa kematian itu tidak akan terjadi pada dirinya atau orang-orang yang dikenalnya.
Persepsi Finalitas Kematian pada Anak Berumur 10 tahun
Setelah lebih dari 10 tahun, anak-anak bukan hanya memahami kalau kematian itu final, tapi juga tidak bisa dielakkan. Konotasi kematian pada umur ini, pra-remaja, biasanya adalah kesedihan dan takut akan agresi. Kematian dianggap terutama sebagai perpisahan dan kesendirian atau takut akan tindakan kekerasan seseorang.
Pada tahap ini, fantasi atau magis mewarnai pikiran mereka mengenai kematian. Anak cenderung percaya bahwa berbagai kejadian berlangsung dalam cara tertentu karena pikiran seseorang. Misalnya, kalau dua orang anak bermain-main di pinggir jalan lalu salah seorang di antara mereka terserempet mobil, maka anak yang selamat akan punya perasaan bahwa dirinyalah yang menjadi penyebab kecelakaan itu. Begitu pula, jika salah seorang saudara kandungnya meninggal, anak sering percaya bahwa hal itu terjadi karena pikirannya atau karena ia telah berbuat nakal sehingga kakak/adiknya mati.
Bagaimana Reaksi “Normal” Anak pada Kematian
Anak-anak yang saudara atau orangtuanya meninggal akan sangat terkejut dan bingung. Apalagi, biasanya, pada saat itu tidak ada anggota keluarga yang bisa membantu mereka karena semuanya sama-sama terkejut dan berduka sehingga tak mampu bertanggungjawab merawat anak-anak seperti biasanya.
Orangtua musti menyadari respon normal anak-anak terhadap kematian di dalam keluarganya, serta tanda-tanda bahaya. Menurut para psikolog anak dan remaja, relatif normal kalau sampai beberapa minggu setelah kematian keluarganya, anak-anak menganggap anggota keluarganya itu masih hidup. Namun kalau sampai berbulan-bulan anak ini masih menolak kematian itu atau menghindari rasa duka itu merupakan respon yang tidak sehat dan bisa menjadi gangguan yang lebih berat.
Seorang anak yang takut menghadiri upacara pemakaman jangan dipaksa untuk pergi. Namun sebaiknya ia mengikuti kegiatan kebaktian atau berdoa bersama, salat jenasah atau salat ghoib. Ia bisa ikut menyalakan lilin, berdoa atau mengunjungi tempat pemakaman.
Begitu anak-anak bisa menerima kematian, mereka akan menunjukkan perasaan sedih berulang kali dalam rentang waktu yang sangat panjang, dan acapkali pada saat-saat yang tidak terduga. Kerabat yang masih hidup musti meluangkan banyak waktu bersama dengan anak ini untuk meyakinkan bahwa ia bisa mengungkapkan perasaan-perasaannya secar terbuka dan bebas.
Jika orang yang telah mati memiliki posisi penting dalam stabilitas dunia anak-anak, reaksi alamiah anak-anak adalah marah. Kemarahan ini bisa ditunjukkan dalam permainan yang riuh, mimpi buruk, amok atau banyak perilaku lainnya. Tidak jarang anak ini marah kepada anggota keluarga yang masih hidup.
Setelah salah seorang atau kedua orangtuanya wafat, banyak anak bertingkah lebih muda daripada seharusnya alias kekanak-kanakan atau kebayi-bayian. Untuk sementara ia menjadi “bayi” kembali, minta disuapi, diberi perhatian berlebih, dielus, dan bicara seperti bayi.
Anak-anak yang masih kecil biasanya meyakini kalau merekalah penyebab apa yang terjadi di sekitar mereka. Anak kecil mungkin percaya kalau orangtua, kakek-nenek, atau saudaranya meninggal karena ia pernah “berharap” orang itu mati. Anak ini merasa bersalah karena keinginannya “menjadi kenyataan.”
Tanda-tanda Bahaya
Karena itu, orangtua musti mewaspadai tanda-tanda bahaya seperti di bawah ini”
Masa depresi yang terlalu lama, di mana anak kehilangan minat pada kegiatan dan kejadian sehari-hari.
Sulit tidur, tidak berselera makan, terus menerus takut sendirian untuk waktu yang lama.
Bertingkah kebayi-bayian dalam waktu yang sangat lama.
Berlebihan menirukan orang yang meninggal. Mengulang-ulang pernyataan ingin ikut orang yang wafat.
Tidak mau berkawan dan bergaul lagi.
Prestasi sekolah menurun tajam atau malah tidak mau pergi sekolah.
Ini semua merupakan pertanda diperlukannya bantuan profesional. Psikolog atau psikiater anak bisa membantu anak ini untuk menerima kematian dan membantu keluarga dan kerabat lainnya supaya bisa menolong anak ini melewati proses berduka.
Mengatasi Rasa Bersalah pada Anak-anak
Rasa bersalah merupakan reaksi khas terhadap kematian, pada umur berapa pun, sehingga orangtua musti berhati-hati untuk tidak meremehkannya. Perasaan ini bisa sangat mempengaruhi kemampuan anak mengekspresikan dirinya dan untuk sembuh dari pikiran yang menyakitkan itu.
Orangtua musti menyadari bahwa pikiran anak bahwa ia “bertanggungjawab” atas kematian seseorang jangan sampai diabaikan begitu saja. Ungkapan mereka semacam itu musti didengar baik-baik, lalu menenangkan mereka bahwa kematian itu bukan kesalahan mereka. Orangtua juga musti mendorong anak untuk mengeluarkan seluruh perasaannya dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang memungkinkan dialog berlanjut.
Jawaban orangtua seperti “jangan aneh-aneh” atau “jangan salahkan dirimu” hanya akan membuat anak menyembunyikan rasa sakitnya. Pernyataan seperti itu sama sekali tidak akan meyakinkan anak bahwa ia bebas dari kesalahan.
Kehilangan adalah bagian integral proses kematangan anak. Tanpanya, kita akan gagal membangun fungsi mekanisma untuk mengatasi persoalan yang penting dalam membawa kita melewati berbagai krisis kehidupan.
Ingat, sebagai orang dewasa, kita memiliki kriteria yang berbeda dalam menghadapi kematian dan duka dibandingkan anak-anak atau remaja. Sebagian orangtua mungkin merasa kalau anaknya tidak berduka “secara normal.” Kenormalan ini tak bisa diukur dengan memakai penggaris orang dewasa, tapi harus disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan anak. DB
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D
Untuk konsultasi dan permintaan seminar – workshop, silahkan menghubungi Intan di 0813-1641-0088.
Pasca Bencana: Memahami Pengalaman Berduka
Pasca Bencana:
Memahami Pengalaman Berduka
Apabila seseorang mati mendadak, entah akibat bencana alam, kecelakaan, pembunuhan, bunuh diri, atau sakit non-kronis, pasti ada orang-orang dekatnya, dari anak-anak sampai orangtua yang akan sangat terpengaruh oleh kematian itu. Kematian itu bukan hanya sama sekali tidak diharapkan, tapi juga menabrak pengertian kita tentang apa yang benar atau normal. Berbeda dengan kematian akibat kanker, stroke atau kondisi jantung yang sakit-sakitan, sifat penyakit ini membuat kita lebih siap menerima apa yang bakal terjadi. Lagipula, biasanya anggota keluarga yang telah renta yang menderita penyakit seperti itu. Meskipun begitu, kematian orang yang kita cintai tetap menimbulkan shock, bahkan jika kita sudah memperoleh tanda-tanda peringatannya.
Meskipun manusia adalah makhluk cerdas dan mampu mengendalikan banyak aspek kehidupan, akan tetapi tetap banyak yang tidak kita ketahui soal emosi manusia, cara kerja pikiran, atau peran ‘keberuntungan’ dan ‘peluang’ dalam kehidupan kita.
Akibatnya, nyaris tidak mungkin menjelaskan kepada ibu atau ayah yang berduka mengapa anak perempuan atau lelakinya – yang ia harapkan berumur lebih panjang daripada dirinya – ternyata dipanggil Tuhan telebih dahulu. Namun kita bisa memahami pengalaman berduka. Kita tahu, misalnya, bagaimana biasanya seseorang bereaksi sewaktu diberitahu kalau orang yang dicintainya telah mati.
Shock
Pada awalnya, reaksi terkejut ini merupakan puncak dari ketidakpercayaan. Pikirannya menolak berita yang tidak bisa diterima itu. Orang yang ditinggal mati secara emosional merasa kebas, sehingga wajar saja jika seorang ibu bahkan tidak menangis sama sekali atas kematian anaknya.
Marah
Reaksi berikutnya bisa berupa kemarahan. Sering kali orang-orang yang ditinggal mati mengungkapkan rasa marah yang tak bisa ditenangkan terhadap beberapa orang yang dianggapnya bertanggung jawab atas kematian orang yang dicintainya: entah dokter yang “tidak becus”, sopir yang “ceroboh”, atau teman yang “tidak peduli.” Bahkan Tuhan bisa disalahkan karena membiarkan tragedi seperti itu terjadi.
Pada saat yang sama, orang ini juga bisa marah pada diri sendiri. Ia ingin menghukum dirinya, bahkan sampai taraf luka berat atau mati. Kemarahan adalah perasaan yang sangat kuat dan acap tidak terkendali. Kemarahan ini kadang-kadang juga ditujukan pada orang yang meninggal. Kemarahan adalah salah satu aspek pengalaman berduka yang sulit bagi orang yang ditinggal mati.
Rasa Bersalah
Reaksi lain yang sering dialami oleh orang yang ditinggal mati adalah merasa bertanggung jawab atas kematian tersebut. Rasa bersalah yang tidak rasional ini bisa menerpa penduka dalam gelombang yang bertubi-tubi. Seorang ibu, misalnya, merasa bertanggung jawab atas kematian anaknya yang berada ribuan kilometer dari rumah. Atau ibu lain yang sudah menyimpan cairan pembersih lantai dengan sangat hati-hati, namun masih bisa ditemukan oleh anaknya yang kemudian bermain-main dengannya sehingga keracunan.
Malu
Dalam kasus bunuh diri, rasa bersalah itu juga bisa disertai dengan banjir rasa malu. Bunuh diri seorang anak atau pasangan hidup bisa diartikan secara tersirat, bahkan tersurat, sebagai tindakan penolakan. Ia dihadapkan pada kenyataan bahwa orang yang mati lebih suka mengakhiri hidupnya daripada meneruskan hidup dengannya. Hal ini membuat orang yang ditinggal merasa sangat malu dan kehilangan harga dirinya.
Preokupasi
Aspek kelima berduka yang sudah bisa diidentifikasi adalah keinginan orang-orang yang ditinggal – suami/istri, orangtua, kakak-adik – untuk menjelaskan dan menerangkan secara terinci segala hal seputar kematian itu. Setiap kali ada tamu datang, mereka mebulangi lagi keterangan itu, tanpa pernah letih. Ini adalah reaksi penting terhadap kehilangan ini, meski sering diabaikan dan kadang-kadang ditahan-tahan. Padahal ini adalah bagian dari proses berduka di mana orang-orang yang ditinggal mau mengakui dan menerima apa yang telah terjadi.
Gampang Dirayu
Ciri lain orang yang berduka adalah sangat mudah dibujuk atau dipengaruhi. Saya pernah melihat betapa seorang janda di Aceh, pasca tsunami, dengan mudah diminta untuk menjual lahan yang lebih luas dari masjid raya hanya seharga beberapa juta Rupiah. Atas nasehat keluarga atau teman, mereka dengan gampang menjual rumahnya utnuk pindah ke kota lain. Banyak duda segera kawin kembali setelah kematian istrinya. Berbagai keputusan besar yang tergesa-gesa ini bisa menambah bebannya sendiri di kemudian hari. Kerabat dan saudaranya musti memperhatikan hal ini untuk mengurangi potensi persoalan dan banyak kesulitan akibat ketergantungan dan kerentanan ini.
Mimpi Buruk
Aspek lain dari kehilangan orang yang dicintai secara mendadak adalah gangguan perilaku berupa serentetan mimpi buruk atau mimpi yang begitu nyata. Meski sangat melelahkan dan bahkan menakutkan, namun dalam banyak kasus, mimpi-mimpi pelahan-lahan akan hilang dengan sendirinya. Jika berlangsung terus sampai berbulan-bulan, perlu segera meminta bantuan psikoterapi.
Halusinasi
Orang yang berduka juga bisa terganggu oleh halusinasi yang dialaminya. Ia seperti “mendengar” dan “melihat” keberadaan orang yang telah meninggal. Banyak janda yang masih mengalami halusinasi ini sampai sepuluh bahkan belasan tahun setelah kematian suaminya. Namun tidak sedikit pula penelitian yang membuktikan bahwa pengalaman seperti itu malah menimbulkan rasa tenang dan tentram. Akan tetapi bagi orang yang tidak terbiasa menghadapi proses mental seperti itu, “kedatangan” atau “penampakan” orang yang telah meninggal – yang sesungguhnya adalah halusinasi – itu bisa sangat mengganggu, bahkan ada yang percaya kalau dirinya sudah gila. Pada umumnya, halusinasi ini, seperti mimpi yang begitu terang, akan hilang dengan sendirinya.
Perubahan Perilaku
Yang jauh lebih jamak terjadi adalah perubahan perilaku secara mendadak. Perubahan itu termasuk sulit tidur (insomnia); tak berselera makan; frekuensi merokok atau minum alkohol meningkat; tindakan atau ucapan yang diulang-ulang; keputusan impulsif seperti keluar dari pekerjaan atau memutuskan persahabatan yang sudah sangat lama; terus menerus marah atau ledakan perasaan; tindakan kekerasan terhadap keluarga, teman atau bahkan orang yang tak dikenal. Mereka yang ditinggalkan musti menyadari kemungkinan munculnya perilaku seperti itu dan seberapa besar taraf kenormalannya. Mereka juga musti waspada jika tingkah seperti itu mengancam melukai diri sendiri maupun orang lain. Jika berlanjut cukup lama, segeralah periksakan diri kepada psikoterapis.
Media Berita
Seringkali, dalam kasus-kasus kematian mendadak yang tak terduga-duga, khususnya yang bersifat tidak alamiah – bunuh diri, pembunuhan, kecelakaan atau bencana – lembaga-lembaga publik dan media massa menerobos masuk ke dalam kehidupan keluarga yang ditinggalkan. Padahal mereka sedang mengalami trauma dan luka kejiwaan. Mustinya lembaga semacam ini lebih memperhatikan privasi, martabat dan proses duka keluarga yang ditinggalkan. Perilaku wartawan dan kamerawan kerap tidak peka dan malah menimbulkan kerusakan psikis tambahan. Biasanya mereka hanya memuncakkan kesedihan orang-orang yang ditinggal mati. Begitu pula dengan para pejabat publik yang bermaksud baik, yang tugasnya menyelidiki hal-hal seputar kematian itu, musti bersikap hati-hati. Satu tindakan, gerak tubuh atau bahkan intonasi suara yang tersirat menyalahkan keluarga yang ditinggalkan atas kematian itu hanya akan menambah beban kehilangan tersebut.
Mengatasi Duka
Apa yang bisa dilakukan jika tragedi kematian menyerang? Ini adalah saat ketika orang yang berduka membutuhkan dukungan teman-teman, anggota keluarga lainnya, ulama atau pendeta, dan mungkin dokter atau psikolog. Namun, ini juga sekaligus saat-saat di mana dukungan dan bantuan itu besar kemungkinan ditolak oleh si penduka. Padahal ia mustinya berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi dorongan menolak bantuan itu dan menyadari betapa berharganya bantuan orang luar ini, baik untuk jangka pendek maupun panjang.
Sebaliknya, saudara, kawan atau perawat musti terus mendampingi orang yang berduka ini dan membantu mereka kapan pun memungkinkan, bahkan meski harus menghadapi protes dan kemarahan. Berduka, seperti telah kita pelajari bersama, merupakan pengalaman emosional yang begitu menggunung untuk bisa dianggap sebagai soal pribadi. DB
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D
– psikoanalis, konselor dan konsultan komunikasi strategis.
Untuk konsultasi dan permintaan seminar – workshop, silahkan menghubungi Intan di 0813-1641-0088.
Memahami Pengalaman Berduka
Apabila seseorang mati mendadak, entah akibat bencana alam, kecelakaan, pembunuhan, bunuh diri, atau sakit non-kronis, pasti ada orang-orang dekatnya, dari anak-anak sampai orangtua yang akan sangat terpengaruh oleh kematian itu. Kematian itu bukan hanya sama sekali tidak diharapkan, tapi juga menabrak pengertian kita tentang apa yang benar atau normal. Berbeda dengan kematian akibat kanker, stroke atau kondisi jantung yang sakit-sakitan, sifat penyakit ini membuat kita lebih siap menerima apa yang bakal terjadi. Lagipula, biasanya anggota keluarga yang telah renta yang menderita penyakit seperti itu. Meskipun begitu, kematian orang yang kita cintai tetap menimbulkan shock, bahkan jika kita sudah memperoleh tanda-tanda peringatannya.
Meskipun manusia adalah makhluk cerdas dan mampu mengendalikan banyak aspek kehidupan, akan tetapi tetap banyak yang tidak kita ketahui soal emosi manusia, cara kerja pikiran, atau peran ‘keberuntungan’ dan ‘peluang’ dalam kehidupan kita.
Akibatnya, nyaris tidak mungkin menjelaskan kepada ibu atau ayah yang berduka mengapa anak perempuan atau lelakinya – yang ia harapkan berumur lebih panjang daripada dirinya – ternyata dipanggil Tuhan telebih dahulu. Namun kita bisa memahami pengalaman berduka. Kita tahu, misalnya, bagaimana biasanya seseorang bereaksi sewaktu diberitahu kalau orang yang dicintainya telah mati.
Shock
Pada awalnya, reaksi terkejut ini merupakan puncak dari ketidakpercayaan. Pikirannya menolak berita yang tidak bisa diterima itu. Orang yang ditinggal mati secara emosional merasa kebas, sehingga wajar saja jika seorang ibu bahkan tidak menangis sama sekali atas kematian anaknya.
Marah
Reaksi berikutnya bisa berupa kemarahan. Sering kali orang-orang yang ditinggal mati mengungkapkan rasa marah yang tak bisa ditenangkan terhadap beberapa orang yang dianggapnya bertanggung jawab atas kematian orang yang dicintainya: entah dokter yang “tidak becus”, sopir yang “ceroboh”, atau teman yang “tidak peduli.” Bahkan Tuhan bisa disalahkan karena membiarkan tragedi seperti itu terjadi.
Pada saat yang sama, orang ini juga bisa marah pada diri sendiri. Ia ingin menghukum dirinya, bahkan sampai taraf luka berat atau mati. Kemarahan adalah perasaan yang sangat kuat dan acap tidak terkendali. Kemarahan ini kadang-kadang juga ditujukan pada orang yang meninggal. Kemarahan adalah salah satu aspek pengalaman berduka yang sulit bagi orang yang ditinggal mati.
Rasa Bersalah
Reaksi lain yang sering dialami oleh orang yang ditinggal mati adalah merasa bertanggung jawab atas kematian tersebut. Rasa bersalah yang tidak rasional ini bisa menerpa penduka dalam gelombang yang bertubi-tubi. Seorang ibu, misalnya, merasa bertanggung jawab atas kematian anaknya yang berada ribuan kilometer dari rumah. Atau ibu lain yang sudah menyimpan cairan pembersih lantai dengan sangat hati-hati, namun masih bisa ditemukan oleh anaknya yang kemudian bermain-main dengannya sehingga keracunan.
Malu
Dalam kasus bunuh diri, rasa bersalah itu juga bisa disertai dengan banjir rasa malu. Bunuh diri seorang anak atau pasangan hidup bisa diartikan secara tersirat, bahkan tersurat, sebagai tindakan penolakan. Ia dihadapkan pada kenyataan bahwa orang yang mati lebih suka mengakhiri hidupnya daripada meneruskan hidup dengannya. Hal ini membuat orang yang ditinggal merasa sangat malu dan kehilangan harga dirinya.
Preokupasi
Aspek kelima berduka yang sudah bisa diidentifikasi adalah keinginan orang-orang yang ditinggal – suami/istri, orangtua, kakak-adik – untuk menjelaskan dan menerangkan secara terinci segala hal seputar kematian itu. Setiap kali ada tamu datang, mereka mebulangi lagi keterangan itu, tanpa pernah letih. Ini adalah reaksi penting terhadap kehilangan ini, meski sering diabaikan dan kadang-kadang ditahan-tahan. Padahal ini adalah bagian dari proses berduka di mana orang-orang yang ditinggal mau mengakui dan menerima apa yang telah terjadi.
Gampang Dirayu
Ciri lain orang yang berduka adalah sangat mudah dibujuk atau dipengaruhi. Saya pernah melihat betapa seorang janda di Aceh, pasca tsunami, dengan mudah diminta untuk menjual lahan yang lebih luas dari masjid raya hanya seharga beberapa juta Rupiah. Atas nasehat keluarga atau teman, mereka dengan gampang menjual rumahnya utnuk pindah ke kota lain. Banyak duda segera kawin kembali setelah kematian istrinya. Berbagai keputusan besar yang tergesa-gesa ini bisa menambah bebannya sendiri di kemudian hari. Kerabat dan saudaranya musti memperhatikan hal ini untuk mengurangi potensi persoalan dan banyak kesulitan akibat ketergantungan dan kerentanan ini.
Mimpi Buruk
Aspek lain dari kehilangan orang yang dicintai secara mendadak adalah gangguan perilaku berupa serentetan mimpi buruk atau mimpi yang begitu nyata. Meski sangat melelahkan dan bahkan menakutkan, namun dalam banyak kasus, mimpi-mimpi pelahan-lahan akan hilang dengan sendirinya. Jika berlangsung terus sampai berbulan-bulan, perlu segera meminta bantuan psikoterapi.
Halusinasi
Orang yang berduka juga bisa terganggu oleh halusinasi yang dialaminya. Ia seperti “mendengar” dan “melihat” keberadaan orang yang telah meninggal. Banyak janda yang masih mengalami halusinasi ini sampai sepuluh bahkan belasan tahun setelah kematian suaminya. Namun tidak sedikit pula penelitian yang membuktikan bahwa pengalaman seperti itu malah menimbulkan rasa tenang dan tentram. Akan tetapi bagi orang yang tidak terbiasa menghadapi proses mental seperti itu, “kedatangan” atau “penampakan” orang yang telah meninggal – yang sesungguhnya adalah halusinasi – itu bisa sangat mengganggu, bahkan ada yang percaya kalau dirinya sudah gila. Pada umumnya, halusinasi ini, seperti mimpi yang begitu terang, akan hilang dengan sendirinya.
Perubahan Perilaku
Yang jauh lebih jamak terjadi adalah perubahan perilaku secara mendadak. Perubahan itu termasuk sulit tidur (insomnia); tak berselera makan; frekuensi merokok atau minum alkohol meningkat; tindakan atau ucapan yang diulang-ulang; keputusan impulsif seperti keluar dari pekerjaan atau memutuskan persahabatan yang sudah sangat lama; terus menerus marah atau ledakan perasaan; tindakan kekerasan terhadap keluarga, teman atau bahkan orang yang tak dikenal. Mereka yang ditinggalkan musti menyadari kemungkinan munculnya perilaku seperti itu dan seberapa besar taraf kenormalannya. Mereka juga musti waspada jika tingkah seperti itu mengancam melukai diri sendiri maupun orang lain. Jika berlanjut cukup lama, segeralah periksakan diri kepada psikoterapis.
Media Berita
Seringkali, dalam kasus-kasus kematian mendadak yang tak terduga-duga, khususnya yang bersifat tidak alamiah – bunuh diri, pembunuhan, kecelakaan atau bencana – lembaga-lembaga publik dan media massa menerobos masuk ke dalam kehidupan keluarga yang ditinggalkan. Padahal mereka sedang mengalami trauma dan luka kejiwaan. Mustinya lembaga semacam ini lebih memperhatikan privasi, martabat dan proses duka keluarga yang ditinggalkan. Perilaku wartawan dan kamerawan kerap tidak peka dan malah menimbulkan kerusakan psikis tambahan. Biasanya mereka hanya memuncakkan kesedihan orang-orang yang ditinggal mati. Begitu pula dengan para pejabat publik yang bermaksud baik, yang tugasnya menyelidiki hal-hal seputar kematian itu, musti bersikap hati-hati. Satu tindakan, gerak tubuh atau bahkan intonasi suara yang tersirat menyalahkan keluarga yang ditinggalkan atas kematian itu hanya akan menambah beban kehilangan tersebut.
Mengatasi Duka
Apa yang bisa dilakukan jika tragedi kematian menyerang? Ini adalah saat ketika orang yang berduka membutuhkan dukungan teman-teman, anggota keluarga lainnya, ulama atau pendeta, dan mungkin dokter atau psikolog. Namun, ini juga sekaligus saat-saat di mana dukungan dan bantuan itu besar kemungkinan ditolak oleh si penduka. Padahal ia mustinya berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi dorongan menolak bantuan itu dan menyadari betapa berharganya bantuan orang luar ini, baik untuk jangka pendek maupun panjang.
Sebaliknya, saudara, kawan atau perawat musti terus mendampingi orang yang berduka ini dan membantu mereka kapan pun memungkinkan, bahkan meski harus menghadapi protes dan kemarahan. Berduka, seperti telah kita pelajari bersama, merupakan pengalaman emosional yang begitu menggunung untuk bisa dianggap sebagai soal pribadi. DB
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D
– psikoanalis, konselor dan konsultan komunikasi strategis.
Untuk konsultasi dan permintaan seminar – workshop, silahkan menghubungi Intan di 0813-1641-0088.
Subscribe to:
Posts (Atom)






